Kenali 5 Gejala Awal Tuberkulosis

Oleh dr. Reza Fahlevi pada 23 Mar 2019, 07:30 WIB
Infeksi tuberkulosis masih menjadi ancaman bagi kesehatan manusia. Sebagai antisipasi, Anda perlu mengetahui apa saja gejala awalnya.
Kenali 5 Gejala Awal Tuberkulosis (9nong/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Besok warga dunia akan memperingati Hari Tuberkulosis Sedunia yang diperingati tiap tanggal 24 Maret. Tujuannya adalah untuk membangun kesadaran masyarakat bahwa tuberkulosis (TB) sampai hari ini masih menjadi epidemi di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia. Salah satu cara membangun kesadaran ini adalah membekali diri dengan mengenali beberapa gejala awal TBC.

TBC adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis, yang terutama menyerang paru-paru manusia. Bakteri penyebab TBC menyebar dari satu orang ke orang lain melalui tetesan kecil yang dilepaskan ke udara melalui batuk dan bersin (droplet).

Kuman penyebab TBC diperkirakan sudah ada di dunia sejak 5.000 tahun Sebelum Masehi. Infeksi TBC rentan terjadi pada orang-orang dengan penurunan sistem imunitas seperti penderita HIV dan diabetes.

Walaupun “perang” terhadap infeksi TBC masih belum bisa dimenangkan, tapi sudah banyak perkembangan untuk menekan kejadian infeksi ini. Penderita TBC yang tidak diobati dengan baik berpotensi mengalami berbagai gangguan kesehatan, bahkan dapat mengancam nyawa. Karena itu, penting untuk mengetahui berbagai gejala awal TBC.

Gejala awal tuberkulosis

Ada beragam gejala yang mendandai penyakit TBC. Beberapa tanda mungkin akan tampak sama seperti penyakit lain. Namun Anda perlu memperhatikan perbedaaannya. Di bawah ini adalah beberapa gejala awal TBC yang perlu Anda perhatikan.

  1. Batuk berdahak

Batuk merupakan salah satu gejala awal TBC yang perlu Anda waspadai. Jika Anda mengalami keluhan batuk yang lama tak sembuh dalam tiga minggu, perlu ada perhatian khusus untuk mencari kemungkinan infeksi TBC.

Jika Anda dicurigai mengalami infeksi TBC, dokter akan melakukan pemeriksaan dahak untuk melihat ada atau tidaknya kuman TBC di dalamnya.

  1. Batuk darah

Memang batuk darah dapat menjadi gejala dari berbagai gangguan kesehatan, misalnya luka dalam rongga mulut (pada gigi atau gusi), adanya luka lecet pada saluran pernapasan, infeksi paru-paru, hingga tumor paru. Batuk darah juga bisa menjadi pertanda infeksi TBC.

Perdarahan saluran napas pada infeksi TBC terjadi karena kuman yang menyebabkan kerusakan pada dinding pembuluh darah para paru-paru penderitanya. Jika sampai terjadi perdarahan berat, keadaan ini bisa mengancam nyawa. Jadi, jika Anda memiliki keluhan batuk darah, segera periksakan diri Anda ke dokter.

  1. Sesak napas

Sesak napas dapat disebabkan oleh berbagai penyakit, mulai dari penyakit jantung sampai penyakit paru-paru. Pada kasus infeksi TBC, sesak napas terjadi karena terdapat peradangan pada jaringan paru, sehingga pertukaran udara menjadi lebih sulit dilakukan.

Selain itu, infeksi TBC juga dapat menyebabkan adanya cairan pada rongga pleura, yang menyebabkan paru lebih sulit berkembang. Bahkan, pada keadaan sesak napas yang berat, pernapasan bantuan dengan menggunakan ventilator diperlukan untuk membantu pernapasan penderita.

  1. Keringat pada malam hari

Beberapa infeksi dapat menyebabkan seseorang mengalami keringat berlebih di malam hari. Salah satu penyebab tersering adalah infeksi TBC. Selain berkeringat pada malam hari, penderita TBC juga akan mengalami keluhan demam yang tak diketahui penyebabnya. Demam yang dialami biasanya tak terlalu tinggi, dengan suhu di bawah 38 derajat Celcius.

  1. Penurunan berat badan

Meski bukanlah gejala spesifik, penurunan berat badan juga dialami penderita TBC. Penyebabnya adalah interaksi yang kompleks antara tubuh dengan organisme penyebab infeksi. Selain itu, penderita infeksi umumnya mengalami penurunan nafsu makan, sehingga dapat mengalami gangguan penyerapan nutrisi makanan di usus. Kondisi ini turut menyebabkan penurunan berat badan.

Menurut WHO Global TB Report 2018, insiden TBC di Indonesia mencapai 842.000 kasus dengan mortalitas 107.000 kasus. Ini menjadikan Indonesia duduk di peringkat negara dengan beban TBC tertinggi di dunia setelah India dan Tiongkok. Angka tersebut tentu saja memprihatinkan, sehingga dampaknya bisa dirasakan secara sosial maupun ekonomi.

Dengan tergolong tinggi angka kejadian tuberkulosis di Indonesia, sayangnya masih banyak yang tidak menyadari, bahkan tak tahu mengenai penyakit ini, termasuk apa saja gejala awalnya. Padahal, deteksi dini bisa membantu dokter menentukan perawatan dan terapi terbaik, mengurangi komplikasi yang bisa terjadi, serta menurunkan risiko penularan. Dengan begitu, angka kejadian penyakit infeksi ini bisa ditekan.

(RN/ RVS)