Kebanyakan Konsumsi Protein, Ini 7 Akibatnya

Oleh dr. M. Dejandra Rasnaya pada 19 Apr 2019, 15:00 WIB
Protein memang sangat diperlukan tubuh. Namun, kebanyakan konsumsi protein tentu bisa memberikan efek negatif. Ini akibatnya!
Kebanyakan Konsumsi Protein, Ini 7 Akibatnya (Ekkaratk/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Bagi Anda yang sedang dalam program penurunan berat badan atau pembentukan otot, konsumsi protein biasanya ditingkatkan. Bisa dari makanan yang ditambahkan dengan konsumsi suplemen atau dalam bentuk shake. Tak hanya karena alasan ini, beberapa waktu belakangan diet tinggi protein juga cukup populer karena bisa membantu mengurangi lemak, menurunkan berat badan, sekaligus membentuk dan memperbesar otot. Akan tetapi, perlu juga diketahui bahwa kebanyakan protein tidak baik untuk tubuh. Adsa beberapa akibatnya pada tubuh.

Protein merupakan salah satu gizi makro (makronutrien) selain karbohidrat dan lemak, yang dibutuhkan tubuh untuk metabolisme dan menghasilkan energi. Selain makronutrien, tubuh juga membutuhkan nutrisi mikro (mikronutrien) seperti vitamin, kalsium, asam folat, dan lain-lain. Diet yang disarankan oleh para ahli adalah diet yang lengkap dan seimbang. Artinya, kandungan gizinya harus lengkap dengan jumlah yang seimbang—tidak kekurangan dan tidak berlebihan.

Karena adanya keperluan untuk membentuk badan atau penerapan pola makan tertentu, banyak orang yang menggenjot konsumsi protein agar targetnya tercapai. Padahal, para ahli juga sebetulnya tidak menganjurkan Anda untuk mengonsumsi melebihi jumlah yang direkomendasikan.

Dampak kebanyakan protein dalam tubuh

Kelebihan protein dalam tubuh berhubungan dengan beberapa masalah kesehatan, terutama jika Anda mengonsumsi protein dalam jumlah banyak untuk waktu yang lama. Berikut di bawah ini adalah beberapa akibat terlalu banyak mengonsumsi protein.

1. Berat badan bertambah

Diet tinggi protein mungkin menjanjikan penurunan berat badan, tetapi itu mungkin hanya dalam jangka pendek. Karena cepat membuat kenyang dan dapat mengurangi lemak dalam tubuh, beberapa orang lebih memiliki konsumsi protein untuk sumber energi ketimbang karbohidrat. Padahal sebuah studi tahun 2016 menemukan bahwa kenaikan berat badan secara signifikan dikaitkan dengan konsumsi protein yang menggantikan karbohidrat sebagai sumber energi, tetapi hal tersebut tidak terjadi ketika menggantikan lemak.

2. Bau mulut

Makan protein dalam jumlah besar dapat menyebabkan bau mulut, terutama jika Anda membatasi asupan karbohidrat. Ketika tubuh Anda menggunakan protein sebagai sumber energi, bukannya karbohidrat, hasil metabolismenya akan menyebabkan sebuah kondisi dalam tubuh yang disebut ketosis. Keadaan ini menghasilkan bahan kimia berbau seperti buah busuk. Untuk mengatasinya, Anda bisa memperbanyak minum air, menyikat gigi lebih sering, atau mengunyah permen karet.

1 of 2

Selanjutnya

3. Sembelit

Sumber protein seperti daging ayam, ikan, sapi, susu, dan telur biasanya rendah serat. Hal ini menyebabkan susah buang air besar karena feses menjadi lebih keras.

4. Dehidrasi

Salah satu hasil metabolisme protein adalah nitrogen. Apabila konsumsi protein berlebih, nitrogen juga akan meningkat dalam tubuh. Nitrogen yang berlebihan dapat berbahaya bagi tubuh. Maka dari itu, tubuh akan berusaha membuangnya dengan mengeluarkan banyak cairan seperti urine dan keringat. Akibatnya, kalau Anda tidak banyak minum bisa terjadi dehidrasi.

5. Kerusakan ginjal

Seperti yang sudah dijelaskan diatas, bahwa nitrogen berlebih dibuang melalui kencing. Kondisi ini akan menyebabkan kerja ginjal lebih berat, sehingga kerusakan dapat terjadi.

6. Risiko kanker meningkat

Diet tinggi protein, khususnya konsumsi daging merah lebih banyak, dapat meningkatkan risiko kanker. Penelitian telah menunjukkan bahwa penurunan risiko kanker bagi orang yang tidak makan daging merah. Hal ini disebabkan oleh hormon, senyawa karsinogenik (zat yang merangsang pertumbuhan sel kanker), dan lemak yang ditemukan dalam daging merah.

7. Penyakit jantung

Ya, daging merah dan kuning telur sebagai sumber diet tinggi protein dapat menyebabkan penyakit jantung. Ini karena kedua sumber tersebut mengandung lemak jenuh dan kolesterol yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan daging ayam, ikan, atau kacang-kacangan.

Protein memang zat penting dan dibutuhkan tubuh. Namun, seperti kata orang-orang bijak, sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Ada beberapa akibat yang terjadi pada tubuh jika Anda kebanyakan protein. Jika ingin diet, lakukanlah diet sesuai rekomendasi, yaitu diet yang lengkap dan seimbang. Jika berkeinginan untuk membentuk tubuh, baiknya konsultasikan kepada ahli gizi untuk pola makan yang sesuai.

(RN/ RVS)

Lanjutkan Membaca ↓