Ajakan Global untuk Menjaga Kesehatan Ginjal

Oleh Krisna Octavianus Dwiputra pada 13 Mar 2019, 16:00 WIB
Menyambut peringatan Hari Ginjal Sedunia, sudah selayaknya kesehatan ginjal perlu mendapatkan perhatian yang lebih serius.
Ajakan Global untuk Menjaga Kesehatan Ginjal (Krisna-Oktavianus/Klikdokter)

Klikdokter.com, Jakarta Hari Ginjal Sedunia (World Kidney Day) tahun ini diperingati pada Kamis tanggal 14 Maret. Tema peringatan tahun ini adalah Kidney Health for Everyone Everywhere. Melalui tema tersebut, siapa saja diajak untuk meningkatkan kesadaran akan kesehatan ginjal.

Khusus di Indonesia, peringatan Hari Ginjal Sedunia lebih menitikberatkan pada pencegahan penyakit serta meningkatkan akses untuk layanan kesehatan ginjal. Itu dilakukan oleh berbagai pihak terkait untuk bisa mewujudkan tema Kidney Health for Everyone Everywhere.

Prevalensi penyakit ginjal kronis di negara berkembang

Penyakit ginjal sendiri memiliki banyak faktor risikonya. Ada beberapa faktor risiko penyakit ginjal kronis (PGK) seperti diabetes, penyakit darah tinggi (hipertensi), kegemukan (obesitas), glomerulonefritis, penyakit autoimun, dan merokok.

Pencegahan penyakit ginjal memiliki arti penting untuk menekan insiden penyakit ini yang meningkat tiap tahunnya. Hasil Riskesdas 2018 menunjukkan persentase penyakit ginjal kronis masih tinggi yaitu sebesar 3,8%, dengan kenaikan sebesar 1,8% dari data 2013.

Beban negara akibat penyakit ini pun amat besar, data Badan Penyelenggara Jaminan Kesehatan (BPJS) pada 2017 tercatat sebanyak 3.657.691 prosedur dialisis dilakukan dengan total biaya sebesar Rp 3,1 triliun. Akses layanan yang belum merata di seluruh Indonesia juga menjadi salah satu permasalahan utama dalam penanggulangan penyakit ginjal. Hal ini tentu saja memerlukan perhatian dari berbagai pihak, baik pemerintah, sektor swasta, dan peran serta seluruh masyarakat.

“Saat ini diperkirakan sekitar 10% penduduk dunia menderita penyakit ginjal. Prevalensi PGK cenderung lebih tinggi di negara berkembang, misal di Asia Tenggara, prevalensi PGK sangat beragam, antara lain di Malaysia sekitar 9,1%, di Thailand 16,3%. Angka ini tidak jauh berbeda dengan yang hasil penelitian Prodjosudjadi W. (2006) dimana prevalensi PGK di Indonesia saat itu adalah 12,5%. Sehingga perkiraan kejadian PGK saat ini mungkin jauh lebih tinggi dari data Riskesdas 2018," ujar dr. Aida Lydia, PhD., Sp.PD-KGH, Ketua Umum PB Perhimpunan Nefrologi Indonesia (PB PERNEFRI) dalam konferensi pers jelang hari ginjal sedunia.

Selanjutnya, dr. Aida menerangkan bahwa penyakit ginjal kronik dapat berkembang menjadi suatu gagal ginjal tahap akhir jika tidak tertangani dengan baik. Ini bisa menyebabkan berbagai komplikasi bahkan kematian.

Berdasarkan data dari Indonesian Renal Registry (IRR) pada 2017, penyebab terbanyak gagal ginjal di Indonesia masih didominasi oleh hipertensi (36%) dan diabetes (29%).

1 of 3

Penatalaksanaan penyakit ginjal

Penyakit ginjal bisa menjadi ancaman yang serius, baik dari sisi medis maupun dari sisi ekonomi. Bagaimana tidak, dampak ekonomi yang ditimbulkan akibat penyakit ini demikian besar. Pada 2018 saja, JKN menghabiskan dana sebanyak Rp 2,3 triliun untuk pasien gagal ginjal. Ini merupakan pengeluaran nomor tiga tertinggi setelah penyakit jantung dan kanker.

