Minum Air yang Mengandung Mikroplastik, Bahayakah?

Oleh Ayu Maharani pada 22 Mar 2019, 15:30 WIB
Sejumlah air botol kemasan diduga mengandung mikroplastik. Adakah dampaknya pada kesehatan?
Minum Air yang Mengandung Mikroplastik, Bahayakah? (Ollyy/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Tahun lalu tersiar kabar bahwa sejumlah merek ternama air kemasan yang dijual di beberapa negara, termasuk Indonesia, terkontaminasi mikroplastik. Kontaminan ini merupakan jenis plastik berukuran mikroskopis yang sangat sulit dilihat dengan mata telanjang.

Informasi yang cukup mencengangkan tersebut diumumkan oleh Orb Media, yang merupakan sebuah organisasi media nirlaba dari Amerika Serikat. Menurutnya, sebanyak 93% air botolan yang menjadi sampel penelitian mereka mengandung mikroplastik yang bila masuk ke dalam tubuh makhluk hidup bisa memberikan efek negatif.

Dapat mengganggu kerja organ vital

Dilansir dari beberapa sumber, ada dua merek air kemasan ternama Indonesia yang mengandung 4.713 dan 10.390 partikel mikroplastik per liter. Jumlah tersebut cukup banyak untuk ukuran air minum kemasan yang dikonsumsi setiap hari oleh “sejuta” umat.

Perkara tersebut lantas ditanggapi oleh ahli toksikologi dari Universitas Indonesia bernama Budiawan. Kepada Investigasi.tempo.co, dia mengatakan bahwa akumulasi partikel asing yang berukuran kurang dari 8 mikrometer di dalam tubuh dapat mengganggu kerja organ vital, seperti ginjal dan hati. Melengkapi itu, seorang ahli gizi bernama Tan Shot Yen mengungkap bahwa mikroplastik dapat mengganggu pertumbuhan, sistem reproduksi, mencetuskan radikal bebas, dan meningkatkan risiko kanker.

Nah, kalau sudah begitu, apakah mengonsumsi air mineral yang mengandung mikroplastik tidak aman sama sekali?

Pengaruh mikroplastik pada lingkungan dan manusia

Dilansir dari Livescience, sebenarnya belum ada penelitian yang membahas dampak mikroplastik terhadap kesehatan manusia. Sehingga, sulit rasanya untuk langsung mengiyakan bahwa mikroplastik benar-benar berbahaya bagi kelangsungan hidup manusia, bahkan sampai memicu kerusakan organ maupun kanker. Hal tersebut lantas dibenarkan oleh dr. Devia Irine Putri dari KlikDokter.

“Hingga kini penelitian tentang dampak mikroplastik hanya difokuskan pada lingkungan. Belum ada penelitian yang dapat dijadikan acuan pasti tentang dampak buruknya bagi kesehatan manusia. Tapi umumnya, jika tidak baik untuk lingkungan, kemungkinan besar juga tidak baik untuk manusia. Tapi sekali lagi, masih butuh penelitian lebih lanjut terkait batasan kandungan wajar dari mikroplastik dalam air mineral,” jelasnya.

Pada dasarnya, dalam situasi seperti sekarang, akan sangat sulit mencari sumber air yang benar-benar tidak terkontaminasi oleh mikroplastik. Bahkan, sebuah produsen minuman soft drink ternama pun sampai memberi tanggapan terkait permasalahan itu.

Meski mereka sudah memiliki metode penyaringan air yang ketat, keberadaan mikroplastik pasti masih ditemukan pada produknya di tingkat yang sangat kecil. Itulah mengapa, kini masyarakat masih menunggu berapa jumlah batasan yang aman dari konsumsi air yang mengandung mikroplastik.

Keberadaan mikroplastik itu sendiri di dalam sumber air alami yang kemudian menjadi air minum yang Anda konsumsi tentu tidak terjadi secara tiba-tiba. Karena ulah manusia beserta segala limbah yang dihasilkan, sumber air pun terkontaminasi plastik yang mengancam kelestarian lingkungan serta makhluk hidup. Oleh sebab itu, dalam rangka memperingati Hari Air Sedunia, kurangi penggunaan produk plastik dari sekarang. Supaya, kandungan mikroplastik di dalam air atau ekosistem lainnya tidak semakin banyak dan membahayakan kelangsungan makhluk hidup.

(NB/ RVS)