Kondisi yang Tidak Diperbolehkan Mendapatkan Vaksin Difteri

Oleh dr. Sara Elise Wijono MRes pada 07 Apr 2019, 10:00 WIB
Meski vaksin difteri sangat penting, tetapi ada beberapa kondisi yang tidak diperbolehkan mendapatkan vaksin ini. Apa saja?
Kondisi yang Tidak Diperbolehkan Mendapatkan Vaksin Difteri (New-Africa/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Tak ada yang menginginkan infeksi menular kembali mewabah seperti pada tahun 2017 lalu. Di Indonesia, umumnya perlindungan terhadap penyakit difteri diberikan dalam bentuk vaksin DPT. Selain difteri, vaksin tersebut juga melindungi penerimanya dari penyakit pertusis (batuk rejan) dan tetanus, dimana ketiganya menular dan bisa berdampak fatal. Jika Anda belum mendapatkan vaksin difteri, jangan tunda untuk mendapatkannya. Meski demikian, ada beberapa kondisi yang tidak diperbolehkan mendapatkan vaksin ini.

Difteri adalah penyakit saluran pernapasan akut yang disebabkan oleh toksin dari bakteri Corynebacterium diphtheriae. Penyakit ini sangat menular dan dapat mengancam nyawa jika tidak segera ditangani, khususnya anak-anak usia 1-10 tahun karena bisa akibatkan kematian dalam kurun waktu 3-4 hari saja. Difteri biasanya terjadi pada tenggorokan, hidung, dan terkadang pada kulit dan telinga.

Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), imunisasi difteri dapat dikatakan lengkap apabila:

  • Diberikan tiga kali pada anak di bawah usia 1 tahun
  • Diberikan vaksin ulang sebanyak dua kali untuk anak usia 1-5 tahun
  • Kembali mendapatkan vaksin ulang saat anak berusia sekolah melalui program Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS)
  • Vaksin ulang setiap 10 tahun pada orang dewasa

Dengan mengikuti jadwal imunisasi yang sesuai, maka antibodi yang dibentuk setelah vaksin menjadi maksimal, sehingga anak terlindungi dari penyakit difteri. IDAI menyatakan bahwa lima dosis vaksin difteri sebaiknya dipenuhi sebelum anak berusia enam tahun untuk memastikan pencegahan penyakit ini.

1 of 3

Kondisi yang tidak diperbolehkan mendapatkan vaksin difteri

Terkadang, kondisi anak membuat orang tua ragu untuk melakukan vaksin, khususnya vaksin difteri. Untungnya, tidak banyak kondisi yang merupakan kontraindikasi vaksin difteri. Seseorang mutlak tidak boleh mendapatkan vaksin difteri apabila muncul reaksi alergi berat (anafilaksis) pada pemberian vaksin difteri sebelumnya atau jika memiliki alergi terhadap komponen vaksin.

Beberapa kondisi lainnya perlu mendapatkan pertimbangan khusus sebelum melakukan vaksin difteri, meliputi:

  • Adanya sakit moderat atau berat, dengan atau tanpa demam. Pada kasus ini pemberian vaksin dapat ditunda sementara, tetapi tetap perlu diberikan setelah sembuh dari penyakit. Pada sakit yang ringan, vaksin mungkin tetap bisa diberikan sesuai jadwal.
  • Mengalami kejang berkepanjangan atau koma dalam 7 hari setelah pemberian vaksin difteri sebelumnya.
  • Mempunyai riwayat kondisi neurologis yang tidak stabil, seperti kejang yang belum terkontrol atau ensefalopati (kelainan struktur dan funsi otak) progresif.
  • Memiliki kondisi sindrom Guillain-Barré (GBS) yang muncul dalam 6 minggu setelah vaksin DPT sebelumnya.
  • Mengalami nyeri hebat atau pembengkakan setelah vaksin difteri sebelumnya.

Pada kasus-kasus di atas, belum tentu vaksin difteri tak boleh diberikan. Bisa saja hanya ditunda sementara. Konsultasikan selalu dengan tenaga medis.

2 of 3

Efek samping vaksin difteri

Setelah mendapatkan vaksin difteri, terdapat efek samping yang mungkin terjadi. Reaksi ini wajar dan jangan sampai dijadikan alasan untuk melewatkan vaksin dosis selanjutnya. Reaksi yang dapat muncul antara lain:

  • Kemerahan, nyeri, serta bengkak pada lokasi suntikan. Kondisi ini dapat diatasi dengan melakukan kompres dingin pada area suntikan, dan umumnya akan hilang dalam 1-2 hari.
  • Demam, lelah, nafsu makan menurun, dan muntah dalam 1-3 hari setelah vaksin. Keluhan ini dapat diatasi dengan pemberian obat penurun panas, lebih banyak minum (misalnya ASI), serta penggunaan pakaian yang tipis.
  • Adanya kejang dalam jangka waktu 3 hari setelah vaksin sebelumnya.
  • Rewel (menangis terus-menerus serta tidak dapat ditenangkan selama 3 jam atau lebih) dalam jangka waktu 2 hari setelah vaksin sebelumnya.

Walaupun dapat menakutkan bagi beberapa orang tua, tetapi kemunculan reaksi yang disebut di atas tidak menjadi kontraindikasi pemberian vaksin difteri. Jika memang kekhawatiran Anda tak bisa diredakan, bawa anak ke dokter jika reaksi di atas terjadi.

Sekaligus memperingati Hari Kesehatan Sedunia, mari lebih sadar dalam pencegahan penyakit. Jika Anda atau anak belum vaksin difteri atau vaksin lainnya yang dianjurkan, segera lakukan. Faktanya, tidak banyak kondisi yang merupakan kontraindikasi vaksin difteri. Namun, ada kondisi yang tidak diperbolehkan mendapatkan vaksin difteri, yaitu jika muncul reaksi alergi berat (anafilaksis) pada pemberian vaksin sebelumnya atau jika alergi terhadap komponen vaksin. Ada pula beberapa kondisi yang perlu mendapatkan perhatian khusus sebelum mendapatkan vaksin difteri. Agar aman, selalu konsultasikan dengan dokter sebelum vaksin.

(RN/ RVS)

Lanjutkan Membaca ↓