Dermatilomania, Kondisi Sulit Berhenti Mengelupasi Kulit Sendiri

Oleh dr. Sara Elise Wijono MRes pada 20 Mar 2019, 10:20 WIB
Dermatilomania merupakan kelainan psikologis yang ditandai dengan kebiasaan mengelupasi kulit. Mari kenali lebih jauh seputar penyakit ini.
Dermatilomania, Kondisi Sulit Berhenti Mengelupasi Kulit Sendiri (Tetiana Mandziuk/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Bila Anda melihat ada seseorang yang gemar mengelupasi kulitnya, bisa jadi orang tersebut menderita dermatilomania. Kebiasaan kompulsif ini dilakukan seseorang secara berulang untuk mengelupasi kulit sendiri sehingga menyebabkan kerusakan jaringan. Kebiasaan ini merupakan salah satu jenis kelainan psikologis.

Mengenal dermatilomania lebih jauh

Selain mengelupasi kulit, kebiasaan yang dilakukan oleh seseorang yang menderita dermatilomania dapat berupa menyentuh dan menggaruk yang dilakukan secara berulang-ulang. Kelainan psikologis ini berkaitan dengan obsessive compulsive disorder (OCD).

Kondisi ini diperkirakan memengaruhi kurang lebih 5 persen dari populasi. Di antara penderitanya, wanita lebih banyak yang mengalami dengan jumlah yang cukup signifikan sekitar 75 persen. Tapi, jika Anda memiliki kebiasaan mengelupasi kulit, apakah artinya pasti terkena dermatilomania? Belum tentu!

Perbedaan mendasar pada dermatilomania dengan mengelupas kulit biasa adalah keadaannya yang berlangsung lama (kronis), hingga menyebabkan kerusakan pada jaringan, serta menyebabkan tekanan dan disfungsi pada penderitanya.

Beberapa tanda dan gejala berikut dapat menunjukkan seseorang terkena dermatilomania, antara lain:

  • Kebiasaan mengelupasi kulit yang menyebabkan timbulnya lesi kulit
  • Pernah melakukan usaha berulang untuk menghentikan kebiasaan tersebut
  • Timbul tekanan serta gangguan yang signifikan pada penderitanya akibat gejala yang muncul
  • Gejala tidak disebabkan kelainan kulit, kondisi medis, atau penyalahgunaan zat dan obat
  • Gejalanya tidak disebabkan gangguan psikologis lainnya

Sering kali, dermatilomania muncul di usia remaja, yakni pada usia 13-15 tahun. Namun, gangguan ini juga dapat mulai muncul sejak anak berusia di bawah 10 tahun. Pada orang dewasa, dermatilomania umumnya ditemukan pada orang yang berusia 30-45 tahun.

Pada remaja, munculnya jerawat bisa jadi awal dari kebiasaan ini. Sebab, akibat kondisi ini, remaja terbiasa menggaruk, memencet atau mengelupas jerawat tersebut. Pada akhirnya, dorongan untuk mengelupas kulit akan menetap walaupun jerawat sudah hilang.

Biasanya area kulit yang dikelupasi oleh penderita dermatilomania adalah wajah. Namun, penderita juga bisa melakukannya pada area lain seperti lengan, kaki, punggung, perut, dada, bahu, bibir, dan kepala.

Kebiasaan ini hampir selalu dilakukan dengan kuku tangan. Walau demikian, pada beberapa kasus pinset atau alat lain juga bisa digunakan penderita dermatilomania untuk mengelupas kulit. Bila kebiasaan ini tak segera dihentikan, bisa menyebabkan masalah pada kesehatan.

1 of 2

Dampak dari kondisi dermatilomania

Gangguan mental dermatilomania dapat juga menimbulkan beberapa komplikasi. Yang paling umum ditemui adalah infeksi kulit yang dikelupas. Selain itu, kebiasaan ini juga bisa menyebabkan kerusakan jaringan kulit.

Pada beberapa kasus yang cukup parah bahkan diperlukan cangkok kulit (skin graft) untuk mengatasinya. Jika sudah demikian, dermatilomania juga bisa menyebabkan munculnya bekas luka (scar) yang permanen serta cacat fisik.

Selain efek fisik, dermatilomania juga rentan memengaruhi kesehatan mental. Pada penderitanya bisa timbul rasa tak berdaya, rasa bersalah, hingga rasa malu. Bahkan, kebiasaan ini dapat menimbulkan kebiasaan melukai diri sendiri.

Parahnya lagi, penelitian menemukan sekitar 11 persen dari penderita dermatilomania berpikiran untuk melakukan upaya bunuh diri. Karena penyakit ini termasuk dalam kelainan psikologis, kecemasan serta depresi juga sering kali dialami penderitanya.

Bila sudah parah, kondisi depresi tersebut bisa disertai dengan trikotilomania (mencabut rambut) atau mengigiti kuku. Sayangnya, penderita sering merasa malu akan kebiasaannya tersebut, sehingga tidak mencari pertolongan.

Penelitian menyebutkan hanya sekitar 30-45 persen penderita yang mengakui kebiasaannya dan mencari pertolongan untuk kondisi ini.

Hingga kini penyebab munculnya dermatilomania masih kurang jelas. Namun, salah satu pendapat menyatakan dermatilomania adalah suatu gangguan terhadap respon stres.

Keadaan ini juga lebih umum ditemukan pada mereka yang menderita obsessive compulsive disorder (OCD). Sejalan dengan kondisi OCD yang dapat dipengaruhi faktor genetik, maka dermatilomania juga sangat mungkin memiliki karakteristik yang sama. Bila orang tua memiliki dermatilomania, bisa jadi anaknya pun mengalaminya.

Untuk mengatasi keberadaan dermatilomania, pendekatan yang paling umum dilakukan adalah dengan behaviour therapy yang mempelajari bagaimana hubungan antara pikiran dan kebiasaan mengelupasi kulit. Lewat terapi ini, kebiasaan penderita mengelupasi kulit dapat berkurang.

Selain itu, pada terapi ini penderita dermatilomania juga akan diajari cara mengubah pikiran untuk mencegah kebiasaan mengelupas kulit. Jika diperlukan, biasanya dokter akan menyarankan penggunaan obat, terutama obat antidepresi. Jenis obat ini dapat mengurangi pemikiran obsesif serta dorongan untuk mengelupas kulit terus-menerus.

Kelainan psikologis berupa mengelupasi kulit sendiri seperti dermatilomania ini bila tak segera diatasi bisa menyebabkan kerusakan jaringan kulit. Tak hanya merusak penampilan, hal tersebut juga bisa menyebabkan infeksi kulit yang berbahaya. Bila Anda mengalami berbagai gejala dermatilomania yang telah disebutkan di atas, segera periksakan diri ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

[NP/ RVS]

Lanjutkan Membaca ↓
sayyidah ummu kulstumsayyidah ummu kulstum

Illum sapiente itaque et assumenda. Optio quia optio et aut architecto incidunt tempore dolor.

sayyidah ummu kulstumsayyidah ummu kulstum

Et et neque rerum enim. Architecto commodi officia rerum sunt enim. Sed repellendus deserunt voluptatibus dolores fugit. Pariatur velit dicta ducimus sunt vel odit qui. Et et qui recusandae veniam.

sayyidah ummu kulstumsayyidah ummu kulstum

Rerum delectus est et aut quasi enim nulla accusamus. Id nostrum quas explicabo nihil neque aut. Ipsam et aut aut. Nam officia praesentium in mollitia velit quia dolor qui.

Lihat Lainnya