Sering Konsumsi Fast Food Picu Obesitas pada Anak

Oleh dr. Alvin Nursalim, SpPD pada 23 Apr 2019, 13:30 WIB
Nugget, kentang goreng, hamburger. Walaupun rasanya enak, fast food dapat mengancam kesehatan anak karena memicu obesitas.
Sering Konsumsi Fast Food Picu Obesitas pada Anak (SUPERMAO/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Fast food memang punya daya tarik tersendiri, baik dari segi kepraktisan, harga, dan rasa. Untuk anak-anak, makanan cepat saji seperti ayam goreng, kentang goreng, dan hamburger tentu terlihat sangat menggiurkan. Meski begitu, mengonsumsi makanan cepat saji terlalu sering bisa menimbulkan sejumlah dampak negatif pada anak. Salah satunya adalah berat badan berlebih atau obesitas.  

Salah satu karakteristik dari makanan cepat saji adalah mereka dimasak dengan cara digoreng, dan mengandung banyak lemak jenuh. Tak lupa, kandungan kalori yang besar untuk setiap porsi sajiannya. Inilah yang kemudian berhubungan dengan risiko obesitas. Karena asupan kalori yang lebih banyak dari pembakaran kalori tubuh dapat menyebabkan peningkatan berat badan.

Di samping itu, restoran cepat saji sering berlomba-lomba memberikan promosi yang lebih menggiurkan dengan menyuguhkan sajian yang lebih besar dan harga yang lebih murah. Ukuran roti yang lebih besar, diselipkan potongan daging yang besar, dengan lumuran saus penyedap yang berlimpah. Dengan bumbu-bumbu tambahan tersebut, jumlah kalori satu porsi cheeseburger bisa mencapai 400–700 kalori.

Selain makanan yang tinggi kalori, minuman ringan (soft drink) yang ditawarkan pada restoran cepat saji juga disediakan dalam porsi yang besar. Salah satu bentuk soft drink yang biasa ditemui adalah minuman bersoda. Minuman ini identik dengan makanan cepat saji yang juga berkalori tinggi. Keduanya merupakan jenis asupan yang dapat menambah risiko kegemukan jika dikonsumsi berlebihan.

Bahaya lain dari konsumsi fast food

Selain menyebabkan kenaikan berat badan, konsumsi makanan cepat saji berlebihan juga meningkatkan risiko berbagai penyakit berikut:

  1. Penyakit jantung koroner

Konsumsi makanan yang tinggi kalori, tinggi natrium, dan tinggi lemak jenuh dapat meningkatkan risiko terjadinya plak aterosklerosis. Plak ini terdiri dari kolesterol dan kalsium yang dapat menyumbat aliran pembuluh darah jantung.

  1. Tekanan darah tinggi (hipertensi)

Kandungan natrium yang tinggi dari makanan cepat saji dapat menyebabkan peningkatan risiko terjadinya tekanan darah tinggi. Jadi bagi Anda yang mempunyai tekanan darah tinggi, hindarilah makanan dengan kandungan natrium yang tinggi seperti makanan cepat saji.

  1. Dislipidemia

Selain kalorinya yang besar, makanan cepat saji juga mengandung lemak jenuh yang tinggi. Lemak jenuh adalah lemak yang dapat memicu berbagai penyakit. Lemak jenuh dapat dijumpai pada produk susu penuh lemak, seperti keju, susu, krim, mentega, dan es krim. Hal ini dapat meningkatkan risiko terjadinya gangguan metabolisme kolesterol yang dikenal dengan dislipidemia.

Kini Anda sudah mengetahui bahaya dari konsumsi fast food yang berlebihan. Penting bagi orang tua untuk membatasi pemberian makanan cepat saji kepada anak untuk mencegah obesitas. Konsumsilah makanan ini sesekali saja, dan jangan dijadikan kebiasaan. Selain itu, bantu anak untuk menerapkan pola hidup sehat dalam kesehariannya. Sajikan makanan rendah lemak, rendah garam, tinggi sayur dan buah di meja makan. Tak lupa jadikanlah olahraga sebagai kegiatan rutin keluarga.

[RS/ RVS]