Setelah Sterilisasi Pada Wanita, Bisakah Hamil Lagi?
search

Setelah Sterilisasi, Bisakah Hamil Lagi?

Sterilisasi merupakan jenis kontrasepsi permanen. Apakah benar ini efektif mencegah kehamilan? Simak penjelasannya berikut!
Setelah Sterilisasi, Bisakah Hamil Lagi? (Pro Image Content/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Kontrasepsi merupakan cara tepat bagi pasangan yang ingin menunda kehamilan, menjarangkan kehamilan, atau tidak ingin hamil lagi. Saat ini, ada berbagai metode kontrasepsi yang dapat dipilih, tergantung pada tujuan Anda dan pasangan. Jika tidak ingin hamil atau memiliki keturunan lagi, Anda bisa memilih metode kontrasepsi sterilisasi atau KB steril.

Sterilisasi tidak hanya dilakukan pada wanita, tapi juga pada pria. Pada wanita, KB steril yang dapat dilakukan adalah implan tuba dan ligasi tuba (tubektomi). Sementara, pada pria dapat dilakukan prosedur vasektomi.

Pada keadaan normal, sistem reproduksi wanita memiliki dua saluran penghubung indung telur dengan rahim yang dalam istilah medis disebut tuba falopi. Tuba falopi terdapat pada sisi kanan dan kiri dari rahim.

Tuba falopi memiliki fungsi membawa sel telur dari indung telur (ovarium) menuju ke rahim. Setiap satu siklus menstruasi (kurang lebih setiap 1 bulan), indung telur akan melepaskan sel telur yang akan disalurkan ke tuba falopi. Sel telur pun menunggu pembuahan dari sperma dari pria (jika memang berhubungan seksual).

Prosedur implan tuba dan ligasi tuba

Pada implan tuba, prosedur dilakukan dengan memasukkan logam kecil ke tuba falopi melalui vagina dan leher rahim (serviks) sehingga tidak membutuhkan tindakan operasi. Di bagian dalam masing-masing tuba falopi akan diisi satu logam. Logam ini akan menimbulkan reaksi peradangan dalam tuba falopi dan pada akhirnya akan menimbulkan bekas luka atau jaringan parut.

Selanjutnya, seiring berjalannya waktu, bekas luka ini dapat menutup saluran tuba falopi. Akibatnya, sperma pun tidak dapat masuk untuk membuahi sel telur.

Namun, sampai mencapai 3 bulan pasca prosedur implan, wanita tetap disarankan memakai alat kontrasepsi lain, seperti kondom atau pil KB. Ini karena penutupan saluran tuba falopi belum sempurna.

Sementara itu, pada ligasi tuba dibutuhkan tindakan operasi sehingga perlu melakukan sayatan pada area perut wanita. Ligasi tuba dilakukan dengan memotong atau mengikat saluran tuba falopi sehingga dapat mencegah sel telur yang dilepaskan indung telur menuju ke rahim. Jadi, meskipun sperma pria masuk ke saluran reproduksi wanita, sel telur wanita tidak dapat dibuahi dan kehamilan tidak dapat terjadi.

Tingkat keberhasilan strerilisasi pada wanita hampir mencapai 100 persen dalam mencegah kehamilan. Di mana, kegagalan implant tuba lebih besar dibandingkan ligase tuba. Diketahui, bahwa 96 wanita dari total 1.000 wanita kembali hamil pasca menjalani implantuba. Sementara itu,hanya 2-10 orang dari total 1.000 wanita hamil setelah menjalani ligase tuba.

Kehamilan setelah implan tuba dapat disebabkan oleh beberapa hal. Di antaranya, hanya satu tuba falopi yang ditutup, pemasangan implan kurang baik, kehamilan yang terjadi sebelum pemasangan implan, dan tidak menggunakan alat kontrasepsi pendukung saat proses penutupan tuba falopi belum sempurna.

Adapun, kehamilan yang terjadi setelah ligase tuba dapat disebabkan jaringan tuba falopi yang kembali tumbuh serta saling menyatu. Penyebab lainnya, tindakan operasi kurang adekuat.

Vaksetomi pada pria

Di sisi pria, vasektomi merupakan tindakan operasi dengan memotong atau mengingat saluran sperma. Tindakan ini bertujuan untuk menghentikan gerak sperma masuk ke dalam air mani pria. Dengan begitu, saat ejakulasi, air mani pria tidak mengandung sperma dan tidak mampu membuahi sel telur wanita.

Tingkat keberhasilan vasektomi mencapai 99 persen. Hanya kurang dari 1, dari total 100 wanita yang hamil setelah 1 tahun pasangannya menjalani prosedur vasektomi.

Vasektomi berhasil dengan memastikan tidak ada cairan mani dalam sperma. Selama belum dapat dipastikan, pria tetap membutuhkan kontrasepsi pendukung. Jika tidak, tentu saja dapat berisiko menyebabkan kehamilan.

Sterilisasi pada wanita dan pria tetap memiliki risiko kehamilan akibat beberapa hal yang sudah dijelaskan di atas. Di samping itu,Anda dan pasangan yang ingin kembali memiliki keturunan setelah melakukan prosedur sterilisasi dapat mengupayakan beberapa hal. Pada wanita, tindakan operasi penyambungan tuba falopi kembali dapat dilakukan. Sementara pada pria, tindakan operasi penyambungan kembali dilakukan di saluran spermanya. Namun, alangkah baik jika memikirkan dengan matang sebelum memilih metode kontrasepsi bagi Anda dan pasangan.

[HNS/ RVS]

REAKSI ANDA

15 KOMENTAR

Avatar
lely
2 Bulan Lalu

dok sya sedikit penasaran.....klo metode steril pada wanita berarti indung telurnya masih menghasilkan sel telur atw gmn ya dok???

Avatar
Suri Yati
2 Bulan Lalu

Setelah sterilisasi apakah bs punya ank lgi

Avatar
Yohanna Dewi
2 Bulan Lalu

Sore dok..mhn info ny apakah kemungkinan besar kalau sdh steril bisa hamil lagi..setelah melahirkan anak ke 2 sy dan suami sdh niat utk steril dan sdh terjadi..tp setelah SC anak sy ada gangguan di paru2 ny dan hanya bertahan 3 hari😥.dgn kejadian itu jujur sy msh pgn pnya anak lg spy anak sy ada teman ny..apa kah msh bisa dokter..sblm ny trmksh🙏

Avatar
Delia
3 Bulan Lalu

Ass dok saya mau naya apakah saya bisa hamil lgi ... Sudah 2 taun saya buka pasangan ayudi spai saat ini saya belum hamil

Avatar
megawati
5 Bulan Lalu

malam dok. tahun 2015 saya melakukan operasi cecar dan seteril yng d potong.. dan sekrng saya pengen hamil lagi gim y dok:

Tulis Komentar Anda

Masuk KlikDokter untuk
meninggalkan komentar

Masuk
livechat