Oleh karena itu, Hari Ginjal Sedunia dijadikan momentum untuk penatalaksanaan penyakit ginjal. Pencegahan tetap menjadi isu utama untuk menekan angka penyakit ginjal. Akan tetapi, di sisi lain, penatalaksanaan penyakit ginjal yang ideal hendaknya bersifat terintegrasi mulai dari promotif preventif, diagnosis dan terapi dini, penatalaksanaan gagal ginjal dengan terapi pengganti ginjal, sampai ke rehabilitasi dan terapi paliatif (stadium lanjut).

Ini juga menjadi perhatian serius dari pemerintah. Melalui Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah menyelenggarakan berbagai program yang melibatkan masyarakat, seperti Gerakan Masyarakat Sehat (Germas), Posyandu, program imunisasi serta yang lainnya agar angka penyakit ginjal terus menurun.

Namun, Kemenkes berharap ini juga menjadi perhatian serius bagi masyarakat secara umum. Terutama, masyarakat bisa berperan aktif untuk menjaga kesehatan mereka sendiri.

"Hal-hal sederhana yang bisa dilakukan masyarakat agar terhindar dari penyakit ginjal antara lain tetap aktif dan bugar dengan cara teratur berolahraga minimal 30 menit sehari 5 kali dalam seminggu," ujar dr. Cut Putri Arianie, MHKes, selaku Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular/P2PTM Kemenkes RI.

"Selain itu, mengonsumsi makanan sehat dengan memperbanyak konsumsi sayur dan buah, mengurangi konsumsi garam, menjaga tubuh tetap terhidrasi baik dengan minum air putih yang cukup, menjaga berat badan tetap ideal serta rajin memeriksakan kesehatan meliputi pengukuran tekanan darah dan pemeriksaan fungsi ginjal, terutama bagi mereka yang memiliki riwayat keluarga dengan penyakit ginjal," sambung dr. Cut Putri.

2 of 3

Peran BPJS dalam penatalaksanaan penyakit ginjal

Sebagai penyakit tidak menular dengan kebutuhan dana yang cukup tinggi, masyarakat yang sudah terkena penyakit ini banyak yang bergantung dengan BPJS. Seperti disebutkan di atas, biaya untuk pengobatan penyakit ginjal sangat banyak.

Secara total, jika dihitung sejak 2014, penyakit gagal ginjal menghabiskan dana sebesar Rp 13,3 triliun atau sekitar 17 persen dari total penyakit tidak menular yang mencapai Rp 78,3 triliun.

"Jika dilihat, penyakit ginjal ini merupakan jenis penyakit katastropik yang pembiyaannya sangat besar lewat skema pembiyaan JKN. Paling banyak memang pos biaya digunakan untuk melakukan perawatan hemodialisa (HD)," ujar dr. Budi Mohamad Arief, MM, selaku deputi Direksi Bidang Jaminan Pembiayaan Kesehatan Rujukan.

Selain HD, BPJS diketahui juga membiayai pengobatan penyakit ginjal lainnya, seperti transplatasi ginjal dan Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD). Hanya saja, kedua pengobatan itu tidak sepopuler HD.

Dilihat dari berbagai sisi, penyakit ginjal kronis memang perlu mendapat perhatian khusus. Tak cuma pemerintah, penyakit ini juga perlu mendapat perhatian dari masyarakat.

Sampai saat ini, untuk mewujudkan Kidney Health for Everyone Everywhere memang tidak mudah. Pemerintah, dalam hal ini Kemenkes terus berusaha menekan angka penyakit ginjal. Di sisi lain, BPJS membantu dari sisi pembiayaan pengobatan.

Di banyak negara di dunia termasuk di Indonesia, masih banyak hambatan yang dihadapi untuk mendapatkan akses pelayanan kesehatan ginjal yang adekuat, merata dan berkualitas. Dalam kegiatannya WKD 2019 menyerukan perlindungan kesehatan universal untuk pencegahan, diagnosis dan pengobatan dini penyakit ginjal sebagai usaha yang berkelanjutan, demi mengurangi biaya dan komplikasi penyakit ginjal untuk setiap individu di setiap negara.

[RVS]

Lanjutkan Membaca ↓