Sehat dan Langsing dengan Diet Singkong, Bisakah?

Oleh Ayu Maharani pada 14 Mar 2019, 12:00 WIB
Singkong dipercaya punya nutrisi yang lebih baik ketimbang nasi putih. Anda yang mau menerapkan diet singkong, simak serba-serbinya di sini.
Sehat dan Langsing dengan Diet Singkong, Bisakah? (Luciana Rinaldi/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Masyarakat saat ini mulai banyak memilih beralih dari nasi putih ke karbohidrat kompleks lain yang lebih sehat. Selain nasi merah, salah satunya pilihannya adalah singkong. Umbi berwarna putih ini memiliki rasa yang lebih gurih alami serta relatif mudah dijumpai. Nah, Anda yang sedang ingin menerapkan diet singkong, simak dulu serba-serbinya di bawah ini.

Kandungan singkong dan manfaatnya

Bila Anda ingin mendapatkan karbohidrat kompleks yang mengenyangkan dan rasanya lezat tanpa harus diberikan bumbu macam-macam, singkong adalah jawabannya. Tak cuma mengenyangkan, singkong juga memiliki kadar gula dan kalori yang rendah.

Singkong memiliki protein, lemak, hidrat arang, kalsium, fosfor, zat besi, vitamin B, vitamin C, dan amilum. Dalam 100 gram singkong, terdapat 112 kalori, 28 gram karbohidrat, 1,5 gram protein, dan 2 gram serat.

Dikutip dari berbagai sumber, singkong dianjurkan bagi penderita diabetes sebagai pengganti nasi. Umbi ini juga mengandung mangan, mineral untuk membantu pembekuan darah, meningkatkan hormon seks, hingga menguatkan tulang.  

Diet singkong dan penerapannya

Bila diolah dengan benar, singkong akan menghasilkan senyawa bioaktif yang dapat meningkatkan kesehatan tubuh manusia, khususnya dalam pencegahan penyakit kardiovaskular dan kanker. Untuk mendapatkan tubuh yang lebih sehat dan langsing, Anda bisa mengolah singkong dengan cara direbus ataupun dikukus.

Hindari pengolahan dengan cara digoreng. Sebab, kandungan minyak dalam makanan yang digoreng dapat mengandung lemak jenuh.

Sebagai pengganti nasi putih, porsi yang dianjurkan Pedoman Gizi Seimbang Kementerian Kesehatan Republik Indonesia adalah 1,5 potong singkong (120 gram) untuk setiap kali makan. Tak cuma porsi singkong, Anda juga harus memperhatikan lauk pauk pendampingnya.

Meski sudah mengonsumsi karbohidrat kompleks yang kaya serat, Anda tetap harus mengonsumsi lauk yang sehat dan alami serta sayuran. Sebelum disantap, pastikan singkong tidak dimasak terlalu lama.

Semakin lama dimasak, indeks glikemik (kandungan gula) dalam singkong akan semakin tinggi. Akan tetapi, jangan makan singkong mentah ya. Singkong yang masih mentah mengandung zat kimia glikosida sianogen yang akan melepaskan sianida di dalam tubuh. Tentunya itu berbahaya. Jangan lupa pula kupas bersih kulitnya dan cuci singkong sebelum diolah.

Ada efek sampingnya?

Menurut dr. Nadia Octavia dari KlikDokter, hingga saat ini belum ada penelitian di bidang medis yang menyebutkan bahwa diet singkong memberikan efek samping.

“Karena pada dasarnya, singkong hanyalah karbohidrat,” dr. Nadia menegaskan. Namun, jika karbohidrat tersebut dikonsumsi dalam jumlah berlebih, hal itu justru bisa menyebabkan kegemukan.

“Dan jangan cuma mengandalkan singkong untuk memenuhi kebutuhan gizi Anda. Anda tetap memerlukan protein agar seimbang,” tutur dr. Nadia.

Jadi, untuk mendapatkan efek yang maksimal dari singkong, Anda juga harus mengimbanginya dengan lauk yang Anda pilih, serta kalori dan porsi yang tepat. Hentikan juga kebiasaan buruk, seperti makan gorengan, makan makanan atau minum minuman manis, serta jarang olahraga. Diet apa pun yang tidak diimbangi dengan olahraga hanya akan menghasilkan tubuh langsing yang tak bertenaga (lemas).

Mengganti nasi putih dengan singkong memang dapat menurunkan berat badan. Meski begitu, Anda tetap perlu memperhatikan pengolahan, porsi, dan mengimbanginya dengan asupan gizi lain, terutama protein. dr. Nadia mengatakan bahwa menurunkan berat badan membutuhkan waktu, kesabaran, dan kedisiplinan yang tinggi. Tanpa tiga hal itu, diet singkong hanya menjadi “selingan” yang tak membawa efek positif apa pun bagi tubuh.

[HNS/ RVS]