Remaja Dukung Tindak Kekerasan, Tanda Gangguan Jiwa?

Oleh dr. Sepriani Timurtini Limbong pada 14 Apr 2019, 16:00 WIB
Penganiayaan terhadap Audrey oleh sekelompok remaja menimbulkan pertanyaan, mungkinkah pelaku kekerasan mengalami gangguan jiwa?
Remaja Dukung Tindak Kekerasan, Tanda Gangguan Jiwa? (Antonio-Guillem/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Dalam sepekan terakhir, publik dihebohkan dengan berita penganiayaan yang dialami seorang siswi SMP di Pontianak oleh sekelompok remaja putri lain. Sejak media nasional mulai mengangkat kasus tersebut, simpati terhadap korban bernama Audrey pun terus mengalir hingga muncul tagar #JusticeforAudrey yang menjadi trending topic di sosial media Twitter. Tak hanya dukungan moril kepada Audrey, masyarakat dan para netizen pun banyak yang prihatin dan penasaran, bagaimana mungkin remaja dapat melakukan tindakan yang begitu destruktif. Hingga akhirnya ada yang mengatakan para pelaku dan pendukungnya bisa jadi mengalami gangguan jiwa.

Kekerasan pada Remaja

Kasus Audrey tersebut termasuk ke dalam kriteria kekerasan pada remaja (teen violence). Tindakan ini adalah sebuah perilaku yang terjadi pada remaja dan dapat berlanjut hingga dewasa. Remaja dapat menjadi inisiator, pelaku, pendukung, hingga korban.

Kekerasan yang dilakukan mencakup perundungan (bullying), perkelahian (menendang, memukul, menampar, dan sebagainya), dan menggunakan alat. Kasus-kasus kekerasan mengakibatkan gangguan fisik sekaligus gangguan psikis seperti yang dialami oleh Audrey.

Pertanyaannya, mengapa sebagian remaja bisa melakukan tidak kekerasan? Beberapa alasan yang diungkapkan remaja yang melakukan kekerasan antara lain adalah:

  • Kemarahan terhadap seseorang atau sesuatu, baik di rumah maupun di sekolah.
  • Pengaruh dan tekanan kelompok, dalam hal ini teman sebayanya.
  • Pernah menjadi korban kekerasan juga sebelumnya, di masa kecil.

Kemudian, apakah kekerasan yang dilakukan oleh para pelaku dan pendukung penganiayaan Audrey termasuk ke dalam gangguan mental atau bukan, tidak dapat ditentukan begitu saja.

Gangguan mental atau gangguan jiwa sendiri sangat luas dan banyak jenisnya. Salah satu yang bentuk gangguan jiwa yang gejalanya sering melakukan kekerasan adalah gangguan kepribadian anti sosial (Anti social personality disorder). Gejalanya adalah ketidakmampuan mengikuti aturan, suka menipu, bersikap impulsif dan reaktif terhadap situasi tertentu, sangat sensitif dan agresif terhadap suatu kondisi sehingga mudah berkelahi, menyakiti orang lain, merusak benda-benda milik orang lain, dan perilaku destruktif lainnya.

Kendati demikian, untuk mendiagnosis gangguan mental atau gangguan jiwa diperlukan pemeriksaan yang menyeluruh oleh pakar kejiwaan atau dokter ahli kesehatan jiwa. Kekerasan yang dilakukan oleh pelaku yang juga didukung oleh teman-temannya bisa jadi merupakan bagian dari gangguan mental, tetapi bisa juga terjadi karena salah satu dari tiga alasan di atas.

1 of 2

Bagaimana orang tua harus bersikap?

Bila Anda memiliki anak berusia remaja, tentu Anda berharap agar jangan sampai ia melakukan kekerasan ataupun menjadi korban kekerasan. Namun, tidak bisa dimungkiri remaja memang sedang mengalami perubahan yang besar, baik dari sisi fisik maupun mentalnya. Perubahan hormonal adalah salah satu diantaranya yang membuat emosi remaja cenderung tidak stabil, sensitif, dan mudah menjadi marah. Jika tidak disikapi dengan bijak, hal tersebut akan berujung pada kekerasan.

Menghadapi remaja seperti itu, beberapa hal berikut perlu dilakukan orang tua, yaitu:

  • Sabar, tetap tenang, dan bersikap positif terhadap remaja. Wajar bila Anda naik pitam menghadapi remaja yang berteriak atau marah, tetapi jangan biarkan kemarahan menguasai Anda. Tetap tenang dan sabar, tahan kata-kata Anda hingga Anda sendiri sudah cukup menguasai diri. Kata-kata yang positif akan membangun remaja Anda dan sikap Anda yang mampu mengendalikan diri akan menjadi teladan bagi remaja.
  • Bicara ketika tenang dan suasana kondusif. Selain menunggu hingga Anda tenang, Anda pun harus memberi waktu agar anak Anda tenang dan siap untuk bercakap-cakap dengan Anda. Sampaikan maksud Anda dan selesaikan salah paham atau permasalahan tersebut bersama-sama. Ajak anak memikirkan solusinya.
  • Konsultasi dengan ahli. Bila Anda merasa sudah tidak mampu menghadapi dengan baik, tidak ada salahnya berkonsultasi dengan guru anak Anda, psikolog remaja. Tak hanya itu, Anda juga dapat bicara dengan orang yang dipercaya oleh anak Anda, misalnya pelatih klub olahraganya atau teman terdekatnya.

Remaja yang mendukung tindakan kekerasan belum tentu mengalami gangguan jiwa. Bisa saja ia melakukannya karena kemarahan atau karena tekanan dari kelompoknya. Namun, bila di sekitar Anda ada yang mengalaminya atau menunjukkan tanda-tanda agresivitas, lakukan langkah di atas dan jangan ragu untuk berkonsultasi dengan ahli kesehatan jiwa.

[RVS]

Lanjutkan Membaca ↓