Flexitarian, Diet Terbaik untuk Bumi?

Oleh Ayu Maharani pada 22 Apr 2019, 16:40 WIB
Yuk, kenalan dengan diet flexitarian. Selain baik untuk tubuh, diet ini juga dinilai baik untuk pelestarian alam.
Flexitarian, Diet Terbaik untuk Bumi? (Amenic181/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Tak cuma menyehatkan tubuh dengan menurunkan risiko obesitas, penyakit jantung, dan diabetes tipe 2, penerapan pola makan nabati atau vegetarian juga dapat membantu menyelamatkan bumi. Memang, langsung 100% menerapkan pola makan tersebut akan terasa cukup berat. Karena itu, tercetuslah diet flexitarian, yakni pola makan fleksibel bagi mereka yang belum siap sepenuhnya untuk meninggalkan daging.

Mengapa diet flexitarian itu bermanfaat?

Dilansir CNN.com, orang flexitarian masih diperbolehkan mengonsumsi daging, tetapi sebagian besar makanan yang dikonsumsinya harus terdiri atas nabati. Lalu, mengapa diet flexitarian dianggap sebagai diet yang paling baik untuk bumi?

Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Nature menemukan, sebagian hasil dari pertumbuhan populasi dan konsumsi daging yang tinggi dapat memberikan tekanan pada lingkungan hingga 90% di tahun 2050 nanti. Menurut penulis studi Marco Springmann dari University of Oxford, konsumsi daging yang berlebih akan melampaui batas-batas keseimbangan planet sehingga ekosistem di bumi tidak stabil.

Oleh sebab itulah, diet flexitarian ini terbentuk. Di satu sisi, diet ini bisa membantu menyeimbangkan populasi dan ekosistem di bumi. Sedangkan di sisi lain diet tersebut tetap bisa membantu manusia untuk memenuhi nutrisi tertentu yang hanya bisa didapatkan dari produk hewani.

Tidak perlu langsung tidak mengonsumsi produk hewani sama sekali. Dengan menjadikan makanan nabati sebagai 80 persen makanan pokok Anda, Anda sudah dapat membantu bumi. Ketahuilah bahwa memproduksi produk hewani menghasilkan sebagian besar emisi gas rumah kaca hingga 78%!

Daging sapi 100 kali mengeluarkan lebih banyak emisi dari kacang-kacangan. Seekor sapi rata-rata membutuhkan 10 kilogram pakan untuk meningkatkan 1 kilogram berat badannya. Nah, untuk memberikan pakan terhadap sapi, pakan tersebut membutuhkan input air, tanah, dan pupuk untuk tumbuh. Selain itu, sapi mengeluarkan gas metana yang kuat selama proses pencernaan sehingga menghasilkan emisi yang cukup tinggi.

Meskipun vegetarian sangat berkaitan dengan dampak lingkungan yang paling rendah, tetapi tidak semua orang tertarik menjalani gaya hidup tersebut. Nah, ketimbang langsung apatis sebelum mencoba, lebih baik terapkanlah diet flexitarian ini. Anda tidak harus menyingkirkan konsumsi daging sepenuhnya, tetapi hanya mengurangi asupannya. Misalnya, seperti ini:

  • Flexitarian pemula: 6–8 kali makan tanpa daging per minggu
  • Flexitarian lanjut: 9–14 kali makan tanpa daging per minggu
  • Flexitarian ahli: setidaknya 15 kali makan tanpa daging per minggu atau membatasi protein hewani hingga 9 ons (0,2 kilogram) tiap minggunya.

Selain itu, kunci untuk menerapkan pola makan flexitarian ini bukan cuma mengurangi frekuensi makan daging, tetapi pintar memilih protein nabati. Masih dikutip dari CNN.com, kacang-kacangan seperti lentil, buncis, dan edamame adalah protein nabati yang sangat baik untuk tubuh.

Anda tetap harus memenuhi kebutuhan protein dengan baik. Karena menurut dr. Nadia Octavia dari KlikDokter, kekurangan protein dapat menimbulkan dampak buruk bagi kesehatan. “Contohnya penyembuhan luka menjadi lebih lambat, kulit tampak lebih kusam, dan berkurangnya kekuatan otot,” katanya.

Perlu diingat bahwa di Hari Bumi Internasional ini, planet Anda sudah memberikan begitu banyak sumber penghidupan. Oleh sebab itu, tak ada salahnya Anda memberikan timbal balik dengan cara menerapkan diet yang dapat membantu bumi, seperti diet flexitarian ini. Tak perlu langsung mengatakan selamat tinggal pada daging, cukup mengurangi porsi dan frekuensi makan daging untuk menyeimbangkan populasi serta ekosistem di bumi.

[RS/ RVS]