Benarkah Difteri Sering Muncul di Musim Kemarau?

Oleh Krisna Octavianus Dwiputra pada 11 Mar 2019, 12:30 WIB
Penyakit difteri perlu diwaspadai karena bisa menyebabkan kematian. Lalu, benarkah, difteri lebih sering muncul di musim kemarau?
Benarkah Difteri Sering Muncul di Musim Kemarau? (Ramona Heim/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Difteri sebetulnya merupakan penyakit “masa lalu”, tapi masih saja menghantui hingga kini. Penyakit ini sebenarnya sudah ditemukan vaksinnya dan sudah lama tidak terjadi di Indonesia, tapi beberapa tahun lalu penyakit ini kembali muncul dan mewabah. Terkait penyebaran penyakitnya, benarkah difteri lebih sering muncul di musim kemarau. Benar atau tidaknya, baca terus artikel ini.

Masih segar dalam ingatan ketika penyakit difteri mewabah di Indonesia pada tahun 2017 lalu, dengan menyandang status kejadian luar biasa (KLB) dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Bagaimana tidak, difteri tercatat tersebar di 142 kabupaten/kota di 29 provinsi. Jumlah korban jiwa pun diketahui 38 orang, sedangkan korban yang dirawat sebanyak 600 pasien. Karena bisa mematikan, difteri harus diwaspadai.

Berdasarkan penjelasan dari dr. Dyah Novita Anggraini dari KlikDokter, penyakit menular ini disebabkan oleh infeksi bakteri Corynebacterium diphtheria. Bakteri ini mampu menghasilkan racun perusak jaringan pada manusia, terutama pada hidung dan tenggorokan.

Penyakit difteri perlu lebih diwaspadai saat musim kemarau?

Ada yang bilang bahwa difteri lebih sering muncul pada musim kemarau. Sayangnya, itu tidak benar.

“Difteri bisa terjadi kapan saja sepanjang tahun, tidak seperti demam berdarah dengue yang biasanya mencapai puncaknya beberapa minggu setelah musim hujan. Ini tergantung pada sumber penularannya ada atau tidak,” jawab dr. Fiona Amalia, MPH, dari KlikDokter.

Sebetulnya difteri adalah penyakit yang hampir sudah tidak ada lagi di Indonesia, karena vaksinnya sudah ditemukan sejak lama. Mengenai KLB difteri tahun 2017 lalu, dr. Fiona punya pendapatnya sendiri.

“KLB tersebut bisa terjadi mungkin karena ada riwayat vaksin yang belum lengkap, lalu tiba-tiba ketahanan tubuhnya menurun, kemudian akhirnya terjadi penularan,” sambung dr. Fiona.

Meski tak lagi mewabah, tetap waspadai penularan difteri

Salah satu cara mencegah kemunculan (kembali) difteri adalah dengan mengetahui penyebaran penyakit ini, yakni:

  • Percikan ludah penderita saat bersin atau batuk yang kemudian dihirup orang di sekitarnya melalui udara.
  • Barang yang sudah terkontaminasi oleh bakteri penyebab difteri seperti pada mainan, remote, tisu bekas penderita difteri, handuk, atau alat makan penderita yang belum dicuci.
  • Bersentuhan langsung dengan luka di kulit penderita.

Terdapat pula beberapa fakor risiko yang dapat meningkatkan risiko Anda terkena penyakit difteri. Ini termasuk tidak atau belum mendapatkan vaksinasi difteri, memiliki gangguan sistem imun di tubuh (seperti penyakit AIDS), memiliki sistem imun yang lemah (seperti pada anak-anak dan lansia), serta tinggal di lingkungan yang padat penduduk.

Gejala penyakit difteri

Gejala umum dari penyakit difteri, menurut dr. Dyan, adalah nyeri di tenggorokan yang disertai demam. Selain itu, juga ada tanda khas berupa selaput berwarna putih atau abu-abu di tenggorokan. Gejala lainnya yang juga harus diwaspadai antara lain:

  • Demam tinggi sekitar 38 derajat Celsius
  • Demam hingga menggigil
  • Kelenjar bengkak di leher (bull neck)
  • Batuk
  • Sakit tenggorokan
  • Sesak napas
  • Suara serak
  • Perasaan tidak nyaman atau tidak enak badan seperti saat sakit infeksi lainnya
  • Kesulitan menelan
  • Kulit pucat dan dingin, berkeringat, serta detak jantung yang cepat

Jika Anda merasakan gejala-gejala yang disebutkan di atas, khususnya jika terdapat faktor risiko tertentu, segera periksakan diri ke dokter agar bisa ditangani dengan cepat.

Jadi, penyakit difteri tidak selalu muncul di musim kemarau. Difteri bisa terjadi kapan saja, sepanjang tahun. Dengan mengetahui penyebaran, gejala, faktor risiko penyakit ini, serta melindungi diri dengan vaksin difteri, diharapkan penyakit ini tak akan kembali menghantui masyarakat.

(RN/ RVS)