Bergerak Bersama untuk Tangkal Tuberkulosis

Oleh Rudolf Santana pada 29 Mar 2019, 14:00 WIB
Tuberkulosis tidak bisa dihadapi sendiri oleh si penderita. Demi membebaskan Indonesia dari tuberkulosis, semua harus bergerak bersama.
Bergerak Bersama untuk Tangkal Tuberkulosis (Foto: Rudolf Santana/Klikdokter)

Klikdokter.com, Jakarta Naiknya peringkat Indonesia dari urutan tiga ke urutan dua  setelah India dalam daftar negara yang memiliki kasus tuberkulosis (TB) terbanyak di dunia, membuka mata banyak pihak. Penyakit yang diakibatkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis dan sudah ada sejak jaman Firaun ini memang mudah menular.

Disinggung oleh mantan menteri kesehatan RI –dr. Achmad Sujudi– saat  bertandang ke redaksi KlikDokter beberapa waktu lalu, tuberkulosis memang mudah tersebar melalui udara (airborne disease). Namun, penyakit yang dulu identik dengan negara-negara berkembang –karena faktor kemiskinan– kini mulai diwaspadai oleh seluruh masyarakat dunia, karena ada beragam faktor pemicu lainnya seperti HIV/AIDS dan migrasi manusia.

Menangkal tuberkulosis sebelum terjadi

Keprihatinan tentang penyebaran tuberkulosis menjadi tema sentral acara talkshow tentang tuberkulosis yang diadakan Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta bekerja sama dengan KNCV Tuberculosis Foundation. Uniknya, bukan ketakutan terhadap tuberkulosis yang menjadi sorotan, melainkan harapan dan partisipasi aktif masyarakat untuk menangkal tuberkulosis.

KNCV atau Koninklijke Nederlandse Centrale Vereniging tot bestrijding der Tuberculose merupakan organisasi nirlaba internasional, yang berfokus pada pengentasan tuberkulosis (TB) di seluruh dunia dengan memperkuat sistem kesehatan dalam penanggulangan TB di tingkat global dan lokal. KNCV mulai beroperasi di Indonesia sejak September 2002 lewat program Tuberculosis Coalition for Technical Assistance (TBCTA) dengan dana hibah dari USAID.

Acara diskusi publik sekaligus pameran foto bertema “A Story of Hope” tersebut diadakan di Pusat Kebudayaan Belanda Erasmus Huis Jakarta Selatan, pada Senin (25/3) lalu. Perwakilan dari sejumlah instansi yang hadir menghidupkan diskusi antara lain Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta, Suku Dinas Kesehatan se-DKI Jakarta, serta perwakilan dari puskesmas se-DKI Jakarta.

Selain itu hadir pula perwakilan beberapa perusahaan yang aktif menjalankan CSR Jakarta, serta perwakilan dari beberapa sekolah di Jakarta. Hal ini seakan membuktikan bahwa semua komponen masyarakat memiliki peran penting dalam menangkal penularan penyakit tuberkulosis.

Meski acara berlangsung terlambat dari waktu yang dijadwalkan, diskusi berlangsung hidup dan penuh gelak tawa. Tuberkulosis tidak dipandang sebagai sebuah penyakit menular yang mematikan, namun sebuah tantangan yang memang harus dihadapi bersama.

Country Director KNCV Indonesia, Erik Post, memandang bahwa tuberkulosis yang kini dihadapi Indonesia menjadi tantangan yang harus dihadapi oleh semua pihak. Post sendiri menilai bahwa keterlibatan masyarakat dalam memagari merebaknya TB menjadi kunci penting dalam pencegahan penyakit ini.

1 of 2

Kontribusi nyata masyarakat menangkal TB

Kontribusi nyata masyarakat menangkal TB (Foto: Rudolf Santana/Klikdokter)
Kontribusi nyata masyarakat menangkal TB (Foto: Rudolf Santana/Klikdokter)

Perspektif melihat tuberkulosis sebagai tantangan dan keberanian menghadapinya bersama-samalah yang disoroti oleh Kepala Puskesmas Kecamatan Setiabudi, Nisma Hidin, salah satu narasumber dalam diskusi tersebut. Menurutnya pemerintah memang bertanggung jawab atas hal ini. Namun juga perlu keterlibatan seluruh lapisan masyarakat umum termasuk instansi pendidikan –seperti sekolah-sekolah dan pesantren– serta perusahaan-perusahaan, melalui program CSR mereka.

Wiworo Ningsih AMK perawat dari Puskesmas Kramat  Jati yang juga bertindak sebagai koordinator TB mengakui bahwa saat ini  tuberkulosis memang sudah tidak bisa ditangani sendiri oleh fasilitas kesehatan seperti puskesmas.

“Oleh karena itu kami lalu melakukan pendekatan ke sekolah-sekolah untuk berpartisipasi dalam melakukan tindakan pencegahan,” tutur Woro.

Menurutnya, anak-anak sekolah yang cerdas dan cekatan bisa menjadi kader yang bisa memberikan pengaruh positif kepada lingkungan sekitarnya.

Beberapa perwakilan sekolah yang hadir dengan bangga menyatakan bahwa murid-murid mereka sudah berperan aktif dalam mencegah merebaknya TB, dimulai dari rumah. Murid-murid yang terlibat sebagai Jumantuk (juru pemantau batuk), memanfaatkan aplikasi TB untuk melakukan skrining kepada orang-orang di sekitarnya. 

Pemanfaatan teknologi semacam itu menurut Woro juga bisa dilakukan untuk memberikan edukasi secara intens kepada masyarakat. Harapannya seluruh lapisan masyarakat bisa lebih memahami penyakit tuberkulosis sehingga bisa menghapus stigma yang melekat pada penderita tuberkulosis.

Tingginya angka kasus tuberkulosis di Indonesia dan kemampuan pemerintah yang terbatas dalam menangani penyakit ini tidak perlu menjadi batu sandungan. Keterlibatan seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menghadapi dan menangkal tuberkulosis, bisa menjadi kunci yang ampuh jika dilakukan secara konsisten dan berkesinambungan.

[RH]

Lanjutkan Membaca ↓