Penyakit Parkinson, Bisakah Menyerang Anak?

Oleh dr. M. Dejandra Rasnaya pada 09 Apr 2019, 13:00 WIB
Tak hanya menargetkan lansia berusia di atas 60 tahun, penyakit Parkinson juga dituding mampu menyerang anak. Bagaimana faktanya?
Penyakit Parkinson, Bisakah Menyerang Anak? (Monkey Business Images/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Pernahkah Anda mendengar tentang penyakit Parkinson? Sejak dahulu penyakit tersebut memiliki hubungan yang erat dengan orang lanjut usia, karena paling sering menyerang mereka yang sudah berusia 60 tahun atau lebih. Belakangan, penyakit Parkinson juga disebut mampu menyerang anak.

Parkinson itu sendiri merupakan penyakit yang terjadi akibat adanya kelainan sistem persarafan progresif, yang menyebabkan gangguan gerakan tubuh. Gejala utama yang ditimbulkan oleh penyakit ini adalah tremor atau tubuh gemetar saat sedang diam. Seiring waktu, orang yang mengalami penyakit tersebut akan merasakan gejala-gejala lain, seperti:

  • Gerakan yang lambat dan kaku
  • Tidak memiliki ekspresi wajah
  • Menggesekkan jempol dan jari lain secara berulang-ulang
  • Postur bungkuk
  • Langkah kaki yang sangat kecil sehingga menyebabkan gangguan keseimbangan
  • Tulisan kecil dan sempit
  • Kesulitan tidur
  • Suara yang makin lama makin kecil
  • Penurunan fungsi indra penciuman

Penyakit Parkinson disebabkan oleh menurunnya produksi zat kimia yang disebut dopamin, akibat adanya kerusakan atau matinya sel-sel saraf yang bertugas memproduksi zat tersebut. Ketika kadar dopamin menurun, aktivitas otak menjadi abnormal sehingga menyebabkan gejala-gejala di atas. Meski belum diketahui secara pasti, namun faktor genetik dan faktor lingkungan dicurigai memiliki pengaruh terhadap kejadian penyakit tersebut.

Parkinson pada anak

Mungkinkah penyakit Parkinson menyerang anak? Jawabannya: ya. Walau identik dengan kelompok lanjut usia, penyakit Parkinson juga dapat menyerang anak-anak. Tapi, Anda tidak perlu khawatir berlebihan. Pasalnya, menurut data yang ada, penyakit Parkinson yang menyerang anak-anak jumlahnya sangat kecil. Dengan kata lain, kemungkinan penyakit ini terjadi pada anak sangatlah rendah.

Seperti yang telah dijelaskan, salah satu hal yang berpengaruh pada terjadinya penyakit Parkinson adalah faktor genetik. Penelitian mengatakan, penyebab penyakit Parkinson pada anak adalah mutasi genetik atau adanya kelainan yang menyebabkan perubahan gen seseorang. Hal ini merupakan sesuatu yang jarang terjadi.

Lantas, bagaimana dengan anak yang mengalami keluhan mirip gejala Parkinson? Terkait ini, hal yang mungkin bisa terjadi pada anak adalah parkinsonisme. Meski mirip, keduanya adalah kondisi yang sebenarnya berbeda.

Parkinsonisme adalah kumpulan keluhan yang menyerupai gejala penyakit Parkinson, dengan penyebab yang berbeda. Pada penyakit Parkinson, penyebabnya adalah kerusakan sel saraf yang memproduksi dopamin dan umumnya terjadi pada usia di atas 60 tahun. Sementara itu, parkinsonisme disebabkan oleh banyak hal, termasuk efek samping obat tertentu, penyalahgunaan obat-obatan terlarang, paparan zat beracun, stroke, radang otak yang disebabkan infeksi, hidrosefalus, tumor otak, dan benturan kepala berulang. Parkinsonisme dapat terjadi pada anak hingga lansia, tergantung faktor penyebabnya.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa penyakit Parkinson memang dapat terjadi pada anak. Akan tetapi, kemungkinannya relatif sangat kecil. Kalaupun gejala serupa Parkinson terjadi pada anak, kemungkinan ia hanya mengalami parkinsonisme. Jika memang Anda sangat khawatir dan kesulitan membedakan kedua kondis itersebut, tak perlu sungkan untuk mengajak anak berobat ke dokter. Dengan demikian, dokter dapat menetapkan diagnosis pasti terkait keluhan yang dialami si Kecil, apakah disebabkan oleh Parkinson atau parkinsonisme.

(NB/ RVS)