5 Tanda Anda Berisiko Terkena Serangan Jantung

Oleh dr. Dyah Novita Anggraini pada 18 Mar 2019, 07:45 WIB
Serangan jantung adalah keadaan gawat darurat yang butuh penanganan segera. Kenali tanda Anda berisiko terkena serangan jantung.
5 Tanda Anda Berisiko Terkena Serangan Jantung (CHAjAMP/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Hingga hari ini, penyakit jantung masih menjadi penyebab kematian pertama di dunia dan penderitanya dari berbagai usia. Karenanya, sangat penting untuk mewaspadainya. Kenali tanda-tanda Anda berisiko terkena serangan jantung.

Penyakit jantung adalah suatu keadaan yang menggambarkan masalah pada jantung dan pembuluh darah yang meliputi penyakit jantung koroner, kelainan jantung bawaan, aritmia, infeksi jantung, atau gagal jantung.

Tanda dan gejala penyakit jantung bisa berbeda-beda, tergantung jenis penyakitnya. Namun, ada beberapa gejala awal penyakit jantung yang umum terjadi. Di antaranya adalah:

  • Nyeri dada
  • Detak jantung tidak teratur
  • Sesak napas
  • Kehilangan kesadaran secara tiba-tiba
  • Tubuh mudah lemas dan lelah
  • Keringat dingin
1 of 2

Tanda Anda berisiko menderita penyakit jantung

Serangan jantung biasanya terjadi akibat penyakit jantung koroner yang tak tertangani, penyempitan pembuluh jantung, atau adanya pembuluh jantung yang robek. Ada beberapa tanda Anda berisiko terkena penyakit jantung, yakni:

  1. Usia lebih dari 45 tahun

Risiko penyakit jantung akan meningkat seiring bertambahnya usia, pada pria usia lebih dari 45 tahun, dan pada wanita usia di atas 55 tahun. Pertambahan usia dapat menyebabkan pembuluh darah menjadi menyempit. Jika disertai dengan pola makan yang berlemak, maka akan mudah menghambat aliran darah, sehingga menyebabkan serangan jantung.

  1. Kadar kolesterol tinggi

    Jika Anda memiliki kadar kolesterol jahat yang tinggi, maka risiko terkena penyakit jantung meningkat. Kadar kolesterol yang tinggi dapat menimbulkan deposit (simpanan lemak) dalam pembuluh darah. Selanjutnya, deposit lemak tersebut akan menyebabkan kesulitan aliran darah dalam pembuluh darah arteri. Akibat terhambatnya aliran darah tersebut, jantung tidak mendapatkan darah yang kaya akan oksigen. Kondisi inilah yang akhirnya meningkatkan risiko serangan jantung.

    Penyebab kolesterol tinggi adalah ketidakseimbangan proporsi lemak dalam darah. Ada beberapa jenis kolesterol dalam tubuh Anda, yaitu HDL dan LDL. HDL (high-density lipoprotein) atau si kolesterol baik bekerja untuk membersihkan lemak dalam tubuh. Sebaliknya, LDL (low-density lipoprotein) alias kolesterol jahat, merupakan penyebab utama penyakit jantung koroner.

    Sebagai panduan, batasan kolesterol di dalam darah adalah sebagai berikut:

    • Kolesterol total
      • Normal: kurang dari 200 mg/dL
      • Cukup tinggi: 200-239 mg/dL
      • Tinggi: 240 mg/dL atau lebih
    • HDL
      • Normal: lebih dari 60 mg/dL
      • Kurang: kurang dari 40 mg/dL
    • LDL
      • Normal: kurang dari 100 mg/dL
      • Cukup tinggi: 130-159 mg/dL
      • Tinggi: 160-189 mg/dL
    • Trigliserida
      • Normal: kurang dari 150 mg/dL
      • Cukup tinggi: 150-199 mg/dL
      • Tinggi: lebih dari 200 mg/dL
  1. Riwayat merokok

Jika Anda memiliki riwayat merokok, maka risiko sakit jantung akan meningkat. Kandungan nikotin di dalam rokok dapat menyebabkan gangguan di pembuluh darah dan jantung.

  1. Tekanan darah tinggi

Tekanan darah tinggi dapat membuat jantung bekerja lebih keras untuk memompa darah ke seluruh tubuh. Ketika jantung bekerja keras dan tidak tertangani dengan baik, maka pembuluh darah bisa rusak.

  1. Riwayat diabetes

Jika Anda memiliki riwayat penyakit diabetes, maka risiko penyakit jantung akan meningkat hingga dua kali lipat. Kadar gula darah yang tinggi dapat meningkatkan risiko penumpukan lemak di dalam pembuluh darah, sehingga meningkatkan risiko penyempitan dan pengerasan pembuluh darah jantung.

Jika Anda memiliki tanda-tanda risiko penyakit jantung yang bisa menyebabkan serangan jantung seperti yang dijelaskan di atas, segera lakukan perubahan gaya hidup sejak dini. Lakukan olahraga rutin minimal 30 menit dalam sehari, hindari dan stop merokok, kurangi dan batasi makanan yang berlemak dan tinggi garam, kontrol berat badan, dan konsultasi lebih lanjut dengan dokter agar mendapatkan penanganan yang optimal.

(RN/ RVS)

Lanjutkan Membaca ↓