Ingin Memulai Diet, Perlukah Konsultasi ke Dokter Terlebih Dahulu?

Oleh dr. Karin Wiradarma pada 01 Apr 2019, 13:45 WIB
Sebelum mulai diet, biasanya orang disarankan untuk konsultasi dengan dokter agar hasilnya optimal. Tapi, apakah hal ini memang diperlukan?
Ingin Memulai Diet, Perlukah Konsultasi ke Dokter Terlebih Dahulu? (Iakov Filimonov/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Setiap orang tentunya mendambakan tubuh langsing dengan berat badan ideal. Seiring dengan perkembangan zaman, masyarakat modern sangat memperhatikan penampilan. Tidak hanya perawatan untuk ketampanan dan kecantikan, namun masyarakat dewasa ini sudah lebih sadar terhadap pentingnya diet.

Tidak heran jika kini semakin banyak orang berusaha untuk menurunkan berat badan dengan berdiet. Ada banyak jenis diet yang sangat populer di masyarakat, mulai dari diet mayo, diet OCD, diet keto, diet Atkins, dan lain-lain.

Sebagian besar orang memang secara mandiri melakukan berbagai program diet tersebut. Bahkan, tidak sedikit dari mereka yang ingin turun berat badan dengan cara mudah, kemudian nekat mengonsumsi obat pelangsing tanpa berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu.

Padahal, menjalankan program diet dan mengonsumsi berbagai suplemen pelangsing yang menggunakan bahan herbal sekalipun dapat menimbulkan efek samping, terlebih jika dilakukan tanpa pengawasan dokter.

Awali dengan menentukan target

Sebelum mulai berdiet, idealnya Anda memerlukan bimbingan dokter spesialis gizi untuk menentukan target penurunan berat badan.

Oleh sebab itu, sebelum mulai menentukan pola diet yang tepat, perlu dilakukan serangkaian pemeriksaan untuk menghitung indeks massa tubuh (IMT). Dokter akan menentukan apakah IMT Anda berlebih (overweight) atau sangat berlebih (obesitas).

Dari hasil pemeriksaan tersebut, Anda dan dokter dapat menyepakati kecepatan penurunan berat badan yang diinginkan, beserta target berat badan impian. Kecepatan menurunkan berat badan sangat penting, karena terlalu cepat atau terlalu lambat sama-sama berdampak kurang baik bagi kesehatan.

Target penurunan berat badan yang dianjurkan adalah 0,5-1 kg per minggu. Penurunan berat badan yang terlalu cepat (lebih dari 2 kg per minggu) dapat meningkatkan risiko timbulnya batu empedu, serta kulit mengendur akibat penyusutan berat badan yang terlalu drastis.

Selain pemeriksaan berat badan dan tinggi badan, tidak jarang dokter spesialis gizi juga menganjurkan pemeriksaan awal berupa cek darah di laboratorium secara rutin, mengetahui profil lipid (lemak tubuh), gula darah, asam urat, fungsi hati, dan fungsi ginjal.

Selain pemeriksaan dasar tersebut, dokter juga bisa menganjurkan pemeriksaan lain yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing individu.

1 of 2

Keamanan program diet

Hati-hati, sembarangan menjalankan program diet tanpa supervisi dokter dapat berakibat negatif bagi kesehatan. Misalnya, ada orang yang hanya makan 2 kali sehari hanya dengan asupan buah, sayur, jus, dan sedikit daging, tanpa nasi atau sumber karbohidrat sama sekali.

Tak heran jika dalam 1 minggu berat badan orang tersebut bisa turun drastis. Namun, apakah hal tersebut sehat?

Pada dasarnya, tubuh membutuhkan nutrisi lengkap yang terdiri dari karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral. Berdiet terlalu ketat yang tidak memperhatikan pemenuhan kebutuhan nutrisi yang seimbang dapat berisiko menimbulkan malnutrisi atau penyakit lainnya.

Bahkan, penelitian membuktikan bahwa menjalankan diet rendah karbohidrat (seperti diet keto dan diet Atkins) dalam jangka waktu lama dapat membahayakan kesehatan. Diet keto menerapkan konsumsi lemak sebagai bagian utama (>60 persen) dari makanan sehari-hari, dan menyantap sangat sedikit karbohidrat.

Berbeda dengan diet keto yang mengagungkan lemak, diet Atkins menerapkan protein sebagai sumber utama asupan (30-50 persen).

Kedua diet tersebut dianggap sukses dalam menurunkan berat badan dalam waktu yang relatif singkat. Hal tersebut masuk akal, karena keduanya membatasi konsumsi karbohidrat yang dituding menjadi kambing hitam peningkatan berat badan secara berlebihan.

Penelitian membuktikan bahwa mereka yang menjalankan diet rendah karbohidrat (kurang dari 32 persen) dalam jangka panjang lebih berisiko mengalami penyakit kronis seperti penyakit jantung, stroke, kanker, dan kematian dini.

Selain itu, konsumsi terlalu banyak lemak pada diet keto (apalagi lemak jahat) dapat berisiko meningkatkan kadar kolesterol. Begitu pula dengan terlalu banyak mengonsumsi protein pada diet Atkins dapat meningkatkan risiko terjadinya batu ginjal dan penurunan fungsi ginjal.

Mintalah bantuan ahlinya

Melihat berbagai efek samping di atas, tentunya akan lebih aman apabila Anda mendapatkan panduan dari dokter spesialis gizi sebelum memulai program diet.

Dokter spesialis gizi akan membantu menilai kondisi kesehatan Anda, serta membantu memilihkan program diet yang sesuai, bahkan membuatkan menu untuk Anda terapkan sehari-hari.

Dengan melakukan konsultasi tersebut, diet yang Anda lakukan lebih sesuai dengan profil tubuh, serta lebih terukur. Pada akhirnya, hasil yang didapatkan setelah menjalani diet pun menjadi lebih optimal.

Demikian pentingnya melakukan konsultasi dengan dokter atau ahli gizi sebelum menjalankan program diet tertentu. Selain lebih terjamin sukses mendapatkan berat badan ideal, tubuh pun tetap sehat dan terhindar dari masalah kesehatan lainnya. Jadi, biasakan berkonsultasi sebelum berdiet, ya!

[NP/ RVS]

Lanjutkan Membaca ↓