Generasi Bumerang, Ada Efeknya bagi Mental Anak dan Orang Tua?

Oleh Ayu Maharani pada 31 Mar 2019, 17:00 WIB
Setelah generasi milenial, kini ada sebutan generasi bumerang di kalangan anak muda. Apa efek generasi ini bagi mental anak dan orang tua?
Generasi Bumerang, Ada Efeknya bagi Mental Anak dan Orang Tua? (Africa-Studio/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Sebagian anak yang tumbuh dewasa memutuskan untuk hidup mandiri di kota orang dan mencari sumber penghidupan sendiri. Namun, tak sedikit juga yang pada akhirnya kembali ke rumah orang tua karena gagal membangun karir. Seperti dilansir dari Verywell Health, golongan tersebutlah yang dimaksud dengan generasi bumerang.

Di Amerika sendiri, kelompok ini mencakup kira-kira 1 dari 3 orang yang berusia antara 18-34 tahun. Artinya, semakin banyak pula orang tua yang dihadapkan dengan anak-anak dewasa mereka yang kembali ke rumah dan menimbulkan masalah baru, khususnya masalah keuangan.

Sebab, rata-rata generasi bumerang sudah berusia 30 tahun, sehingga orang tua mereka pun sudah mendekati usia pensiun. Jika Anda juga perantau dan agar terhindar dari kemungkinan menjadi generasi bumerang, ketahui dan hindari berbagai penyebabnya.

Penyebab munculnya generasi boomerang

Sebenarnya, fenomena kembalinya anak yang sudah dewasa ke rumah orang tua tidak hanya terjadi era sekarang. Pada tahun 1880 dan 1940, kondisi seperti ini juga pernah terjadi, bahkan jumlah persentasenya lebih tinggi.

Sedangkan pada tahun 60-an, orang dewasa muda yang kembali ke rumah orang tuanya mengalami penurunan yang cukup drastis. Atau dengan kata lain, orang tua dari generasi bumerang ini merupakan generasi perantau.

Menurut sebuah laporan dari Pew Research Center, tren orang dewasa muda yang kembali ke rumah orang tuanya disebabkan oleh sebuah kenyataan bahwa generasi sekarang, terutama di luar negeri, umumnya tidak menikah sebelum usia mereka menginjak 35 tahun.

Sehingga, tanpa adanya bantuan sumber pendapatan dari pasangan, ditambah dengan meningkatkan biaya sewa dan harga jual beli rumah di kota-kota besar, orang dewasa muda pun kesulitan untuk tinggal sendiri.

Selain masalah keterlambatan usia menikah, faktor lain yang membuat generasi bumerang ini muncul adalah pekerjaan dan gaji yang terbilang rendah. Generasi bumerang kesulitan menemukan pekerjaan yang nyaman dengan gaji yang tinggi, sehingga mereka sulit memenuhi kebutuhannya sendiri. Atas dasar itulah, mereka memutuskan untuk tinggal lagi bersama orang tuanya sampai mereka benar-benar merasa mapan.

1 of 2

Dampak generasi bumerang bagi mental

Ada anggapan bahwa orang dewasa muda yang kembali ke rumah orang tuanya cenderung kesulitan untuk mengembangkan diri. Mereka merasa tidak memiliki kepuasan hidup, sehingga kondisi emosinya menjadi kurang stabil.

Kekecewaan akan dirinya sendiri muncul karena harapan hidup yang dulu ia dambakan tidak tercapai. Belum lagi bila ada omongan orang lain yang mengatakan  orang yang tinggal di rumah adalah pemalas ataupun menandakan hidup yang tidak sukses.

Kalau sudah begitu, anak akan semakin terpuruk dan bukan tak mungkin dia melampiaskannya ke orang lain, dalam hal ini orang tuanya sendiri.

Sementara itu, menurut sebuah studi yang dilakukan oleh London School of Economics (LSE), orang tua yang mendapati anak dewasanya kembali ke rumah mengalami penurunan kualitas hidup.

Saat anak-anaknya meninggalkan rumah, hubungan perkawinan biasanya membaik dan orang tua menemukan keseimbangan hidup yang baru. Mereka bisa mengisi sisa hidupnya dengan melakukan hobi baru, bepergian, dan berpartisipasi dalam berbagai kegiatan.

Nah, saat anak mereka kembali, orang tua cenderung merasa frustasi karena tugas mereka sebagai “pengasuh” seakan-akan belum juga usai. Belum lagi bila ada masalah ekonomi yang mengintai anak mereka dan memengaruhi keluarga. Tekanan hidup dan stres berat bisa saja memengaruhi kualitas kesehatan orang tua.

Agar generasi bumerang tak menimbulkan stres

Untuk meminimalkan efek buruk pada mental orang tua dan anak yang termasuk dalam generasi bumerang, sebaiknya kedua belah pihak (dapat dimulai oleh orang tua dulu) mendiskusikannya secara demokratis.

Lagi pula, menurut dr. Fiona Amelia MPH dari KlikDokter, pola asuh demokratis merupakan cara mengasuh anak yang paling baik, sekalipun anak yang sedang dihadapi sudah dewasa. Cobalah bicara secara terbuka tentang kesepakatan, aturan, atau pembagian tanggung jawab yang jelas di rumah.

Selain itu, alih-alih memanjakan mereka, lebih baik orang tua generasi bumerang terus memberikan motivasi agar anak yang kembali ke rumah sebisa mungkin tidak melampiaskan kekecewaan hidupnya terhadap orang tua mereka.

Memutuskan untuk menjadi perantau dan hidup mandiri memang bukan hal yang mudah. Tak heran kemudian muncul generasi bumerang, yakni anak yang merasa gagal sebagai perantau dan kembali ke rumah orang tua. Sebisa mungkin bila Anda mengalaminya, hindari melampiaskan emosi kepada orang tua Anda.

[NP/ RVS]

Lanjutkan Membaca ↓