Ubah Pola Makan demi Selamatkan Bumi

Oleh dr. Astrid Wulan Kusumoastuti pada 22 Apr 2019, 11:15 WIB
Dengan menjalankan pola makan diet planet, Anda dapat menjaga kesehatan dan mendapat tubuh ideal, sekaligus menjaga kelestarian Bumi.
Ubah Pola Makan demi Selamatkan Bumi (Vasin Lee/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Setelah berbagai jenis diet marak di masyarakat, seperti diet keto, diet GM, dan diet OCD, saat ini ada diet baru yang diklaim dapat membantu menyelamatkan Bumi. Pola makan ini disebut dengan diet planet. Sebagian kalangan menganggap, dengan menjalankan diet ini Anda dapat menjaga keseimbangan berat badan sekaligus menjaga kelestarian Bumi.

Apa itu diet planet?

Diet planet adalah hasil proyek tiga tahun yang melibatkan 37 pakar dari 16 negara, termasuk Indonesia. Para pakar yang terlibat tak hanya berasal dari sektor kesehatan, tapi juga dari sektor lain, seperti pertanian, peternakan, serta kesehatan lingkungan.

Diet ini kemudian diperkenalkan oleh sebuah komisi dari lembaga ilmiah Lancet, yaitu the EAT-Lancet Commission. Komisi ini membahas adanya kebutuhan untuk mencukupi kebutuhan pangan populasi global yang sedang berkembang dengan pola makan yang sehat. Namun, lebih dari sekadar menjalankan pola makan sehat, penggiat diet ini juga mengukuhkan sistem pangan berkelanjutan yang akan meminimalkan kerusakan pada planet bumi.

Diet planet adalah sebuah referensi umum untuk pola makan orang dewasa yang secara sederhana diilustrasikan dengan menu makan setengah piring yang terdiri dari buah, sayur-sayuran, dan kacang-kacangan. Setengah piring sisanya, diutamakan terdiri dari gandum utuh, protein nabati, dan minyak nabati tak jenuh.

Diet planet ini juga menitikberatkan pada usaha mengurangi produk hewani seperti daging dan susu. Orang yang menjalani diet planet juga akan membatasi tambahan gula dan sumber nabati yang mengandung pati atau tepung, seperti singkong dan ubi.

Diet planet dan kelestarian Bumi

Tidak banyak yang tahu bahwa produksi makanan massal dalam skala yang masif saat ini merupakan salah satu penyumbang polusi yang banyak menyebabkan kerusakan alam. Salah satunya adalah pemanasan global. Produksi makanan massal ini juga menyebabkan gangguan pada biodiversity atau keanekaragaman hayati.

Diperkirakan, jumlah manusia meningkat hingga 10 miliar pada tahun 2050. Bila metode produksi bahan makanan massal saat ini masih tetap dijalani, kerusakan bumi yang berat dapat terjadi di masa depan. Padahal, jumlah kebutuhan pangan akan terus naik seiring meningkatnya jumlah manusia.

Kerusakan alam juga terjadi akibat proses produksi bahan makanan. Di rumah pemotongan hewan, misalnya. Untuk memenuhi permintaan kebutuhan produk hewani, seperti daging merah, puluhan bahkan ratusan hewan dipotong setiap harinya.

Lama-kelamaan hal ini tentu dapat menimbulkan dampak lingkungan. Karena alasan-alasan itu, diet planet disusun sedemikian rupa agar kebutuhan gizi sebagian besar dipenuhi dari sumber nabati.

Meski begitu, bukan berarti sumber hewani dihilangkan sama sekali dalam diet planet. Sumber hewani tetap dikonsumsi dalam jumlah sedikit agar nutrisi yang didapat tetap seimbang dengan komposisi yang tepat.

Diet planet juga menganjurkan asupan kalori sebesar 2.500 kalori. Jumlah ini adalah kebutuhan kalori masyarakat usia dewasa secara umum (di luar mereka yang memiliki kebutuhan atau aktivitas khusus seperti atlet atau memiliki penyakit tertentu). Hal ini agar tidak terjadi ketimpangan yang terlalu jauh antara kelompok yang malnutrisi dan overnutrisi.

Diet planet kini dapat menjadi salah satu pilihan diet sehat Anda. Tak hanya dapat menjaga kesehatan dan mendapatkan tubuh ideal, dengan diet planet Anda juga membantu menjaga kelestarian bumi. Nah, di Hari Bumi Internasional ini, Anda sudah siap mengubah pola makan untuk selamatkan bumi?

[HNS/ RVS]