Penganiayaan Audrey, Kasus Kekerasan pada Remaja

Oleh Krisna Octavianus Dwiputra pada 10 Apr 2019, 11:45 WIB
Penganiayaan yang dialami Audrey menggemparkan jagat media sosial. Banyak pihak prihatin atas terjadinya kasus kekerasan pada remaja ini.
Penganiayaan Audrey, Kasus Kekerasan pada Remaja (Foto: Monkey Business Images/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Selama beberapa hari ini, lini masa media sosial Twitter gempar dengan tagar #JusticeforAudrey. Tagar itu adalah bentuk dukungan warganet kepada remaja bernama Audrey yang dianiaya oleh sekitar 12 orang. Kasus kekerasan pada remaja ini banyak mendapatkan kecaman masyarakat.

Perundungan atau bullying terhadap siswi SMP bernama Audrey itu terjadi di Pontianak, Kalimantan Barat. Dilansir dari Liputan6.com, kasus ini pertama kali diungkap pengguna media sosial Twitter dengan akun @syarifahmelinda.

Akun tersebut menceritakan bahwa Audrey dikeroyok oleh 12 orang siswi SMA di Pontianak pada 29 Maret 2019 lalu. Masalahnya sepele, yakni aksi saling sindir di aplikasi obrolan WhatsApp terkait dengan hubungan asmara salah satu pelaku berinisial Da. Belakangan diketahui, Da merupakan pacar dari mantan kekasih kakak dari Audrey.

Penganiayaan yang dilakukan pelaku kepada Audrey ternyata hanya untuk memancing kakaknya keluar dari rumah. Namun ternyata – tak sekadar memancing – para pelaku justru tega mengeroyok Audrey dengan keji.

Para pelaku membenturkan kepala korban ke aspal, menendang perut korban berkali-kali, mencekik, hingga menyiram dengan air secara bergantian. Sadisnya, wajah korban juga ditendang dengan sandal gunung hingga mengalami pendarahan di hidung, kepala benjol, dan berbagai luka dalam lainnya. Seolah belum puas, seorang satu pelaku bahkan melakukan penyerangan seksual kepada Audrey.

Kasus penganiayaan ini tentu menggemparkan masyarakat terutama warganet. Tak sedikit yang mengutuk kejadian ini dan berharap para pelaku mendapat hukuman setimpal dari apa yang mereka lakukan.

1 of 2

Kekerasan bisa berefek rusaknya organ vital

Dari sisi medis, kekerasan fisik yang seperti yang dialami Audrey bisa berujung pada rusaknya organ vital. Menurut dr. Alvin Nursalim, SpPD dari KlikDokter, beberapa organ vital tubuh berpotensi mengalami kerusakan saat mengalami kekerasan fisik.

Yang paling berpotensi terkena, kata dr. Alvin, adalah organ vital yang ada di perut, seperti hati, limpa, dan perforasi saluran cerna. Biasanya, kerusakan pada orhan-organ ini terjadi akibat adanya pukulan keras di bagian perut.

“Untuk organ vital hati, cedera pada bagian ini menyebabkan keadaan fatal. Ini karena organ tersebut berperan penting dalam banyak aliran pembuluh darah,” tutur dr. Alvin.

Seseorang yang mengalami cedera hati akan merasakan keluhan berupa syok hemoragik atau gangguan sirkulasi akibat keluarnya darah dalam jumlah yang banyak.

“Derajat keparahan cedera hati yang terjadi meliputi memar sampai robekan. Pada cedera hati yang parah, pasien perlu segera dioperasi untuk menghentikan perdarahan yang terjadi," ujar dr. Alvin Nursalim lagi.

Sementara itu, salah satu organ vital yang juga bisa terkena masalah akibat kekerasan adalah paru. Kerusakan tersebut dapat berkisar dari memar pada paru (kontusio paru), sampai robekan pada paru. Pada kasus yang berat, pasien dapat mengeluh adanya batuk darah dan sesak napas. Keadaan ini dapat mengancam nyawa orang yang mengalaminya.

Selain pengobatan fisik, hal lain yang juga sangat penting ditangani saat ini adalah kondisi psikis dan mental Audrey setelah kejadian. Pendampingan dari profesional seperti psikolog berupa trauma healing sangat diperlukan agar Audrey dapat pulih secara psikis.

Penganiayaan yang dialami Audrey adalah tindakan yang sejatinya tidak patut dilakukan dan tidak boleh dicontoh oleh remaja lainnya. Kekerasan pada remaja yang masih marak terjadi harus menjadi perhatian banyak kalangan. Kejadian sejenis berupa perundungan – baik fisik maupun verbal – kepada siapa saja harus dicegah dan dihentikan untuk mencegah jatuhnya korban-korban lainnya.

[HNS/ RVS]

Lanjutkan Membaca ↓