Penggunaan Tampon Bisa Picu Kanker Serviks?

Oleh dr. Atika pada 27 Mar 2019, 14:30 WIB
Tak sedikit orang yang curiga bahwa penggunaan tampon bisa picu kanker serviks. Berikut ini adalah fakta medisnya.
Penggunaan Tampon Bisa Picu Kanker Serviks? (Fotos593/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Selain kanker payudara, kanker leher rahim atau kanker serviks juga menjadi salah satu momok bagi para wanita. Bagaimana tidak, jenis kanker ini telah merenggut nyawa banyak wanita di berbagai belahan dunia. Rumor atau mitos pun banyak beredar. Salah satu rumornya adalah bahwa penggunaan tampon dipercaya bisa picu kanker serviks. Apakah anggapan tersebut didukung oleh fakta medis?

Berdasarkan angka, kanker serviks adalah jumlah kanker peringkat ketiga yang paling banyak diderita di dunia, serta merupakan kanker penyebab kematian terbanyak di negara-negara berkembang. Diperkirakan lebih dari 270.000 kematian di dunia setiap tahunnya terjadi akibar kanker serviks. Bahkan, sebanyak 85 persen di antaranya terjadi di negara berkembang. Sungguh mengkhawatirkan, bukan?

Oleh karena itu, Anda sebagai wanita harus waspada terhadap kanker serviks. Berbagai upaya wajib dilakukan untuk mencegah terjadinya keganasan ini. Sebagai awal yang baik, cari tahu informasi seputar kanker serviks sebanyak mungkin yang didukung oleh fakta, mulai dari gejala, penanganan, hingga cara deteksi dini.

Salah satu isu yang beredar seputar kanker serviks adalah kaitannya dengan penggunaan tampon yang bisa memicunya. Apakah ini benar?

Sebeluh menjawabnya, perlu diketahui bahwa kanker serviks dimulai dari infeksi human papillomavirus (HPV). Virus HPV yang masuk ke tubuh memulai terjadinya perubahan pertumbuhan sel yang tidak normal, hingga terjadi kanker.

Virus HPV disebarkan antara satu orang ke orang lainnya lewat kontak kulit dengan area yang terinfeksi HPV, termasuk hubungan seksual lewat vagina, anus, maupun mulut.

Umumnya kanker leher rahim bisa menyerang seseorang tanpa adanya gejala apa pun. Kanker leher rahim bisa ditemukan lewat pemeriksaan skrining pap smear, dan tidak disadari oleh penderita.

Gejala yang juga dapat timbul pada penderita kanker serviks antara lain:

  • Perdarahan vagina yang tidak normal, utamanya setelah berhubungan seksual
  • Rasa tidak nyaman di vagina
  • Adanya keputihan yang berbau di vagina
  • Nyeri saat buang air kecil

Gejala-gejala yang muncul umumnya melibatkan area vagina. Hal ini tidak mengherankan mengingat leher rahim merupakan area terbawah rahim yang menghubungkannya dengan liang vagina.

1 of 2

Benarkah tampon bisa memicu kanker serviks?

Tampon merupakan produk kebersihan wanita (female hygiene product) yang berfungsi untuk menyerap darah menstruasi. Berbeda dengan pembalut, tampon digunakan dengan cara dimasukkan ke dalam liang vagina. Jika sudah dimasukkan secara benar, tampon tidak akan bergeser, sehingga dapat menyerap darah haid tanpa mengotori celana dalam.

Meski kurang populer di Indonesia, tetapi pemakainya menganggap tampon lebih nyaman dibandingkan dengan pembalut biasa. Penggunaan tampon yang dimasukkan ke dalam vagina membuat penggunanya tidak perlu repot atau tidak nyaman akibat gesekan pembalut dan permukaan area kewanitaan.

Pengguna pun bisa tetap berpakaian dengan nyaman, misalnya legging, yang kalau menggunakan pembalut biasa mungkin bisa terlihat dari luar. Tampon juga tergolong nyaman ketika dipakai untuk berolahraga.

Tampon terbuat dari bahan katun maupun rayon. Selama digunakan, ukuran tampon akan membesar karena menyerap darah, dan harus diganti beberapa kali sehari demi menjaga kesehatan.

Kaitan tampon dan kanker serviks memang masih diperdebatkan. Secara mekanisme, peneliti tidak memperoleh kaitan antara tampon dan infeksi kuman HPV yang dapat menyebabkan kanker serviks. Namun, hasil studi kohort Ludwig-McGill yang meneliti kanker serviks dalam skala besar mendapatkan keterkaitan antara penggunaan tampon dan peningkatan infeksi HPV.

Penelitian yang dilakukan oleh Shaw E dkk. tersebut mendapatkan fakta bahwa angka penggunaan tampon pada penderita kanker serviks cukup tinggi. Mereka berspekulasi bahwa penggunaan tampon dapat menyebabkan kekeringan dan iritasi vagina serta leher rahim. Akibatnya, kerentanan infeksi HPV akan meningkat akibat abrasi dan kerusakan permukaan jaringan yang terjadi.

Jadi, kesimpulan terkait anggapan penggunaan tampon bisa picu kanker serviks diambil berdasarkan data prevalensi penggunaan tampon pada penderita kanker serviks. Meskipun begitu, hasil ini sebaiknya tetap menjadi peringatan bagi wanita untuk tetap waspada hingga terbukti sebaliknya. Bagi Anda yang menggunakan tampon maupun pembalut, tetaplah lakukan skrining rutin kanker serviks setiap 3 tahun sekali bila telah berusia di atas 21 tahun atau telah aktif secara seksual.

(RN/ RVS)

Lanjutkan Membaca ↓