Bisakah Bayi Menangis Saat Masih dalam Kandungan?

Oleh Ayu Maharani pada 11 Apr 2019, 13:00 WIB
Fakta medis ini bisa menyangkal pikiran Anda bahwa bayi menangis hanya setelah dilahirkan.
Bisakah Bayi Menangis Saat Masih dalam Kandungan? (Magic Mine/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Bayi sangat identik dengan suara tangisan. Bahkan, bayi menangis usai dilahirkan pun menjadi tolak ukur bahwa ia terlahir dengan sehat. Tapi siapa sangka, sebenarnya kebiasaan menangis tersebut sudah dilakukan bayi sejak saat masih dalam kandungan.

Tangis bayi merupakan sebuah respons atas stimulasi di sekelilingnya. Dilansir dari Verywell Family, sebenarnya bayi mulai belajar dan merespons stimulasi dunia luar ketika mereka masih di dalam kandungan.

Tangisan bayi sejak dalam kandungan

Salah satu penelitian di tahun 2015 mengungkapkan bahwa bayi dapat merespons suara dari dalam kandungan saat mereka masih berusia 16 minggu. Perlu diketahui bahwa di usia tersebut, telinga bayi belum sepenuhnya berkembang.

Namun, ketika orang tua sering menstimulasi calon buah hatinya, dalam hal ini mengajak berbicara atau mendengarkan lagu, maka hal tersebut akan memengaruhi janin, sehingga lebih banyak bergerak.

Nah, ketika bayi yang sudah dilahirkan menangis, bisa terlihat bahwa ada koordinasi antara otot wajah, pengaturan jalan napas, pernapasan secara keseluruhan, dan vokalisasi atau suara.

Yang membedakan antara bayi menangis di dalam kandungan dengan ketika dilahirkan adalah terdengar atau tidaknya suara. Dalam kandungan, tangisan bayi mungkin tidak mengeluarkan suara, namun bisa diidentifikasi melalui sebuah gerakan.

Hal itu pun dibenarkan oleh dr. Fiona Amelia MPH dari KlikDokter. Menurutnya, tangisan bayi memiliki dua komponen, yaitu komponen vokal dan non-vokal.

Komponen vokal dari tangisan yang baru muncul saat bayi lahir adalah cara bayi untuk berkomunikasi. Secara harfiah, hal tersebut merupakan salah satu mekanisme bertahan hidup. Hal ini berbeda pada saat bayi masih dalam kandungan.

“Tangisan bayi yang masih dalam kandungan merupakan komponen non-vokal. Hal ini dapat dianggap sebagai salah satu milestone atau capaian penting dalam tahapan pertumbuhan janin.” jelas dr. Fiona.

Tapi, meskipun tangisan pada bayi yang sudah lahir maupun yang belum lahir sama-sama merupakan respons dari sebuah stimulasi, arti dari kedua jenis tangisan tersebut tidaklah sama.

1 of 2

Makna tangisan bayi sebelum dan setelah dilahirkan

Pada bayi yang belum lahir, tangisan tanpa suara dianggap sebagai pertanda bahwa tubuhnya berkembang sempurna di dalam janin, sekaligus sebagai bentuk respons terhadap paparan rokok serta kokain. Namun, pada bayi yang sudah lahir, tangisan hanya menandakan sebuah ketidaknyamanan.

Buktinya, sebuah studi tahun 2004 mengungkapkan bahwa bayi dalam kandungan yang menerima paparan rokok dan kokain akan menunjukkan perilaku menarik napas, membuka mulut, dan menjulurkan lidah.

Pada penelitian tersebut, janin terlihat menarik napas berturut-turut sebelum akhirnya mengeluarkan napas panjang. Kira-kira, seperti itulah bentuk tangisan dari bayi yang belum dilahirkan ketika menerima paparan negatif dari ibu yang mengandungnya.

Menyambung hal tersebut, dr. Fiona juga mengatakan, ketika usia kehamilan ibu telah mencapai 20 minggu, janin memang memiliki semua hal yang diperlukan untuk menangis dengan cara menunjukkan perilaku membuka mulut, menggetarkan dagu, dan melakukan gerakan napas yang terkoordinasi.

Kendati demikian, ekspresi tanpa suara tersebut hanya bisa dilihat secara jelas melalui USG saat usia kehamilan ibu mencapai 28 minggu.

Kesimpulannya, bayi menangis saat masih dalam kandungan memang bisa terjadi. Tapi, bentuk tangisannya memang tanpa suara. Akan lebih membahagiakan bila bayi menangis bukan karena kebiasaan buruk orang tuanya. Jadi, bila Anda ingin perkembangan janin berlangsung dengan optimal, jauhkan diri Anda dari paparan rokok atau konsumsi alkohol, terapkan pola hidup sehat dan stimulasikan bayi dengan beragam perilaku serta ucapan yang positif, ya!

[NP/ RVS]

Lanjutkan Membaca ↓