Rumput Laut Bisa Menjadi Sumber Ide Obat Generasi Baru

Oleh Ayu Maharani pada 22 Apr 2019, 11:45 WIB
Selain bisa diolah menjadi makanan lezat, ekstrak rumput laut pun juga bisa menjadi sumber ide obat generasi baru untuk beberapa penyakit.
Rumput Laut Bisa Menjadi Sumber Ide Obat Generasi Baru (Pressmaster/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Khasiat rumput laut untuk kesehatan sudah diakui dalam berbagai studi ilmiah. Anda sendiri mungkin sudah merasakannya. Tak tanggung-tanggung, dilansir dari Medical News Today, rumput laut bisa membawa manfaat dalam dunia pengobatan, khususnya dalam hal merancang obat generasi baru untuk menyembuhkan beberapa jenis penyakit.

Kenali Actinobacteria dalam rumput laut

Selama beberapa tahun terakhir, meningkatnya masalah resistansi obat menjadi “beban” bagi peneliti untuk terus menemukan alternatif obat terbaru. Salah satu bahan yang digunakan untuk mengeksplorasi obat baru adalah mikroba. Selama ini, mungkin kebanyakan orang berpendapat bahwa mikroba, seperti bakteri, protozoa, jamur, alga, dan amuba, adalah penyebab penyakit berbahaya. Padahal, tak semuanya begitu.

Mikroba itu sendiri menghasilkan senyawa yang digunakan para ilmuwan untuk mengembangkan banyak obat-obatan. Nah, salah satu mikroba yang kini sedang dikembangkan menjadi alternatif obat generasi baru, yaitu Actinobacteria.

Actinobacteria merupakan mikroorganisme yang berada di dalam tanah dan air. Di dalam laut, mereka berperan penting dalam proses daur ulang biomaterial dan produksi senyawa yang mungkin bermanfaat bagi dunia farmasi. Meski belum banyak yang meneliti Actinobacteria, penelitian sebelumnya mengungkap bahwa mikroba ini dapat berpotensi sebagai bahan baku pembuatan obat khusus kanker, malaria, peradangan, dan infeksi-infeksi tertentu.

Bakteri tersebut menghasilkan sejenis zat biokimia yang berbeda (tidak mengganggu manusia) dengan banyak kerangka karbon yang ditemukan. Lalu, apa kaitannya Actinobacteria dengan rumput laut?

Studi baru yang dipublikasikan dalam Frontiers in Microbiology mengungkap bahwa spesies rumput laut Laminaria ochroleuca sangat kaya akan Actinobacteria yang memiliki sifat antimikroba dan antikanker. Atas dasar ini, peneliti melihat bahwa jenis rumput laut tersebut dapat digunakan oleh para ilmuwan untuk mengembangkan obat baru. Sebenarnya, Actinobacteria biasa berkembang di laut dalam atau dasar laut, tetapi mereka juga dapat hidup di rumput laut.

Menurut Dr. Maria de Fátima Carvalho dari Interdisciplinary Centre of Marine and Environmental Research di Portugal, beberapa obat baru yang berasal dari Actinobacteria laut sudah diketahui. Misalnya saja, antikanker salinosporamide A yang saat ini sedang diuji klinis serta beberapa antibiotik baru yang efektif melawan MRSA dan tuberkulosis.

Rumput laut jenis L. Ochroleuca berwarna cokelat dan membentuk struktur yang kompleks sehingga bila tumbuh banyak dapat menyerupai hutan rumput laut. Actinobacteria dalam rumput laut tersebut juga dapat menghambat pertumbuhan bakteri berbahaya, seperti Candida albicans dan Staphylococcus aureus yang dapat menyebabkan infeksi kulit.

Di luar kandungan Actinobacteria, menurut dr. Astrid Wulan Kusumoastuti dari KlikDokter, rumput memang digadang-gadang sebagai kandidat superfood dalam dunia teknologi pangan Barat.

“Rumput laut ini kelihatannya seperti bahan makanan sederhana. Tapi dapat dikatakan, nutrisi di dalamnya lebih banyak dibandingkan berbagai jenis bahan makanan lainnya. Inilah mengapa, rumput laut sering juga disebut sayuran super,” jelas dr. Astrid.

Rumput laut merupakan bahan makanan alami yang menawarkan sejumlah manfaat bagi kesehatan. Baik itu diolah sebagai masakan, minuman, hingga obat generasi baru, semuanya berdampak baik bagi manusia. Semoga saja inovasi pengembangan Actinobacteria dalam rumput laut jenis L. ochroleuca ini bisa segera dirasakan oleh masyarakat dunia. Dengan begitu, masalah resistansi obat pun dapat terselesaikan.

[RS/ RVS]