Sembarang Minum Obat Asam Urat Picu Gangguan Ginjal?

Oleh dr. Melyarna Putri pada 06 Apr 2019, 13:00 WIB
Obat asam urat yang dijual bebas konon mampu memicu terjadinya gangguan ginjal. Benarkah demikian? Ini fakta medisnya!
Sembarang Minum Obat Asam Urat Picu Gangguan Ginjal? (Photographee.eu/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Setelah tahu bahwa dirinya mengalami penyakit asam urat, tidak sedikit orang yang tetap enggan berobat ke dokter. Sakit yang dikira ringan itu sering diatasi hanya dengan konsumsi obat warung saja. Padahal, ada anggapan yang menyebut bahwa konsumsi obat asam urat yang dijual bebas mampu memicu terjadinya gangguan ginjal.

Perlu diketahui, penyakit asam urat terjadi ketika tubuh tak lagi mampu membuang zat tersebut. Asam urat itu sendiri diproduksi oleh tubuh, juga bisa didapatkan dari konsumsi makanan yang tinggi kandungan purin seperti jeroan, beberapa jenis ikan laut, dan melinjo.

Penyakit asam urat membuat penderitanya mengalami berbagai gejala. Salah satu yang paling khas adalah nyeri sendi yang biasanya timbul di daerah ibu jari kaki. Selain itu, peningkatan asam urat juga umumnya akan menimbulkan benjolan di lokasi yang sama, yaitu ibu jari kaki.

Karena gejala yang sangat menganggu, banyak penderitanya ingin segera terbebas dari keluhan tersebut. Tak heran, obat yang dijual bebas di warung sering dijadikan sebagai solusi utama. Padahal, medis sangat tidak menyarankan perilaku seperti ini. Sebab, obat yang dijual bebas bisa menimbulkan berbagai efek samping merugikan jika dikonsumsi dalam jangka panjang, apalagi tanpa memperhatikan dosis dan saran konsumsi yang tertera di label kemasan.

Faktanya, penggunaan obat antinyeri golongan NSAIDS (non steroidal anti inflamasi drug) yang sering digunakan untuk mengatasi asam urat dalam jangka panjang dapat menyebabkan efek samping berupa perdarahan saluran cerna. Selain itu, efek samping yang juga sering timbul adalah gangguan ginjal. Hal ini terjadi lantaran obat anti nyeri akan menyebabkan aliran darah di ginjal menurun, sehingga lama-kelamaan akan mengganggu fungsi ginjal. Bila sudah terjadi, seseorang yang mengalami gangguan fungsi ginjal akan mengalami gejala seperti buang air kecil keruh, berbusa, dan jumlah produksi urine menjadi lebih sedikit.

Obat Asam Urat

Anda sebenarnya boleh-boleh saja mengonsumsi obat antinyeri, asalkan di bawah pengawasan dokter. Pada penggunaan jangka panjang ― misalnya untuk mengendalikan penyakit asam urat ― dokter akan menyarankan obat yang aman, sesuai, dan memiliki efek samping paling rendah.

Jika memang terpaksa harus mengonsumsi obat yang dijual bebas dari warung, alangkah baiknya obat tersebut tidak dikonsumsi lebih dari seminggu. Hindari mengoplos alias mencampur-campurkan obat ataupun meningkatkan dosisnya, khususnya jika Anda tidak ingin mengalami efek samping yang benar-benar membahayakan kesehatan.

Sekali lagi diingatkan bahwa obat untuk penyakit asam urat atau penyakit lain yang dijual bebas di warung boleh saja dikonsumsi, asalkan tidak lebih dari 1 minggu. Selalu perhatikan anjuran dosis, saran konsumsi, dan indikasi yang tertera di label kemasan untuk menghindari segala efek samping yang mungkin terjadi. Jika dalam beberapa hari keluhan masih dirasakan, hindari mengoplos atau menambah dosis sesuka hati. Akan lebih baik bila Anda berobat ke dokter untuk mendapatkan penanganan dengan lebih pasti.

(NB/ RVS)