Menilik Efektivitas Dengvaxia, Vaksin untuk Demam Berdarah

Oleh dr. Andika Widyatama pada 19 Apr 2019, 17:20 WIB
Vaksin dengvaxia diketahui menjadi salah satu upaya pencegahan penyakit demam berdarah. Sudahkah vaksin tersebut bekerja secara efektif?
Menilik Efektivitas Dengvaxia, Vaksin untuk Demam Berdarah (alessandro-guerriero/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Demam berdarah adalah salah satu penyakit infeksi yang masih menjadi masalah global, khususnya di negara-negara tropis dan subtropis. Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), diperkirakan terdapat 390 juta kasus demam berdarah per tahun di seluruh dunia. Di samping itu, terdapat sekitar 3,9 miliar orang yang berisiko terinfeksi virus dengue penyebab demam berdarah.

Di Indonesia, data yang terkumpul hingga akhir Januari 2019 menyebut bahwa terdapat 13.683 kasus demam berdarah dengan angka kematian mencapai 133 orang. Tidak hanya itu, infeksi dengue di Indonesia juga diperkirakan dapat menimbulkan beban ekonomi mencapai lebih dari 3,9 triliun Rupiah.

Berdasarkan fakta-fakta tersebut, upaya pencegahan dan pengendalian adalah hal yang perlu dilakukan guna menekan angka kejadian demam berdarah khususnya di Indonesia. Salah satu tindakan yang bisa dilakukan untuk itu adalah mendapatkan vaksin dengue.

Efektivitas vaksin dengue

Vaksin dengue yang beredar di Indonesia diproduksi dengan nama dengvaxia oleh sebuah perusahaan farmasi multinasional asal Perancis, Sanofi Pasteur. Ini merupakan vaksin demam berdarah pertama di dunia. Sampai saat ini terdapat 19 negara di dunia telah menyetujui penggunaan vaksin demam berdarah tersebut.

Dengvaxia merupakan vaksin tetravalen yang mengandung 4 subtipe virus dengue (DEN-1, DEN-2, DEN-3, DEN-4). Dalam vaksin tersebut, virus yang digunakan masih hidup namun sudah dilemahkan. Dengvaxia diberikan dalam tiga dosis berseri, yaitu pada bulan ke-0, 6, dan 12 pada orang berusia 9–45 tahun yang tinggal di daerah endemis infeksi dengue.

Meski menjadi bagian dari pencerahan untuk penanggulangan penyakit demam berdarah, dengvaxia sempat menimbulkan kontroversi dalam sistem pelayanan kesehatan di seluruh dunia. Pasalnya, setelah dengvaxia dipasarkan, Sanofi Pasteur membagikan hasil penelitian yang menyatakan bahwa penggunaan vaksin tersebut dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami demam berdarah dalam kondisi yang lebih berat. Padahal sebelumnya, dengvaxia dipercaya dapat menurunkan risiko demam berdarah fase berat dan mengurangi durasi rawat inap akibat penyakit tersebut.

Bahkan, pada November 2017 didapatkan hasil penelitian bahwa pada kelompok orang tanpa riwayat infeksi dengue yang diberikan dengvaxia malah lebih berisiko mengalami demam berdarah berat dibandingkan yang tidak mendapatkan vaksin tersebut. Adanya penemuan terkait menimbulkan respons penolakan terhadap pemberian dengvaxia oleh masyarakat di Filipina, yang sebelumnya menjadi satu-satunya negara yang mengadakan kampanye pemberian vaksin tersebut secara masif.

1 of 3

Melihat efektivitas dengvaxia

Tak berhenti di situ, yang terbaru pada September 2018, WHO memberikan keterangan resmi mengenai dengvaxia dalam bentuk position paper. Keterangan yang diberikan menyebut bahwa efektivitas dengvaxia ditinjau dari beberapa aspek adalah sebagai berikut:

  • Efektivitas secara umum pada penderita demam berdarah

Berdasarkan penelitian pada kelompok individu berusia 2–16 tahun, efektivitas dengvaxia terhadap kejadian demam berdarah mencapai 60,3%. Sedangkan pada kelompok usia 9–16 tahun, efektivitasnya mencapai 65,5% dan pada kelompok usia kurang dari 2 tahun mencapai 44,6%.

