Amankah Vaksin Difteri untuk Ibu Hamil?

Oleh dr. Sara Elise Wijono MRes pada 09 Mar 2019, 08:00 WIB
Difteri bisa menjadi penyakit mematikan, tapi bisa dicegah dengan vaksin. Amankah vaksin difteri diberikan untuk ibu hamil?
Amankah Vaksin Difteri untuk Ibu Hamil? (Africa Studio/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Difteri merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi bakteri Corynebacterium diphteriae. Sempat menjadi wabah tahun 2017, difteri diketahui dapat menyebabkan komplikasi yang serius yang bisa sebabkan kematian. Kabar baiknya, pencegahan difteri sangat mudah, yaitu dengan vaksin. Namun, apakah vaksin boleh diberikan untuk ibu hamil?

Sebelum menjawab pertanyaan di atas, baik mengetahui lebih dalam mengenai penyakit difteri itu sendiri. Saat seseorang terinfeksi, maka bakteri penyebab difteri akan masuk dan menempel di saluran pernapasan serta memproduksi racun. Akibatnya, dapat muncul demam, rasa lemas pada tubuh, nyeri tenggorokan, serta pembengkakan kelenjar di area leher.

Selain itu, racun akan membunuh jaringan di sekitar saluran pernapasan. Jaringan yang mati ini akan membentuk lapisan tebal berwarna abu-abu yang dikenal dengan pseudomembran. Lapisan ini bisa ditemukan pada hidung, tonsil, pita suara, dan tenggorokan, serta menyebabkan kesulitan bernapas dan menelan. Racun ini juga dapat masuk ke dalam aliran darah dan menyebabkan kerusakan jantung, ginjal, dan saraf.

Berbagai efek merugikan dari infeksi difteri dapat berakibat fatal bagi penderitanya. Bahkan, dengan perawatan yang sesuai pun, kurang lebih 10 persen penderita difteri akan meninggal dunia. Nah, cara terbaik untuk melindungi diri dari infeksi difteri adalah dengan vaksinasi.

Umumnya, vaksinasi difteri sudah diberikan sejak bayi dalam bentuk vaksin DPT. Vaksin ini memberikan perlindungan terhadap penyakit difteri, pertusis, dan tetanus. Lantas, bagaimana jika Anda belum vaksin difteri dan sedang dalam kondisi hamil, apakah tetap boleh vaksin?

Vaksin difteri untuk ibu hamil, aman atau tidak?

Bagi ibu hamil, vaksin yang direkomendasikan adalah TdaP. Vaksin ini berisi tetanus toksoid, toksoid difteri yang dikurangi, serta pertusis aselular.

Penyakit pertusis, atau dikenal juga dengan batuk rejan, juga merupakan penyakit menular yang disebabkan infeksi bakteri, yaitu bakteri Bordetella pertussis. Penyakit ini menyebabkan batuk yang keras dan tidak terkontrol, sehingga menyebabkan penderitanya mengalami kesulitan bernapas. Pertusis merupakan penyakit serius, bahkan dapat menyebabkan kematian terutama pada anak di bawah satu tahun.

Penyakit tetanus pun merupakan penyakit infeksius yang disebabkan oleh bakteri Clostridium tetani. Di dalam tubuh, bakteri ini menghasilkan racun yang menyebabkan terjadinya kontraksi otot yang menyakitkan. Penyakit ini sering kali menyebabkan otot di area leher dan rahang ‘terkunci’, sehingga penderitanya akan kesulitan membuka mulut atau menelan.

Pemberian vaksin TdaP aman bagi ibu hamil, malah direkomendasikan. Sampai saat ini belum ada bukti yang menunjukkan efek buruk bagi janin jika ibu hamil menerima virus yang dilemahkan, ataupun vaksin dengan bakteri atau toksoid seperti pada vaksin TdaP.

Selain itu, juga tak ada bukti yang menunjukkan bahwa vaksin berhubungan dengan peningkatan risiko autisme atau memberikan efek samping akibat paparan dengan pengawet thimerosal yang mengandung merkuri. Ini sering kali membuat orang ragu untuk melakukan vaksinasi. Sebagai catatan, vaksin TdaP tidak mengandung thimerosal.

Ibu hamil disarankan menerima satu dosis vaksin TdaP setiap kali hamil, tanpa memperhatikan riwayat vaksinasi TdaP sebelumnya. Pemberian vaksin ini akan memaksimalkan respons antibodi ibu terhadap penyakit tertentu, serta membantu transfer antibodi secara pasif dari ibu ke janin.

Waktu yang terbaik untuk menerima vaksinasi ini adalah saat usia kehamilan antara 27-36 minggu. Walau demikian, vaksin TdaP dapat diberikan kapan saja semasa kehamilan.

Perlu diketahui, meski pemberian vaksin difteri untuk ibu hamil aman, tapi tetap bisa menimbulkan beberapa efek samping. Mulai dari nyeri, kemerahan, bengkak di area suntikan, sakit kepala, nyeri tubuh, serta rasa lelah. Namun, jangan fokus pada efek samping, atau hilangkan rasa takut Anda pada jarum suntik. Percayalah, itu semua tak sepadan dengan perlindungan yang akan ibu hamil dapat dari penyakit difteri, pertusis, dan tetanus.

(RN/ RH)