Efek Samping Botox yang Perlu Anda Tahu

Oleh dr. Muhammad Iqbal Ramadhan pada 01 Apr 2019, 10:00 WIB
Sebelum melakukan sebuah tindakan perawatan kecantikan, seperti botox, Anda wajib tahu apa saja efek samping yang mungkin muncul.
Efek Samping Botox yang Perlu Anda Tahu (Olena Yakobchuk/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Menjadi cantik dan terlihat awet muda adalah dambaan banyak orang. Salah satu cara yang umum dipilih untuk mencapai hal tersebut adalah botox.

Prosedur injeksi wajah tersebut dikenal efektif untuk menghilangkan atau mengurangi munculnya garis-garis halus dan kerutan wajah. Namun, meski efektif mengurangi kerutan, efek botox di kulit hanyalah bersifat sementara.

Apa itu botox?

Botox adalah botolinum toxin, sejenis racun neurotoksin yang kuat dan dihasilkan oleh bakteri Clostridium botulinum. Pada awalnya, toksin ini diidentifikasi sebagai racun mematikan yang diperoleh dengan memakan makanan yang terkontaminasi Clostridium botulinum. Dampak virus ini cukup serius, yakni menyebabkan kelumpuhan saraf berkepanjangan dan lemas otot, yang disebut botulisme.

Namun, seiring perkembangan medis, injeksi botolinum toxin kemudian digunakan untuk beberapa perubahan otot yang mungkin terjadi pasca stroke. Namun saat ini, prosedur penyuntikan botox ini marak digunakan di dunia kecantikan dan terbilang aman jika dilakukan oleh tenaga medis yang kompeten.

Botox bekerja menghambat sinyal saraf asetilkolin yang ada dalam otot serta membuatnya lebih rileks. Ketika otot-otot di wajah Anda rileks, permukaan kulit akan lebih halus dan mengencang. Dampaknya, berbagai kerutan di wajah Anda akan hilang.

Ketahui efek sampingnya

Usai melakukan prosedur botox, beberapa efek samping dapat muncul pada pasien. Efek samping dan risiko yang paling sering muncul biasanya reaksi setempat pada area suntikan, seperti memar, kemerahan, nyeri, dan infeksi di area penyuntikan.

Efek lain yang mungkin terjadi adalah sakit kepala dan gejala seperti flu juga terkadang muncul pada beberapa kasus. Dalam kasus yang jarang terjadi, mungkin ada kelopak yang tidak bisa membuka atau daerah alis yang sulit terangkat jika digerakkan.

Penting bagi dokter untuk menilai kelopak mata pasien sebelum menyuntik. Itu karena beberapa pasien mungkin bukan “kandidat” yang baik jika dia memiliki jenis kelopak mata yang sangat turun atau terlihat sayu.

Ptosis (penurunan kelopak mata yang parah) dapat terjadi hingga 5 persen dari pasien, tetapi sangat jarang terjadi jika dokter kompeten yang melakukan prosedur ini. Komplikasi ini biasanya merupakan kejadian yang sangat kecil dan sifatnya hanya sementara waktu.

Di sisi lain, ada kekhawatiran tentang transmisi toksin botulinum retrograde, yaitu toksin tersebut dapat melakukan perjalanan kembali ke sistem saraf pusat. Bila terjadi, kondisi ini dapat menyebabkan kerusakan jangka panjang. Namun, hingga kini penelitian masih berlangsung dan efek jangka panjang tersebut belum dapat dibuktikan secara ilmiah.

Selanjutnya, jika Anda alergi terhadap suatu zat spesifik botox ataupun telur, sangat penting untuk tidak menggunakan botox. Hal tersebut karena larutan tersebut terbuat dari basis albumin (telur). Jadi, sangat penting pemeriksaan kesehatan keseluruhan dilakukan sebelum prosedur botox dilakukan.

Hingga saat ini, prosedur botox juga tidak direkomendasikan bagi wanita yang sedang hamil dan menyusui (kategori kehamilan C). Anda pun harus menunggu hingga usai melahirkan dan tidak menyusui lagi bila ingin menjalani prosedur botox.

Penting bagi Anda untuk menimbang manfaat dan efek samping yang mungkin muncul sebelum melakukan tindakan botox. Anda juga harus mempertimbangkan saran dokter jika memang telah memiliki indikasi medis untuk melakukan suatu prosedur atau tindakan medis kecantikan. Anda juga harus memastikan bahwa tidak ada kontraindikasi medis yang sekiranya akan muncul sesuai dengan kondisi fisik tubuh. Yang terpenting, lakukan botox dengan tenaga medis yang kompeten atau klinik kecantikan yang tepercaya untuk meminimalkan efek sampingnya.

[HNS/ RVS]