  • Berdasarkan subtipe virus dengue yang menginfeksi

Pada kelompok usia 2–16 tahun, dengvaxia memberikan efektivitas 54,7% untuk individu yang terinfeksi dengue subtipe 1; 43% untuk individu yang terinfeksi subtipe 2; 71,6% untuk individu yang terinfeksi subtipe 3; dan 76,9% untuk individu yang terinfeksi subtipe 4.

Pada kelompok usia 9 tahun ke atas, dengvaxia memberikan efektivitas 58,4% untuk infeksi dengue subtipe 1; 47,1% pada infeksi subtipe 2; 73,6% pada infeksi subtipe 3; dan 83,2% pada infeksi subtipe 4.

  • Durasi rawat inap pada penderita demam berdarah

Dalam pengaruhnya terhadap pengurangan durasi rawat inap, dengvaxia memberikan efektivitas 72,2% pada kelompok semua usia, dan 80,8% pada kelompok usia 9 tahun ke atas.

  • Dosis pemberian vaksin dengue

Pada kelompok individu berusia 9–16 tahun, dengvaxia memberikan efektivitas 70,8% di antara dosis ke-1 dan ke-2 terhadap kejadian demam berdarah; 66,6% di antara dosis ke-2 dan ke-3 terhadap kejadian demam berdarah; dan 62,4% di antara dosis ke-3 dan 6 bulan usai dosis ke-3 terhadap kejadian demam berdarah.

  • Pemeriksaan seromarker dengue pada darah

Pada kelompok individu berusia 9 tahun ke atas, dengvaxia memberikan efektivitas mencapai 81,9% terhadap kejadian demam berdarah orang-orang seropositive (pernah terinfeksi virus dengue sebelumnya), dan 52,5% pada orang yang seronegatif (belum pernah terinfeksi virus dengue sebelumnya).

Sementara pada kelompok berusia 2–8 tahun, dengvaxia memberikan efekvitas sebesar 70,1% terhadap kejadian demam berdarah pada individu yang seropositive, dan 14,4% pada mereka yang seronegatif.

2 of 3

Mencermati keamanan vaksin

Setelah melalui beberapa penelitian, WHO menyatakan bahwa vaksin demam berdarah dengan kandungan virus dengue yang dilemahkan ―termasuk dengvaxia― dianggap efektif dan aman bagi orang yang memiliki riwayat infeksi virus dengue sebelumnya (individu seropositive). Kendati demikian, vaksin tersebut dianggap dapat meningkatkan risiko demam berdarah derajat berat pada orang yang baru pertama kali terinfeksi virus dengue setelah sebelumnya mendapat vaksin dengvaxia (individu seronegatif).

Menurut WHO, risiko tersebut harus benar-benar diminimalkan. Salah satu caranya adalah dengan pemeriksaan skrining seromarker dengue sebelum melakukan vaksinasi demam berdarah. Pemeriksaan seromarker, seperti dengue Ig G, biasanya tersedia di negara endemis demam berdarah pada umumnya. Jika dalam kondisi skrining tersebut tidak mungkin dilakukan, maka vaksinasi tetap dapat diterapkan pada orang yang tinggal di area dengan riwayat nilai seroprevalensi minimal 80% pada kelompok usia 9 tahun.

Faktanya, saat ini dengvaxia dapat diberikan pada individu berusia 9–45 tahun. Berdasarkan WHO, saat paling optimal untuk diberikan dengvaxia adalah sebelum usia di mana demam berdarah derajat berat memiliki insiden tertinggi di suatu negara. Kemudian, dengvaxia dapat diberikan dalam serial 3 dosis dengan jarak 6 bulan antara masing-masing dosis pemberian.

Jadi, vaksinasi dengvaxia tetap dapat dilakukan sebagai bagian dari upaya pencegahan penyakit demam berdarah. Namun, pastikan Anda melakukan vaksinasi sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan. Jangan lupa untuk juga melakukan tindakan 3M plus, yang masih menjadi upaya pencegahan demam berdarah paling efektif hingga saat ini. Apabila Anda masih bingung dengan rencana vaksin demam berdarah, jangan sungkan untuk berkonsultasi lebih lanjut pada dokter.

(NB/ RVS)

Lanjutkan Membaca ↓