Irma Syahrifat Kenalkan Doula sebagai Sahabat Ibu Hamil

Oleh Ayu Maharani pada 27 Mar 2019, 14:00 WIB
Profesi doula yang menjadi sahabat ibu hamil masih kurang dikenal masyarakat. Irma Syahrifat membagikan cerita inspiratifnya sebagai doula.
Irma Syahrifat Kenalkan Doula sebagai Sahabat Ibu Hamil (Foto: Ayu Maharani/Klikdokter)

Klikdokter.com, Jakarta Sebagian besar masyarakat Indonesia masih belum terlalu familier dengan profesi doula yang dilakoni oleh Irma Syahrifat. Namun belum dikenalnya doula bukan berarti profesi ini tidak dibutuhkan. Doula seperti Irma memiliki tugas memberikan dukungan psikologis, memotivasi dan menemani ibu hamil baik sebelum maupun selama proses persalinan.

Kepada KlikDokter, ibu 3 anak ini membagikan kisahnya sebagai seorang doula saat ditemui di studionya di bilangan Karawaci, Tangerang beberapa waktu lalu. Irma juga membagikan rahasia di balik kesolidan dan keharmonisan keluarganya, meski kerap ia tinggal mengurusi keluarga lain yang menjadi kliennya.

Menuruti panggilan jiwa menjadi doula

Dilansir dari Americanpregnancy.org, kata “doula” berasal dari bahasa Yunani yang berarti women’s servant atau  “pelayan wanita”. Seiring berjalannya waktu, peran doula kini hanya terfokus pada pemberian dukungan moral kepada wanita hamil sehingga tidak lagi memiliki kekhawatiran berlebih saat melahirkan.

Berangkat dari situlah Irma Syahrifat terjun menjadi seorang doula demi memahami, menemani, dan memberikan dukungan psikologis kepada para ibu hamil. Namun uniknya, sebelum menjadi doula, wanita kelahiran 27 Maret 1985 ini adalah seorang arsitek yang sudah memiliki pengalaman selama 7 tahun.

Saat itu Irma mulai mengetahui sedikit demi sedikit tentang hypnobirthing. Di luar profesinya sebagai arsitek Irma mulai tertarik dalam dunia kehamilan dan persalinan. Disadarinya dengan metode tersebut, melahirkan secara normal tampak tidak “semenakutkan” seperti yang biasanya. Sehingga, ia sangat menyayangkan jika kini masih ada wanita modern yang menjadikan proses persalinan normal itu sebagai momok yang menakutkan.

“Dari situ aku merasa perlu ada orang-orang yang bekerja di bidang ini untuk menangani ketakutan dan kekhawatiran tersebut.” tutur Irma.

Seperti panggilan jiwa yang sulit ditahan lagi, akhirnya Irma mengikuti pelatihan doula internasional untuk pertama kalinya di Bali. Pelatihan doula yang ia ikuti pada waktu itu diselenggarakan oleh Robin Lim, pendiri Yayasan Bumi Sehat.

Mendapatkan pelatihan sekali saja, tentu tak bisa langsung membuatnya sebagai doula. Butuh waktu setidaknya satu tahun bagi Irma untuk mengurus sertifikasi birth doula dan sertifikasi post-partum doula di Red Tent Doula dan Joy in Birthing.

Dalam proses mendapatkan sertifikasi itu, Irma harus memperbanyak pengalaman pendampingan ibu hamil dan melahirkan, membuat catatan journey, serta merancang treatment self care-love untuk dirinya sendiri usai bekerja.

Ketika akhirnya menyadari cintanya pada profesi doula makin kuat, Irma melihat persamaan doula dengan profesi sebelumnya sebagai arsitek. Baginya kedua pekerjaan yang berbeda tersebut memiliki kemiripan yang krusial.

“Saat menjadi arsitek, aku membantu keluarga untuk mendapatkan hidup yang lebih baik dari sebuah rumah. Sedangkan ketika menjadi doula, aku membantu keluarga untuk mendapatkan hidup yang lebih baik dengan cara menemani selama proses kehamilan dan persalinan,” jelas Irma sambil tersenyum. 

1 of 3

Menyeimbangkan tugas sebagai doula dan waktu untuk keluarga

Menyeimbangkan tugas sebagai doula dan waktu untuk keluarga (Foto: Ayu Maharani/Klikdokter)
Menyeimbangkan tugas sebagai doula dan waktu untuk keluarga (Foto: Ayu Maharani/Klikdokter)

Saat memutuskan menjadi doula, Irma menyadari konsekuensi bahwa waktunya untuk keluarga akan tersita oleh kebutuhan keluarga lain yang menjadi kliennya. Namun, Irma tetap berusaha menyeimbangkan waktu dan prioritas untuk keluarganya.

