Yuk, Tingkatkan Kecerdasan Anak lewat Alunan Musik

Oleh dr. Sara Elise Wijono MRes pada 09 Mar 2019, 16:30 WIB
Tak hanya menghibur, musik juga memegang peranan penting sebagai pendongkrak kecerdasan anak.
Yuk, Tingkatkan Kecerdasan Anak lewat Alunan Musik (Martin Novak/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Sebagian besar orang tua telah memperkenalkan musik pada anak sejak dalam kandungan, baik dengan menghidupkan music player atau menyanyikannya secara langsung. Cara ini dipercaya dapat meningkatkan kecerdasan anak.

Bila diperhatikan, balita sering kali menunjukkan ketertarikan terhadap musik, misalnya dengan menari saat mendengarkan alunan musik. Lalu, apakah benar mendengarkan musik dapat memberikan manfaat tertentu bagi kecerdasan anak?

Musik dan tumbuh kembang anak

Ada benarnya bahwa musik dapat mendorong perkembangan serta keahlian yang diperlukan anak nantinya saat bersekolah. Misalnya saja kemampuan intelektual, sosial, emosional, motorik dan bahasa. Sebab, musik membantu keselarasan kerja tubuh dan pikiran.

Paparan terhadap musik sejak dini dapat membantu anak-anak memahami suara dan makna dari kata-kata. Menari mengikuti alunan musik juga turut membantu perkembangan motorik, serta membantu anak untuk mengekspresikan diri sendiri.

Selain itu, musik juga diketahui dapat memperkuat memori, baik pada anak-anak maupun orang dewasa. Anak-anak yang terbiasa mendapatkan pelatihan musik menunjukkan aktivitas saraf yang lebih besar pada area auditorik dan prefrontal korteks dari otak.

Area ini berhubungan dengan pemrosesan pola dan koding dari stimulus suara. Sehingga, paparan terhadap musik sejak usia dini dianggap dapat meningkatkan kemampuan balita untuk mendeteksi pola pada bunyi-bunyian yang kompleks serta berhubungan dengan perkembangan bicaranya.

Sebuah studi di University of Southern California tahun 2016 juga mendukung hasil di atas. Dijelaskan bahwa paparan musik pada masa anak-anak dapat membantu perkembangan otak, terutama pada area yang berkaitan dengan kemampuan membaca serta pembelajaran bahasa.

Manfaat musik berdasarkan jumlah ketukan

Menariknya, mendengarkan musik tertentu dapat memberikan efek positif pada proses pembelajaran. Misalnya, musik dengan ketukan 50-80 per menit dapat memberikan efek tenang, sehingga membantu otak memproduksi pikiran logis saat belajar, serta mengingat fakta-fakta baru.

Efek ini baik untuk pembelajaran dalam sains, bahasa, serta humaniora yang membutuhkan kemampuan memproses fakta dan menyelesaikan masalah.

Selanjutnya, musik dengan 60-70 ketukan per menit seperti musik klasik ternyata membantu anak agar belajar lebih lama serta mengingat informasi lebih banyak. Sehingga, musik klasik cocok didengarkan anak sembari mempelajari hitungan (matematika).

Pelajar yang mendengarkan musik klasik saat mempelajari matematika ternyata rata-rata memperoleh 12 persen nilai lebih tinggi saat ujian, jika dibandingkan dengan mereka yang tidak mendengarkan musik selama belajar.

Mendengarkan musik rock dan pop juga dapat bermanfaat meningkatkan semangat dan kemampuan artistik. Musik ini dapat bermanfaat jika didengarkan sembari mempelajari seni, drama, atau bahasa Inggris, yang memerlukan pemikiran kreatif.  

Secara umum, efek mendengarkan musik adalah mengurangi stres dan membuat suasana hati lebih baik, sehingga berpotensi memperbaiki performa anak.

Bermain musik dan kecerdasan anak

Meski musik amat baik bagi anak, akan lebih baik jika anak turut terlibat dalam pengalaman musikal. Anda dapat mendaftarkan si Kecil untuk ikut berlatih memainkan suatu alat musik.

Pelajaran musik diketahui mendorong IQ anak, menurut studi di University of Toronto. Studi lain di University of Montreal mempelajari bagaimana pelajaran musik dapat mengubah struktur otak, bahkan membantu anak yang mengalami gangguan perkembangan.

Jadi, sebagai orang tua, jangan segan membiarkan anak terpapar dengan musik yang nyatanya dapat meningkatkan kecerdasan anak. Namun, tetap awasi jenis musik yang didengarkan si Kecil. Musik dengan lirik bernuansa negatif seperti kekerasan atau hal tabu yang banyak ditemukan di masa kini justru dapat memberikan dampak negatif bagi anak Anda.

[NP/ RVS]