Waspada, Inilah Bahaya Hemofilia pada Ibu Hamil

Oleh dr. Sara Elise Wijono MRes pada 17 Apr 2019, 09:00 WIB
Seorang yang terkena hemofilia lebih berisiko mengalami perdarahan. Lantas, bagaimana jika penderita hemofilia adalah ibu hamil?
Waspada, Inilah Bahaya Hemofilia pada Ibu Hamil (Pressmaster/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Hemofilia adalah suatu penyakit keturunan yang menyebabkan masalah pada pembekuan darah. Orang yang mengalami penyakit tersebut memiliki faktor pembekuan darah yang tidak bekerja dengan optimal, sehingga perlukaan yang terjadi di tubuh akan lebih sulit sembuh. Kondisi ini ternyata juga bisa dialami oleh ibu hamil.

Hemofilia terbagi menjadi 2, yaitu A dan B. Pada hemofilia A terjadi kekurangan faktor VIII, sementara pada hemofilia B terjadi kekurangan faktor IX. Kedua faktor tersebut berperan dalam pembekuan darah.

Terlepas dari jenisnya, tingkat keparahan hemofilia terbagi menjadi beberapa tahap, mulai dari level normal hingga berat. Pada keadaan normal, persentase aktivitas faktor pembekuan darah adalah 50–150%. Pada hemofilia ringan, persentasenya adalah 5–40%. Selanjutnya, 1–5% untuk hemofilia sedang dan kurang dari 1% untuk hemofilia berat.

Bahaya hemofilia pada kehamilan

Semasa kehamilan, perubahan hormonal akan memengaruhi keadaan faktor pembekuan darah. Sebagai akibatnya, faktor VIII akan meningkat, sementara faktor IX tidak. Kendati begitu, wanita hamil dengan hemofilia tetap lebih berisiko mengalami perdarahan. Ini karena ada kemungkinan bahwa peningkatan tersebut tidak menyebabkan faktor pembekuan darah mencapai level normal.

Adapun beberapa bahaya yang bisa terjadi pada wanita hamil dengan hemofilia, di antaranya:

  1. Abruptio plasenta

Semasa kehamilan, wanita dengan level faktor pembekuan darah yang rendah berisiko mengalami abruptio plasenta. Ini adalah kondisi ketika plasenta (ari-ari) lepas dari rahim sebelum waktunya sehingga dapat terjadi keguguran karena janin tidak mendapat oksigen dan pasokan gizi yang dibutuhkan untuk proses perkembangan.

  1. Perdarahan saat bersalin

Wanita hemofilia yang hamil tetap perlu melakukan pemeriksaan pada aktivitas faktor pembekuan darah menjelang akhir kehamilan. Apabila hasilnya menunjukkan kurang dari 50%, maka diperlukan pengawasan untuk risiko perdarahan, terutama semasa persalinan. Selain itu, perlu dipertimbangkan pemberian terapi dengan pengganti faktor pembekuan sebagai langkah antisipasi.

Wanita dengan hemofilia disarankan untuk menjalani persalinan normal tanpa penggunaan alat. Hal ini dilakukan demi mengurangi trauma dan risiko perdarahan saat melahirkan. Sering kali, operasi dapat dipertimbangkan, khususnya jika ibu hamil sudah mendapatkan terapi pengganti faktor pembekuan darah.

  1. Perdarahan postpartum

Setelah persalinan, nilai faktor pembekuan darah yang sempat meningkat akan kembali seperti semula dalam 14–21 hari setelah melahirkan. Pada fase ini, risiko terjadinya perdarahan postpartum meningkat dan tetap dapat muncul hingga enam minggu setelah melahirkan. Oleh karena itu, wanita dengan hemofilia tetap perlu kontrol rutin setelah melahirkan.

  1. Mewariskan penyakit ke anak

Wanita dengan hemofilia memiliki risiko untuk menurunkan penyakit tersebut kepada anak yang dikandungnya. Jika anak laki-laki, kemungkinan penyakit hemofilia untuk diwariskan adalah 50%. Jika anak perempuan, kemungkinan anak tersebut untuk menjadi pembawa hemofilia (carrier) adalah 50%.

Adanya berbagai bahaya yang ditimbulkan hemofilia pada ibu hamil, wanita yang berada pada kondisi tersebut sangat perlu dipantau oleh tim dokter. Hal ini bertujuan agar dirinya dapat menjalani kehamilan dengan sehat. Kerjasama antara dokter kandungan yang menangani kehamilan, dokter ahli darah (hematologis) yang menangani hemofilia, serta dokter ahli bius (anestesi) yang mungkin diperlukan saat persalinan dapat membantu ibu hamil dengan hemofilia untuk melahirkan dengan aman.

(NB/ RVS)