”Ya, yang pasti, aku dan partner doula-ku itu saling back up. Misalkan dalam satu bulan ada 4 kelahiran, dia menangani 2 klien dan aku juga pegang 2. Kalau 30 jam ibu baru melahirkan, kami juga mesti saling back up supaya tetap punya waktu untuk diri sendiri dan keluarga,” Irma menjelaskan.

Selain pembagian jatah kerja yang baik dengan mitra kerjanya, memiliki keluarga yang memahami tugasnya sebagai doula, amatlah penting bagi Irma. Tentu saja karena keluarga adalah support system yang penting.

Irma sadar bahwa ia tidak sepenuhnya bisa menemani anak-anaknya. Dalam kondisi demikian memiliki pengasuh anak yang mumpuni juga sangat penting. Dan menurut Irma, akan lebih baik lagi bila yang menjadi pengasuh anak selama dia bekerja masih anggota keluarganya sendiri.

Selain itu, komunikasi dengan video call juga menjadi cara Irma untuk menjaga keharmonisan keluarga meski terkadang mereka dipisahkan oleh jarak. Irma juga menyebut bahwa ia juga tak sungkan berbagi cerita dengan suaminya tentang pengalamannya sebagai doula.

“Suami saya pernah bilang, kalau dia itu adalah doula-nya doula,” tutur Irma tentang suaminya yang sebelum Irma menjadi doula, sang suamilah yang dengan setia menemani dan mengurusnya selama kehamilan dan melahirkan.

“Jadi, kalau Anda ingin kekompakan keluarga tetap terjaga, perkuat komunikasi,” Irma menyarankan. Dan ketika Anda benar-benar memiliki waktu untuk kembali ke keluarga, manfaatkanlah waktu tersebut dengan sebaik-baiknya.

2 of 3

Menyeimbangkan emosi untuk tubuh yang sehat

Menyeimbangkan emosi untuk tubuh yang sehat (Foto: Ayu Maharani/Klikdokter)
Menyeimbangkan emosi untuk tubuh yang sehat (Foto: Ayu Maharani/Klikdokter)

Sibuk menjadi doula, membuat Irma harus menjaga kesehatannya agar ia tetap bisa memberikan pelayanan yang terbaik untuk klien sekaligus keluarganya sendiri. Berbeda dengan mitranya yang menjaga kesehatan dengan yoga, Irma mengaku lebih memfokuskan diri pada pengelolaan stres dan emosi.

“Iya, aku memang enggak terlalu sering berolahraga, tapi aku selalu menjaga kondisi tubuh dengan mengelola emosi. Karena kondisi emosional yang tidak oke akan membuat tubuh menjadi tidak sehat, kan?” kata Irma.

Cara Irma menyehatkan kondisi emosinya adalah dengan kembali kepada keluarga, khususnya anak-anak. Baginya cara ini merupakan self-healing yang paling mudah dan murah yang bisa dilakukan oleh seorang ibu yang sibuk bekerja.

Selain itu, Irma juga tidak pernah melupakan sarapan dan selalu menjaga waktu makannya selalu tepat waktu. Ia bahkan selalu menyempatkan mengunyah sesuatu meski sedikit ketika sedang menjalankan tugasnya sebagai doula.

Tak cuma soal waktu makan, Irma juga selalu mengisi ulang energinya dengan tidur yang cukup lama, serta tidak melakukan aktivitas berat pada H+1 setelah bekerja. Merendam kaki dengan air hangat yang diberi campuran garam serta essential oil juga menjadi cara Irma mengusir penat. Dengan cara tersebut, rasa pegal yang ditimbulkan usai bergerak aktif mengurus keluarga lain bisa segera mereda.

Pada akhirnya, apa pun pekerjaan yang didasarkan oleh panggilan jiwa tidak akan pernah terasa sebagai beban. Dan itulah yang dirasakan oleh Irma Syahrifat dalam menjalani tugasnya sebagai doula selama beberapa tahun ini.

Hadirnya doula bagi ibu hamil bukanlah menjadi pengganti peran suami atau keluarga. Keberadaannya justru memberikan dukungan bagi semuanya, terlebih lagi bagi si ibu yang akan melahirkan. Dan karena kontribusinya yang besar itu, Irma Syahrifat, menemukan kebahagiaan yang besar pula dalam menjalankan profesinya sebagai doula.

[RVS]

Lanjutkan Membaca ↓