Kapan Bayi Prematur Boleh Mendapat Imunisasi?

Oleh dr. Fiona Amelia MPH pada 21 Apr 2019, 10:00 WIB
Jadwal imunisasi pada bayi prematur sebenarnya tidak begitu berbeda dengan bayi normal. Meski demikian, ada hal yang perlu menjadi perhatian.
Kapan Bayi Prematur Boleh Mendapat Imunisasi? (Olesia-Bilkei/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Rekomendasi jadwal imunisasi anak di seluruh dunia dibuat berdasarkan kondisi bayi yang cukup bulan, dengan berat lahir yang normal. Lantas, apakah jadwal ini pun berlaku untuk bayi prematur?

Tentunya orang tua dari bayi prematur kerap bertanya kapan bayinya boleh diimunisasi. Bahkan, sebagian orang tua sengaja menunda imunisasi karena khawatir imunisasi akan berdampak buruk pada buah hatinya.

Alasannya sederhana, karena bayi prematur terkesan “lemah”. Tak heran, karena secara medis bayi prematur memang cenderung memiliki berat lahir rendah serta lebih rentan mengalami gangguan kesehatan.

Imunisasi pada bayi prematur

Perlu diketahui bahwa kondisi prematur dan berat lahir yang rendah bukan hal yang perlu dipertimbangkan terkait dengan imunisasi. Sebaliknya, bayi prematur justru harus diimunisasi karena lebih berisiko mengalami komplikasi penyakit. Berbagai risiko penyakit bisa dicegah dengan imunisasi.

Selama kondisi bayi stabil dan memiliki berat lahir di atas 2.000 gram, bayi prematur harus menerima dosis lengkap imunisasi BCG, difteri, tetanus, pertusis, Haemophilus influenzae tipe b, hepatitis B, polio, dan pneumokokus.

Perhatian khusus untuk vaksin hepatitis B

Secara umum, jadwal imunisasi bayi prematur tidak berbeda dengan jadwal imunisasi pada bayi yang cukup bulan, yakni sesuai usia kronologis bayi yang dihitung sejak hari lahir.

Hanya saja, sebagian bayi prematur tidak bisa mendapatkan imunisasi tertentu tepat pada waktunya, salah satunya yakni imunisasi hepatitis B.

Pada prinsipnya, seluruh bayi baru lahir harus menerima dosis imunisasi hepatitis B pertamanya dalam waktu 24 jam setelah lahir. Dengan catatan, bayi lahir dalam kondisi stabil dan memiliki berat lahir di atas 2.000 gram.

Namun, jika indikasi medis menyatakan bayi tidak bisa mendapat imunisasi hepatitis B dalam rentang waktu tersebut, dosis pertama harus diberikan sesegera mungkin setelah kondisi bayi stabil. Selain itu, dosis selanjutnya juga harus dilengkapi sesuai jadwal yang dianjurkan.

Bayi prematur yang lahir sebelum usia kehamilan 32 minggu atau berat lahir kurang dari 2.000 gram umumnya belum memberikan respon kekebalan tubuh yang efektif dari imunisasi hepatitis B.

Oleh sebab itu, pada kondisi tersebut dosis pertama biasanya diberikan ketika bayi berusia 1 bulan atau saat pulang dari rumah sakit, tergantung dari petunjuk dokter.

Sebagai informasi, jadwal imunisasi anak di Indonesia mengikuti rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia tahun 2017. Jadwal ini akan sedikit berbeda jika ibu ternyata positif mengalami hepatitis B saat hamil atau saat melahirkan.

Pada kondisi tersebut, bayi prematur, terlepas dari berat lahir dan kondisinya, harus mendapatkan dosis pertama imunisasi hepatitis B dalam waktu 12 jam setelah lahir. Selanjutnya, dosis kedua harus diberikan pada usia 1 bulan dan dosis terakhir pada usia 6 bulan.

Jika masih ragu untuk imunisasi

Jika Anda masih ragu kapan si Kecil yang lahir prematur boleh diimunisasi, segera konsultasikan kepada dokter anak yang merawat. Selain itu, ingat pula hal-hal berikut ini:

  • Bayi prematur yang tidak diimunisasi lebih berisiko mengalami komplikasi penyakit yang seharusnya bisa dicegah dengan imunisasi.
  • Semua vaksin yang tersedia sudah teruji dan aman diberikan kepada bayi prematur dan bayi dengan berat lahir rendah. Jadi, Anda sebagai orang tua tak perlu khawatir.
  • Efek samping yang timbul akibat imunisasi tidak berbeda pada bayi cukup bulan dan bayi prematur.

Selama kondisi bayi prematur stabil dan tidak ada kontra indikasi medis tertentu, imunisasi bisa segera dimulai sesuai jadwal, mengikuti usia kronologisnya. Namun perlu diperhatikan, sebaiknya lakukan imunisasi si Kecil di fasilitas kesehatan yang sama, agar tahapan imunisasi tidak ada yang terlewati. Dengan demikian, tumbuh kembang anak bisa dipantau secara berkelanjutan.

[NP/ RVS]