Mengenal 4 Jenis Vaksin Difteri

Oleh dr. Devia Irine Putri pada 15 Apr 2019, 09:00 WIB
Mungkin beberapa dari Anda masih bertanya-tanya mengenai vaksin difteri dan berbagai jenisnya. Baca ulasannya di sini.
Mengenal 4 Jenis Vaksin Difteri (PhotobyTawat/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Tahun 2017, Indonesia digemparkan dengan wabah difteri di beberapa daerah. Sebagai pencegahan yang dinilai paling efektif, pemerintah lewat Kementerian Kesehatan mewajibkan vaksin difteri pada anak dan dewasa. Mungkin ada yang masih menyimpan pertanyaan seputar vaksin difteri dan jenis-jenisnya. Lewat artikel ini, mari membahasnya lebih lanjut.

Pertama-tama, ketahuilah bahwa difteri adalah salah satu penyakit akut yang menyerang saluran napas, begitu juga organ lain seperti kulit dan mata. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheria yang ditularkan melalui kontak langsung dengan penderita. Difteri merupakan penyakit yang sangat berbahaya dan mudah sekali menular.

Di Indonesia sendiri, kejadian difteri cukup banyak terjadi. Sejak tahun 2014, terdapat 296 kasus difteri, dengan 16 orang tercatat meninggal dunia. Pada tahun 2015, terdapat 252 kasus dengan korban jiwa sebanyak lima orang. Pada tahun 2017, jumlah kasusnya mencapai 939 kasus yang tersebar di 33 provinsi, dengan angka kematian hingga 44 orang.

Penyakit difteri banyak sekali menyerang anak-anak usia 1-9 tahun tanpa memandang jenis kelamin. Tanda dan gejalanya umunya seperti gejala flu, demam tinggi, pilek, adanya selaput tipis di daerah tenggorokan, hingga keluhan sesak napas.

Difteri bisa dicegah dengan vaksin

Difteri merupakan penyakit yang dapat dicegah dengan melakukan vaksinasi. Secara umum, vaksinasi ini diberikan paling tidak lima kali sejak anak berusia 2 bulan hingga 6 tahun. Vaksin difteri sendiri terdiri dari empat jenis, antara lain:

  1. Vaksin DTaP

Vaksin DTaP mencegah anak-anak terhidar dari penyakit difteri, tetanus, dan pertusis (batuk rejan). Vaksin ini sama dengan vaksin DTP pada umumnya. Bedanya hanya ada pada antigen yang digunakan untuk pertusis.

Vaksin DTaP mengandung bagian dari bakteri pertusis yang tidak utuh dan hanya menggunakan sedikit antigen yang dibutuhkan saja. Oleh sebab itu, apabila anak-anak disuntik vaksin DtaP, jarang muncul reaksi panas, bengkak, merah, dan nyeri pada tempat penyuntikan.

  1. Vaksin DT

Vaksin DT merupakan vaksin yang mencegah difteri dan tetanus. Vaksin ini merupakan vaksin lanjutan atau booster yang diberikan pada anak-anak mulai usia 7 tahun atau usia sekolah dasar.

  1. Vaksin Tdap

Vaksin Tdap sama dengan vaksin lainnya yang berguna untuk mencegah penyakit tetanus, difteri, dan pertusis. Vaksin Tdap ini rutin diberikan pada anak usia 11-12 tahun. Apabila Anda belum mendapatkan vaksin ini saat usia 11-12 tahun, maka Anda wajib segera melakukan vaksinasi ulang. Vaksin Tdap juga dapat diberikan pada wanita hamil sebagai bentuk perlindungan terhadap bayi baru lahir agar terhindar dari penyakit pertusis.

  1. Vaksin Td

Vaksin Td melindungi usia remaja hingga dewasa dari penyakit tetanus dan difteri, tetapi tidak memberikan perlindungan terhadap penyakit pertusis seperti vaksin Tdap. Vaksin ini biasanya diberikan sebagai bentuk booster tiap sepuluh tahun. Pada kondisi tertentu, vaksin ini bisa diberikan apabila seseorang memiliki luka yang kotor maupun luka bakar.

Seperti penggunaan obat-obatan pada umumnya, pemberian vaksin difteri dapat menimbulkan efek samping ringan. Mulai dari nyeri di sekitar tempat penyuntikan, demam ringan, serta rasa pegal yang dapat menghilang dalam beberapa hari ke depan. Biasanya, dengan mengompres tempat penyuntikan dan konsumsi obat penurun demam seperti parasetamol, efek samping bisa diredakan. Efek samping yang berat seperti kejang dan demam tinggi juga dapat terjadi pada beberapa kondisi, tetapi sangat jarang ditemukan.

Kini Anda telah mengenal empat jenis vaksin difteri yang tersedia, yang perbedaannya utamanya adalah waktu pemberiannya. Pastikan anak melakukan vaksinasi rutin sejak bayi dan lakukan booster pada usia sekolah dasar. Dengan mendapatkan vaksin, baik difteri maupun vaksin lainnya, penyakit berbahaya bisa dicegah dan angka kejadian dan kematian bisa ditekan. Segera konsultasi ke dokteri jika Anda belum melakukan booster vaksin difteri. Jangan lupa juga untuk selalu mencatat kapan terakhir Anda melakukan vaksinasi, sehingga tidak melewatkan waktu booster berikutnya.

(RN/ RVS)