Mozart Effect, Benarkah Meningkatkan Kemampuan Otak?

Oleh dr. Nabila Viera Yovita pada 13 Mar 2019, 16:20 WIB
Banyak yang percaya bahwa Mozart Effect benar-benar meningkatkan kemampuan otak. Apakah hal tersebut diamini oleh medis? Ini faktanya!
Mozart Effect, Benarkah Meningkatkan Kemampuan Otak? (Sangoiri/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Apakah Anda pernah mendengar tentang musik Mozart? Ya, musik klasik yang diciptakan oleh Wolfgang Amadeus Mozart itu disinyalir mampu meningkatkan kemampuan otak jika didengarkan secara berkala. Manfaat tersebut memiliki sebutan Mozart Effect.

Pada penelitian pertama yang dilakukan di University of California, para partisipan studi diberikan tugas mental untuk diselesaikan. Sebelum peserta benar-benar menyelesaikan tugasnya, mereka diminta untuk mendengarkan 10 menit keheningan, 10 menit musik relaksasi, atau 10 menit Mozart’s sonata for two pianos in D major (K448). Tak berapa lama kemudian, partisipan yang mendengarkan musik Mozart diketahui mampu melakukan tugasnya dengan lebih baik, khususnya ketika mereka butuh 'menyusun' suatu bentuk dalam pikiran.

Temuan tersebut membuat para ahli ilmiah bertanya-tanya, apakah pola musik yang kompleks mampu membuat bagian dari otak untuk terpicu seperti halnya seseorang yang bermain puzzle dengan pola bentuk ruang (spatial puzzles)?

Pertanyaan tersebut membuat banyak studi baru bermunculan, termasuk 16 studi besar yang mengonfirmasi bahwa mendengarkan musik Mozart memicu perkembangan sementara dalam kemampuan memanipulasi bentuk-bentuk secara mental di dalam pikiran. Sayangnya, studi tersebut juga menemukan bahwa keuntungan itu hanya bersifat jangka pendek dan tidak membuat seseorang semakin jenius.

Kemudian, pada tahun 2010, dilakukan kembali banyak studi dalam skala besar yang menemukan efek positif lain dari mendengarkan musik Mozart. Kali ini, sebagian besar peneliti yang terlibat dalam studinya masing-masing menemukan bahwa Mozart Effect yang disinyalir mampu merangsang kreativitas di otak juga dapat dihasikan dengan mendengarkan musik atau alunan nada relaksasi jenis lainnya. Contohnya, Anda bisa merasakan Mozart Effect dengan mendengarkan karya Schubert, begitu pula dengan mendengarkan suatu paragraf dari novel Stephen King.

Terkait temuan tersebut, para peneliti menekankan bahwa efek positif yang didapat otak hanya akan mampu dirasakan jika Anda senang mendengarkannya. Dengan kata lain, kemampuan otak akan meningkat jika Anda memang menyenangi serta mendengarkan suatu alunan musik seara aktif dibandingkan nada-nada spesifik.

Lantas, bagaimana dengan bayi yang diperdengarkan musik klasik saat masih berada di dalam kandungan? Sehubungan dengan ini, pada tahun 2006, dilakukan suatu studi yang melibatkan 8000 anak. Kelompok pertama mendengarkan Mozart’s String Quintet in D Major, kelompok kedua mendengarkan diskusi mengenai eksperimen, dan kelompok ketiga mendengarkan 3 lagu pop seperti Country House oleh Blur, Return of the Mack oleh Mark Morrison, dan Stepping Stone oleh Duncan.

Setelah dilakukan uji coba, tim peneliti yang terlibat mendemokan hasil yang mengejutkan. Pasalnya, anak-anak yang mendengarkan musik Mozart mampu melalui ujian dengan baik, namun kelompok yang mendengarkan musik bergenre pop mampu melakukannya lebih baik lagi.

Berdasar pada temuan tersebut, kesimpulan yang bisa ditarik adalah: peningkatan kemampuan otak tak hanya terpaku pada musik Mozart saja. Anda juga bisa merasakan apa yang disebut Mozart Effect dengan mendengarkan musik lain yang benar-benar disukai. Pasalnya, yang sebenarnya diperlukan untuk melakukan suatu tugas yang melibatkan pikiran adalah rangsangan kognitif. Hal tersebut dapat Anda raih dengan mendengarkan apa pun yang disenangi. Bahkan, Anda juga bisa merasakan efek tersebut dengan melakukan aktivitas lain, seperti berolahraga atau meminum secangkir kopi.

(NB/ RVS)