Mengapa Anemia pada Ibu Hamil Berbahaya?

Oleh dr. Devia Irine Putri pada 09 Mar 2019, 11:00 WIB
Anemia pada ibu hamil adalah salah satu risiko yang harus diwaspadai karena bisa memengaruhi kesehatan ibu dan janin.
Mengapa Anemia pada Ibu Hamil Berbahaya? (Comzeal Images/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Anemia merupakan salah satu masalah kesehatan yang kerap dialami ibu hamil. Meski banyak dialami, anemia pada ibu hamil tidak boleh disepelekan karena dapat menimbulkan gangguan kesehatan serius pada janin dan ibu.

Menurut World Health Organization (WHO), anemia dalam kehamilan didefinisikan sebagai kadar hemoglobin yang kurang dari 11 g/dL. Berdasarkan data WHO, prevalensi terjadinya anemia pada seluruh populasi menyentuh angka 41,8 persen. Adapun di Indonesia, berdasarkan data Riskedas 2013, prevalensi ibu hamil yang mengalami anemia cukup tinggi, yaitu 37,1 persen.

Penyebab seorang ibu hamil mengalami anemia terutama di negara berkembang seperti Indonesia sangat beraneka ragam. Mulai dari kondisi kurang gizi atau malnutrisi; kurang asupan zat besi, asam folat, dan vitamin yang cukup selama kehamilan; serta banyaknya infeksi seperti malaria, cacingan, dan tuberkulosis yang dapat menyerang kapan saja.

Anemia dalam kehamilan dapat menimbulkan gejala yang ringan dan terkadang tidak disadari. Akan tetapi, jika dibiarkan berlarut-larut dan cenderung bertambah berat, gejala yang muncul dapat bervariasi.

Beberapa tanda dan gejala anemia yang perlu Anda ketahui antara lain:

  • Merasa badan mudah lemas
  • Pucat pada tubuh, terutama dapat dilihat di kulit, kuku, dan bibir
  • Tidak nafsu makan
  • Sulit berkonsentrasi
  • Tangan dan kaki terasa dingin
  • Dapat disertai dengan sesak
  • Pusing, mata berkunang-kunang
1 of 2

Risiko anemia saat kehamilan

Bila anemia pada ibu hamil tidak ditangani, akibatnya bisa buruk. Mulai dari risiko keguguran, melahirkan bayi secara prematur, dan melahirkan bayi dengan berat badan yang rendah dapat meningkat.

Bayi yang lahir prematur dan memiliki berat badan lahir rendah tentu meningkatkan risiko kematian bayi. Itu karena sistem imun bayi belum sempurna dan mungkin masih ada organ yang belum terbentuk sempurna.

Selain menyebabkan masalah pada janin, anemia saat hamil juga meningkatkan angka kematian pada ibu. Kondisi ini dapat disebabkan adanya perdarahan antepartum (perdarahan dari jalan lahir setelah usia kehamilan 29 minggu atau lebih) maupun postpartum (perdarahan yang terjadi setelah kelahiran).

Perdarahan ini terjadi karena ibu mudah mengalami kelelahan otot saat proses bersalin atau tidak adanya kontraksi otot rahim. Perdarahan yang berlanjut dapat mengarah ke kondisi syok yang sangat mengancam jiwa.

Untuk mencegah anemia saat kehamilan, Anda dapat mengonsumsi vitamin selama masa kehamilan yang mengandung zat besi dan campuran vitamin lainnya. Vitamin yang dikonsumsi selama Anda mempersiapkan kehamilan dan saat Anda hamil dipercaya dapat membantu memenuhi kebutuhan zat besi dalam tubuh.

Selain dari vitamin, Anda juga dapat mengonsumsi makanan yang banyak mengandung zat besi dalam menu sehari-hari. Anda cukup menambahkan beberapa jenis makanan yang kaya akan zat besi, seperti telur; daging merah seperti daging sapi; sayuran hijau seperti brokoli, kale, bayam, kacang-kacangan, dan tahu.

Bersamaan dengan makanan yang mengandung zat besi, Anda bisa mengonsumsi sumber vitamin C yang berguna untuk mengoptimalkan penyerapan zat besi di dalam tubuh. Makanan yang kaya vitamin C dapat Anda jumpai dalam bentuk buah-buahan, seperti jeruk, stroberi, tomat, dan kiwi.

Anemia dalam kehamilan merupakan keadaan yang berbahaya bagi ibu hamil dan janin yang dikandung. Oleh sebab itu, lakukan kunjungan antenatal care (pemeriksaan kehamilan) secara rutin di fasilitas kesehatan terdekat. Dengan ini, Anda dapat memantau kesehatan ibu dan janin sehingga masalah sekecil apa pun dapat segera ditangani.

[HNS/ RH]

Lanjutkan Membaca ↓