Kebanyakan Minum Obat Antinyeri Bisa Pengaruhi Psikologis?

Oleh Ayu Maharani pada 22 Apr 2019, 12:00 WIB
Meredakan gejala nyeri dengan minum obat antinyeri boleh-boleh saja. Tapi kalau kebanyakan, kondisi psikologis Anda bisa terpengaruh.
Kebanyakan Minum Obat Antinyeri Bisa Pengaruhi Psikologis? (Makistock/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Obat seperti parasetamol dan ibuprofen merupakan obat antinyeri yang paling umum dikonsumsi. Selain ampuh meredakan demam dan gejala nyeri, mudah mendapatkan dua jenis obat ini semakin membuat mereka menjadi obat yang paling dekat dengan kehidupan Anda. Namun, meski efektif meredakan nyeri, tahukah Anda bahwa kebanyakan minum obat antinyeri juga bisa pengaruhi sisi psikologis?

Obat antinyeri turunkan kadar empati?

Dilansir dari Medical News Today, sejumlah ilmuwan dari Ohio University meneliti apakah konsumsi parasetamol alias asetaminofen dapat memengaruhi kesehatan mental seseorang. Dalam penelitian tersebut, fokus aspek psikologinya adalah kadar empati. Ada dugaan, terlalu banyak mengonsumsi parasetamol dapat menurunkan kadar empati.

Sebelum Dominik Mischkowski dan tim dari Ohio University meneliti tentang kaitan obat parasetamol dan berkurangnya rasa empati, sebenarnya sudah ada penelitian di tahun 2010 yang melakukan hal serupa. Hasilnya, konsumsi parasetamol atau acetaminophen dapat mengurangi respons saraf terhadap penolakan sosial. Atau dengan kata lain, obat tersebut bisa mengurangi rasa sakit psikologis sekaligus meningkatkan kepercayaan diri seseorang.

Nah, dalam temuan terbarunya, Mischkowski menjelaskan bagaimana asetaminofen tampaknya mengurangi kemampuan peserta penelitian untuk berempati kepada mereka yang mengalami penderitaan fisik serta emosional. Para peneliti kemudian merekrut 114 peserta. Mereka memberi setengah dari kelompok itu 1.000 miligram asetaminofen, sedangkan sisanya menerima plasebo.

Penelitian ini bersifat double-blind, yang berarti para peneliti maupun peserta tidak tahu apakah mereka mendapatkan obat aktif atau plasebo. Satu jam kemudian, tim meminta para peserta untuk membaca petikan singkat tentang orang-orang yang memiliki pengalaman positif yang meneguhkan hati.

Kemudian, mereka mengukur seberapa positif peserta merasakan peristiwa itu. Setelah para ilmuwan menyelesaikan analisis mereka, hasilnya adalah asetaminofen dapat mengurangi empati positif seseorang. Saat membaca skenario tenang sosok protagonis yang memiliki pengalaman bahagia, peserta yang mendapat pengaruh acetaminophen ternyata mengalami pengaruh empatik yang lebih sedikit ketimbang mereka yang mengonsumsi plasebo.

Namun, yang perlu ditegaskan di sini adalah, asetaminofen atau parasetamol ini bukannya membuat seseorang “mati rasa”  atau “tidak punya hati” dan tidak bisa memahami kondisi sekitar sama sekali. Mereka yang di bawah pengaruh acetaminophen hanya bersikap “biasa saja”.

Mereka menyadari dampak emosionalnya, tetapi mereka tidak merasakan banyak empati untuk individu dalam sebuah narasi. Di Amerika sendiri, sekitar seperempat dari jumlah orang dewasa mengonsumsi asetaminofen setiap minggu. Oleh karena itulah, penelitian tersebut sangat penting dan perlu dikembangkan lebih lanjut.

Bisa sebabkan perlukaan lambung

Di luar masalah parasetamol atau asetaminofen bisa memengaruhi empati seseorang,  dr. Alvin Nursalim, SpPD dari KlikDokter mengatakan bahwa minum terlalu banyak obat antinyeri juga dapat menyebabkan perlukaan pada lambung Anda. Untuk parasetamol sendiri, menurut dr. Alvin, adalah obat nyeri yang bisa dijadikan pilihan apabila sakit yang dirasakan masih dalam intensitas ringan.

“Jika pasien mengeluhkan nyeri yang hebat, parasetamol terkadang tidak dapat memberikan efek yang nyata,” dia menjelaskan.

Meski asetaminofen digunakan untuk meredakan gejala nyeri yang ringan, bukan berarti Anda bisa langsung sembarangan mengonsumsi obat antinyeri lain, seperti ibuprofen, diklofenak, dan metampiron, secara sembarangan serta berlebihan, ya! Lagi pula, obat antinyeri hanya mampu meredakan rasa nyeri tanpa mengobati penyebab sakitnya. Karena itu, diperlukan pemeriksaan dan diagnosis dari dokter untuk penyembuhan penyakit asli Anda. Kalau tidak dipatuhi, bisa-bisa bukan psikologis Anda yang terganggu, tetapi organ dalam Anda justru terganggu!

[HNS/ RVS]