3 Efek Penganiayaan pada Psikis Korban seperti Audrey

Oleh dr. Dyan Mega Inderawati pada 10 Apr 2019, 13:50 WIB
Audrey, siswi SMP di Pontianak menjadi korban penganiayaan sejumlah siswi SMA. Efek kekerasan fisik pada psikis korban harus ditangani.
3 Efek Penganiayaan pada Psikis Korban seperti Audrey (Africa Studio/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Kasus penganiayaaan dan kekerasan pada remaja kembali terjadi. Audrey, seorang siswi SMP di Pontianak, Kalimantan Barat dianiaya secara fisik oleh 12 siswi SMA. Disebut-sebut akar permasalahannya adalah asmara remaja, dan banyak yang menganggap sepele, tetapi akibatnya tidak sesepele itu. Tak hanya luka fisik, Audrey juga terancam mengalami pukulan berat secara psikis. Ada beberapa efek psikis yang mengintai korban kekerasan fisik yang memilukan ini.

Apa yang dialami oleh Audrey ini memicu simpati dan empati masyarakat. Salah satunya terlihat lewat tagar #JusticeforAudrey yang viral di media sosial oleh warganet. Bahkan, setelahnya muncul petisi yang sudah mendapatkan suara lebih dari 2,5 juta orang yang angkanya terus bertambah.

Petisi ini meminta Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Komisi Perlindungan dan Pengawasan Anak Daerah (KPPAD), atau pihak lainnya untuk menegakkan hukum dan memberikan keadilan untuk Audrey. Ya, dukungan sebesar ini memang harus diberikan agar Audrey dapat melewati masa-masa beratnya dan segera pulih dari traumanya untuk bisa kembali ceria seperti sedia kala.

Beberapa efek buruk yang bisa dialami korban pengeroyokan antara lain:

  1. Post-traumatic stress disorder

Gangguan psikis seperti post-traumatic stress disorder atau PTSD bisa dialami korban penganiayaan. Gejalanya, korban akan terbayang-bayang akan kejadian yang menimpanya. Salah satu ciri khasnya adalah mimpi buruk.

Tidak hanya itu, korban juga biasanya akan merasa cemas berlebihan dan ketakutan sepanjang hari, bahkan ketika berada di lingkungan yang tenang dan aman. Bayangkan jika hal ini sampai harus dialami oleh gadis berusia 14 tahun seperti Audrey. Padahal, di usianya yang masih belia, ia harusnya bisa tumbuh tenang, belajar dan bermain dengan teman-temannya.

Jika tidak ditangani dengan benar, PTSD dapat mengubah kepribadian seseorang menjadi lebih negatif dan apatis. Beberapa gejala yang dapat berkembang di kemudian hari meliputi:

  • Pikiran negatif terhadap orang-orang dan lingkungan sekitarnya
  • Merasa tidak punya masa depan
  • Penurunan daya ingat
  • Tidak mampu mempertahankan hubungan erat dengan orang lain
  • Merasa jauh dari keluarga
  • Tidak semangat menjalani kehidupan sehari-hari
  • Apatis terhadap lingkungan
1 of 2

Selanjutnya

  1. Depresi

Selain PTSD, bukan tak mungkin korban penganiayaan juga bisa mengalami depresi. Apalagi pada kasus Audrey, tak cuma kekerasan fisik yang ia alami, tetapi juga pelecehan seksual.

Korban bisa merasakan hidup begitu mencekam dan masa depannya hancur berantakan. Ketika ini terjadi, depresi bisa mengancam kondisi psikisnya. Dukungan dari orang-orang terdekat, keluarga, bersamaan dengan bantuan terapi medis menjadi cara ampuh untuk melewati fase ini.

Satu hal lagi yang perlu diingat, jangan pernah menyepelekan sekecil apa pun keluhan yang disampaikan oleh seseorang dengan gangguan depresi. Bila terlewatkan, kondisi tersebut bisa berujung pada timbulnya keinginan untuk melukai diri, atau lebih parahnya lagi keinginan untuk bunuh diri.

  1. Keinginan untuk bunuh diri

Ya, salah satu ancaman terberat gangguan psikis korban penganiayaan adalah keinginan untuk bunuh diri. Jika ini sampai terlihat atau terjadi, orang-orang di sekitarnya perlu ekstra waspada karena mereka yang sudah memiliki keinginan untuk mengakhiri hidup tak boleh dibiarkan sendirian tanpa pengawasan ketat.

Lingkungan di sekitarnya pun perlu “steril”. Artinya, jangan sampai ada benda-benda tajam yang bisa menjadi sarana akan niatnya tersebut. Terapi kejiwaan secara intensif ditambah dengan dukungan seluruh anggota keluarga atau orang-orang terdekat mutlak diperlukan selama proses pemulihan.

Pada korban penganiayaan, mengalami masa-masa trauma bisa tak mudah, karena adanya efek pada psikis korban. Jika tak ditangani secara benar, ini bisa mengancam masa depannya, bahkan nyawanya. Kini Audrey butuh dukungan dari orang-orang terdekatnya. Satu hal lagi yang tak kalah penting, ia harus dihindarkan dari paparan media sosial agar tak terus-menerus mengingatkannya pada kejadian kelam yang ia alami. Berikan Audrey ruang dan waktu bersama dengan orang terdekat dalam melewati masa-masa berat agar bisa kembali ceria seperti sedia kala, dan terus berupaya agar #JusticeforAudrey tetap ditegakkan!

(RN/ RVS)

Lanjutkan Membaca ↓