Trauma Healing bagi Korban Penganiayaan seperti Audrey

Oleh dr. Nabila Viera Yovita pada 11 Apr 2019, 12:15 WIB
Audrey butuh pemulihan psikologis pasca penganiayaan yang menimpanya. Bagaimana bentuk trauma healing yang sebaiknya diberikan?
Trauma Healing bagi Korban Penganiayaan seperti Audrey (Monkey Business Images/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Beberapa hari terakhir, peristiwa penganiayaan yang menimpa Audrey oleh 12 pelajar SMA di Pontianak menarik simpati masyarakat. Kondisi Audrey pasca pengeroyokan itu pun memprihatinkan. Penyembuhan sejumlah luka fisik yang dialami Audrey memang penting segera dilakukan. Akan tetapi, pemulihan psikis dan mental korban tak kalah penting. Salah satu bentuknya adalah dengan trauma healing.

Trauma healing bagi korban penganiayaan

Hal yang dialami Audrey tentu akan berkembang menjadi post-traumatic stress disorder (PTSD). Ini adalah gangguan kecemasan yang terjadi setelah suatu peristiwa yang menakutkan maupun mengancam berlangsung. Hal ini dapat terjadi kepada siapa saja, dan berdampak buruk dalam menjalani kehidupan pasca peristiwa.

Beberapa gejala PTSD yang dapat dialami adalah insomnia, kilas balik peristiwa yang berulang, kepercayaan diri yang rendah, serta perasaan tidak nyaman bahkan terasa menyakitkan. Pada akhirnya, korban akan terus mengingat kejadian, meski ada juga yang sama sekali dapat melupakannya.

Untuk mengatasi gejala-gejala PTSD tersebut diperlukan trauma healing. Ini adalah suatu terapi yang dapat mengobati trauma yang dialami korban dalam bentuk psikoterapi serta obat-obatan. Terapi PTSD memiliki tiga tujuan, yakni:

  • Mengurangi gejala pasca kejadian
  • Mengajarkan kemampuan untuk mengatasi trauma terkait
  • Mengembalikan kepercayaan diri

Bentuk trauma healing yang dibutuhkan korban penganiayaan seperti Audrey adalah:

  1. Cognitive Processing Therapy

Cognitive Processing Therapy (CPT) merupakan terapi dengan durasi 12 minggu, dengan sesi 60-90 menit per minggu. Terapi ini bertujuan mengubah pola pikir yang mengganggu kehidupan. Dalam sesi tersebut, korban akan berbicara dengan terapis mengenai kejadian traumatis yang telah dialami, dan tanggapan korban terhadapnya.

Korban sebagai pasien lalu akan menulis secara detail apa saja yang terjadi. Proses ini membantu pasien untuk memikirkan traumanya serta cara mengatasinya agar dapat melanjutkan kehidupannya dengan baik.

Sebagai contoh, mungkin korban menyalahkan dirinya sendiri untuk semua hal yang berkaitan dengan kejadian. Terapis akan memberi tahu mengapa dan apa saja yang di luar kuasa korban, sehingga korban dapat kembali menjalani kehidupannya tanpa beban. Korban pun dapat memahami serta menerima bahwa yang terjadi bukanlah karena kesalahan korban.

  1. Obat-obatan tertentu

Otak korban yang mengalami PTSD akan memproses ancaman secara berbeda, karena ketidakseimbangan neurotransmitter atau hormon dalam otak. Para korban memiliki respons “fight or flight” yang mudah terpicu. Sering berusaha untuk menutup diri dapat memicu perasaan dingin secara emosional dan tersingkir dari komunitas.

Dalam situasi ini, diperlukan obat-obatan yang mengatur ketidakseimbangan hormon serotonin atau norepinefrin dalam otak yang dapat mengurangi gejala cemas dan takut. Karena setiap individu akan merespons secara berbeda terhadap obat-obatan, dokter akan meresepkan obat apa yang diperlukan korban PTSD.

Beberapa di antaranya adalah golongan antidepresan, monoamin oksidase inhibitor, antipsikotik,  penyekat beta, serta benzodiazepin. Meski tidak menghilangkan gejala PTSD secara total, obat-obatan itu mengurangi serta membantu korban untuk dapat menjalani kehidupan yang lebih nyaman.

Jadi, selain pengobatan fisik, pemulihan psikis dan mental korban penganiayaan seperti Audrey penting dilakukan. Dengan kombinasi kedua bentuk trauma healing di atas, gejala PTSD yang dialami korban akan berangsur berkurang dan diharapkan dapat sembuh total.

[HNS/ RVS]