Hati-hati, Ini Risiko Kesehatan di Balik Diet Rendah Karbohidrat

Oleh dr. Karin Wiradarma pada 20 Mar 2019, 13:00 WIB
Diet rendah kabohidrat memang dapat menurunkan berat badan dengan lebih cepat. Namun, ada risiko kesehatan yang mengintai di baliknya.
Hati-hati, Ini Risiko Kesehatan di Balik Diet Rendah Karbohidrat (Africa Studio/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Siapa yang tidak menginginkan berat badan dan tubuh yang ideal? Hampir semua orang – baik pria maupun wanita – menginginkannya. Untuk mencapai berat badan yang diidamkan itu, beberapa orang rela melakukan diet ketat. Salah satu yang banyak dipilih adalah diet rendah karbohidrat.

Diet keto dan diet Atkins

Salah satu diet rendah karbohidrat yang cukup populer di masyarakat adalah diet keto atau diet ketogenik. Diet tersebut disanjung sebagai diet yang berhasil menurunkan berat badan dalam waktu yang relatif cepat.

Diet keto menerapkan konsumsi lemak sebagai bagian utama (>60 persen) dari makanan sehari-hari, dan menyantap sangat sedikit karbohidrat. Selain diet keto, diet yang menerapkan konsumsi rendah karbohidrat adalah diet Atkins. Berbeda dengan diet keto yang mengagungkan lemak, diet Atkins menerapkan protein sebagai sumber utama asupan (30-50 persen).

Kedua diet tersebut dianggap sukses dalam menurunkan berat badan dalam waktu yang relatif singkat. Hal tersebut masuk akal, karena umumnya, konsumsi karbohidrat yang berlebihan dituding sebagai kambing hitam peningkatan berat badan yang berlebihan. Namun, adakah bahaya diet rendah karbohidrat bagi kesehatan?

Bahaya diet rendah karbohidrat

Sebuah penelitian besar yang baru-baru ini dipublikasikan menemukan bahwa mereka yang menjalankan diet rendah karbohidrat (kurang dari 32 persen) dalam jangka panjang lebih berisiko mengalami penyakit kronis, seperti jantung, stroke, kanker, dan kematian dini.

Selain itu, konsumsi terlalu banyak lemak pada diet keto (apalagi lemak jahat) dapat berisiko meningkatkan kadar kolesterol Anda. Begitu pula dengan terlalu banyak mengonsumsi protein pada diet Atkins dapat meningkatkan risiko terjadinya batu ginjal dan penurunan fungsi ginjal.

Penelitian yang melibatkan hampir 450.000 orang tersebut menyebutkan bahwa diet rendah karbohidrat memang memiliki beberapa keunggulan. Misalnya, menurunkan berat badan dalam waktu cepat, serta memperbaiki kadar gula darah dan tekanan darah. Namun, bila dijalankan dalam jangka waktu panjang malah dapat menyebabkan efek samping yang fatal.

Rekomendasi diet seimbang

Berbagai metode diet yang diketahui selama ini memang ada yang terbukti berhasil menurunkan berat badan dengan memuaskan. Akan tetapi, para dokter spesialis gizi tetap berpegang pada pedoman diet seimbang sebagai metode diet terbaik untuk kesehatan jangka panjang.

Metode diet seimbang ini terdiri dari karbohidrat (45-60 persen), protein 10-20 persen, dan lemak (20-35 persen). Dalam diet tersebut, karbohidrat tetap menjadi sumber energi utama makanan bagi tubuh. Ini ditetapkan berdasarkan dari proses metabolisme alami tubuh, yang sebagian besar membutuhkan karbohidrat dalam menjalankan fungsinya.

Berbagai penelitian pun mendukung hal ini. Dalam beberapa kajian, konsumsi karbohidrat dalam jumlah moderat, sebagian besar terdiri dari makanan sumber nabati (sayur dan buah), adalah yang terbaik bagi kesehatan.

Tubuh memang masih dapat menggunakan protein dan lemak sebagai sumber energi menggantikan karbohidrat. Namun, apabila hal itu terjadi dalam waktu yang lama, dapat terjadi perubahan metabolisme tubuh yang dapat membahayakan kesehatan.

Meski diet rendah kabohidrat dapat menurunkan berat badan dengan cepat, ada risiko kesehatan yang mengintai di baliknya. Jadi, akan lebih bijaksana apabila Anda berkonsultasi terlebih dahulu kepada dokter spesialis gizi sebelum memulai program diet. Dengan begitu, Anda dapat mencapai tujuan, yakni tubuh ideal, sekaligus kondisi kesehatan yang baik.

[HNS/ RVS]