Gemar Makan Keju, Apakah Baik bagi Kesehatan?

Oleh dr. Nitish Basant Adnani BMedSc MSc pada 05 Apr 2019, 08:00 WIB
Anda gemar makan keju? Rasanya asin, gurih, lembut dan meleleh di lidah. Namun, apakah keju baik bagi kesehatan? Ini faktanya.
Gemar Makan Keju, Apakah Baik bagi Kesehatan? (Andrey_Popov/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Keju adalah salah satu bahan tambahan yang kerap dicampurkan ke berbagai jenis hidangan. Mulai dari piza, pasta, roti, risoles, martabak, mi, atau dijadikan sebagai cocolan. Keju sering kali menjadi penambah cita rasa dari makanan yang disantap. Pokoknya, apa pun dengan tambahan keju pasti laris manis! Nah, untuk yang gemar makan keju, Anda perlu mengetahui apakah keju yang Anda konsumsi tak hanya enak di lidah, tetapi juga baik bagi kesehatan.

Menurut sebuah artikel di CNN, meskipun rasanya gurih dan lezat dan memiliki nutrisi yang kaya, keju sebaiknya dikonsumsi dalam porsi kecil. Kelly Pritchett, seorang ahli gizi dan juru bicara dari Academy of Nutrition and Dietetics mengemukakan, bahwa keju memang mengandung berbagai nutrisi yang penting, termasuk protein, kalsium, vitamin B12, dan zink. Namun, kalori yang dikonsumsi dapat meningkat dengan pesat bila Anda mengabaikan jumlah yang dikonsumsi.

Mengetahui jumlah kalori berbagai jenis keju

Secara umum, keju yang lebih lunak umumnya memiliki kandungan kalori yang lebih sedikit jika dibandingkan keju yang lebih keras. Misalnya, untuk keju lunak, satu ons keju ricotta mengandung sekitar 50 kalori, satu ons keju feta mengandung sekitar 75 kalori, dan satu ons keju mozzarella mengandung sekitar 85 kalori. Sedangkan, untuk keju keras, satu ons keju Swiss bisa mengandung sekitar 108 kalori dan satu ons keju cedar dapat memiliki kurang lebih 114 kalori.

Keju juga kaya akan lemak jenuh. Jika Anda ingat, lemak jenuh diketahui dapat meningkatkan kadar kolesterol low-density lipoprotein (LDL) alias kolesterol jahat di dalam darah. Akan tetapi, beberapa literatur menunjukkan bahwa keju full-fat tidak memengaruhi kolesterol LDL secara negatif seperti yang diperkirakan dari kandungan lemak jenuhnya.

Gregory Miller dari bagian ilmiah National Dairy Council menyampaikan bahwa belum diketahui secara jelas mengapa hal tersebut dapat terjadi. Namun, ia menduga adanya pengaruh dari nutrisi lainnya yang terkandung di dalam keju, seperti kalsium atau protein, yang dapat memodifikasi cara lemak tersebut diserap dan dimetabolisme tubuh.

Bila berbicara mengenai kandungan lemak, sebagian keju lebih sedikit lemaknya. Fakta lainnya, semakin tinggi kandungan lemak, maka semakin tinggi pula kalorinya. Jika Anda ingin keju yang jumlah lemaknya paling sedikit, pilihlah keju cottage, dengan kandungan lemak 4 gram per ons. Sedangkan keju seperti parmesan, Swiss, dan keju cheddar memiliki kandungan lemak yang lebih tinggi, yaitu sekitar 7, 8, dan 9 gram per ons untuk masing-masing keju secara berurutan.

1 of 2

Manfaat keju bagi kesehatan tubuh

Menariknya, terlepas dari kandungan kalori yang relatif tinggi, keju yang lebih keras seperti keju cheddar diam-diam memiliki manfaat untuk kesehatan gigi. Selain adanya kandungan kalsium dan mineral, ternyata konsumsi keju yang teksturnya keras dapat menunjang produksi air liur, yang mengurangi kadar keasaman rongga mulut, termasuk menurunkan kecenderungan terjadinya gigi berlubang.

Untuk ibu hamil, konsumsi keju disarankan untuk membantu pemberian nutrisi yang dibutuhkan bayi. Jenis keju yang direkomendasikan adalah yang bertekstur keras seperti keju cheddar, keju semi lembut seperti mozzarella, atau keju yang telah melalui proses pasteurisasi. Hindari konsumsi keju yang diolah dari susu mentah karena terdapat ancaman bakteri listeria yang berbahaya.

Selain itu, keju mengandung asam lemak tidak jenuh CLA yang diketahui memiliki sifat antikanker. Dalam keju terdapat pula kandungan sphingolipids yang juga baik untuk mencegah kanker.

Keju juga baik untuk kesehatan jantung. Sebuah penelitian membuktikan bahwa konsumsi keju dapat menurunkan risiko mengalami penyakit jantung. Pada penelitian tersebut, didapati bahwa orang-orang yang mengonsumsi keju mengalami penurunan risiko mengalami penyakit jantung koroner hingga 14 persen dibandingkan dengan orang-orang yang jarang atau tidak pernah makan keju.

Manfaat lainnya, keju mengandung antioksidan glutathione yang berguna bagi  kesehatan otak dan mencegah degenerasi saraf akibat proses penuaan.

Karena rasa dan teksturnya, keju menjadi salah satu makanan favorit banyak orang di seluruh dunia. Meski diketahui bernutrisi dan memiliki manfaat bagi kesehatan, Anda yang gemar makan keju dianjurkan untuk mengonsumsinya dalam porsi kecil atau menyesuaikannya dengan rekomendasi asupan harian yang tepat.

(RN/ RVS)

Lanjutkan Membaca ↓