Benarkah Generasi Z adalah Generasi Kesepian?

Oleh dr. Nadia Octavia pada 19 Apr 2019, 09:00 WIB
Generasi Z dianggap sebagai generasi yang paling kesepian di antara yang lain. Bagaimana kondisi ini terjadi?
Benarkah Generasi Z adalah Generasi Kesepian? (Viktor Gladkov/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Internet dan media sosial sudah menjadi bagian dari keseharian Generasi Z. Namun di balik itu, Generasi Z justru merupakan generasi yang paling dirundung kesepian. Seperti dikutip oleh Pew Research Center di Amerika Serikat, Generasi Z adalah generasi yang lahir di atas tahun 1996 mengikuti Generasi Y (atau dikenal dengan Generasi Milenial) yang hidup antara tahun 1981–1996.

Banyak faktor yang bisa menyebabkan seseorang kesepian. Misalnya, pindah ke lingkungan baru, kultur baru, atau tempat asing yang membuat seseorang merasa terisolasi. Jika kesepian tersebut dibiarkan, dapat memicu terjadinya gangguan mental seperti depresi, gangguan cemas, gangguan makan, bahkan upaya bunuh diri yang berujung pada kematian.

Bahkan menurut studi yang dilakukan oleh Duke University Medical Center, orang yang kesepian, depresi, dan terpencil dari lingkungan sosial mengalami risiko 3–5 kali lebih tinggi mengalami kematian dini dibandingkan dengan orang yang memilki dukungan sosial yang baik.

Survei terhadap Generasi Z dan lainnya

Menurut survei yang dilakukan oleh sebuah lembaga kesehatan di Amerika Serikat pada hampir 20,000 orang, hampir setengah dari responden kadang merasa kesepian (46%) atau merasa "ditinggalkan" (47%). Survei ini menggunakan skala UCLA Loneliness Scale, yaitu 20 pertanyaan kuesioner untuk mengukur perasaan kesepian dan terisolasi dari lingkungan sosial.

Generasi Z (usia 18–22 tahun) merupakan kelompok yang paling kesepian, demikian hasil survei tersebut. Lebih dari setengah Generasi Z mengalami 10 dari 11 perasaan yang berkaitan dengan kesepian, seperti: perasaan tidak memiliki teman dekat (69%), perasaan malu (69%), dan perasaan tidak ada yang merasa memahami mereka seutuhnya (68%).

Tingkat kesepian justru semakin berkurang seiring  usia. Semisal Generasi Milenial (usia 23–37 tahun) tidak merasa terlalu kesepian dibandingkan dengan Generasi Z, namun lebih kesepian dibandingkan Generasi Baby Boomers (usia 52–71 tahun).

Tingkat kesepian Generasi Z adalah sebesar 48,3% (paling tinggi dibanding generasi lainnya), Generasi Milenial sebesar 45,3%, Generasi X sebesar 45,1%, Generasi Baby Boomers 42.4%, dan The Greatest Generation (usia >72 tahun) sebesar 38,6%.

Lebih lanjut, mereka yang sudah bekerja cenderung tidak merasakan kesepian dibandingkan pelajar atau mereka yang tidak bekerja. Selain itu, mereka yang jarang atau tidak pernah berinteraksi secara langsung dengan orang lain sehari-hari cenderung lebih merasakan kesepian.

Pengaruh kuat media sosial

Studi lainnya mengatakan bahwa penyebab kesepian seseorang, termasuk pada Generasi Z, adalah karena penggunaan media sosial. Saat Anda berinteraksi langsung dengan orang lain, Anda akan mengeluarkan bentuk komunikasi nonverbal seperti ekspresi wajah, nada suara, gestur, bahasa tubuh, kontak mata dan jarak antara Anda dengan orang tersebut.

Bentuk komunikasi nonverbal inilah yang sebetulnya menjadi inti dari suatu komunikasi yang baik sehingga lawan bicara paham dengan apa yang Anda pikirkan dan rasakan. Selain itu, bentuk komunikasi nonverbal akan mengaktifkan area di otak yang mengatur kemampuan kognitif dan emosional saat Anda bertatap muka langsung dengan orang lain.

Sedangkan saat Anda berinteraksi melalui gadget, bentuk komunikasi nonverbal ini digantikan dengan emotikon. Anda pun lebih mudah menyembunyikan emosi di balik email atau status di sosial media. Seseorang dapat membentuk kesan apa pun yang diinginkan, yang di dunia nyata mungkin sulit atau tak bisa diperoleh. Akibatnya saat berinteraksi di dunia nyata, seseorang akan merasa tidak dimengerti kemudian terisolasi.

Anda termasuk Generasi Z? Meski berbagai studi menyebutkan bahwa Generasi Z adalah generasi yang paling kesepian, namun Anda tidak perlu khawatir. Carilah dukungan sosial yang baik dari keluarga dan lingkungan sekitar agar Anda tidak diselimuti rasa terisolasi. Membatasi penggunaan media sosial juga patut Anda perhitungkan, dan usahakan untuk lebih aktif serta terlibat di komunitas dunia nyata.

[RS/ RVS]