Kapan Anak Boleh Makan Daging?

Oleh Ayu Maharani pada 23 Apr 2019, 14:20 WIB
Karena teksturnya yang cukup sulit untuk dikunyah dan dicerna, usia berapa anak boleh konsumsi daging?
Kapan Anak Boleh Makan Daging? (Grebnev/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Daging merupakan sumber protein hewani yang kaya zat besi. Meski rasanya lezat, tekstur daging tidak selembut buah, sayur, serta sumber makanan lainnya, sehingga sebagian ibu masih bingung kapan sebaiknya daging diberikan untuk buah hatinya. Mereka khawatir, daging yang diberikan justru bisa mengganggu saluran cerna anak. Sebenarnya, kapan waktu yang tepat bagi anak untuk mulai makan daging?

Saat usia si Kecil memasuki 6 bulan, makanan pendamping ASI (MPASI) mesti diberikan untuk melengkapi kebutuhan nutrisinya. Menurut WHO Global Strategy for Infant and Young Child Feeding pada tahun 2003, ada empat syarat utama dalam pemberian MPASI, yaitu tepat waktu, memadai, aman, serta diberikan dengan cara yang benar.

Dari empat syarat tersebut, mungkin yang agak membingungkan adalah memadai. Kepada KlikDokter, dr. Ratih Puspita, Sp.A, mengatakan bahwa yang dimaksud dengan memadai ialah MPASI harus dapat memenuhi kebutuhan makronutrien dan mikronutrien bayi sesuai dengan usianya. “Dan salah satu mikronutrien terpenting yang dibutuhkan bayi adalah zat besi,” jelasnya.

Menurutnya, bayi berusia 6–12 bulan memerlukan 11 mg zat besi setiap harinya. Sebanyak 0,2 mg/hari didapatkan dari ASI, sedangkan sisanya – yakni 10,8 – didapatkan dari menu MPASI ataupun suplementasi besi. Atas dasar itulah, pemberian daging itu penting untuk bayi. Lagi pula, daging merah seperti daging dan hati sapi memang sumber zat besi terbaik sehingga dapat mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.

Dari penjelasan ini, dapat dikatakan bahwa waktu yang tepat bagi anak untuk makan daging adalah saat ia memasuki masa MPASI, yakni 6 bulan. Anda tak perlu khawatir soal tekstur daging karena ada siasatnya.

“Memang, daging memiliki tekstur yang cukup kasar dan liat sehingga bayi mungkin akan sulit menerima makanan ini. Untuk mengatasi itu, daging harus diberikan dalam tekstur yang ditingkatkan secara bertahap,” dr. Ratih menegaskan.

1 of 2

Tahap mengenalkan daging

Pada masa-masa awal, daging giling atau kerap disebut daging cincang bisa menjadi pilihan. Pasalnya, di antara semua jenis daging, daging tersebut teksturnya yang paling ringan untuk dicerna. Bila Anda masih khawatir, jangan sungkan untuk dilumatkan kembali hingga benar-benar lembut/hancur dengan food processor.

Setelah si bayi sudah terbiasa dengan tekstur, tingkatkan teksturnya menjadi daging cincang halus, kemudian cincang kasar, dan seterusnya. Harapannya, saat bayi berusia 1 tahun, ia sudah dapat menerima makanan keluarga (lauk pauk pada umumnya).

Sementara itu, untuk melengkapi panduan ibu dalam memberikan makanan padat (termasuk daging) sebagai MPASI, coba terapkan beberapa hal yang direkomendasikan oleh dr. Dyah Novita Anggraini dari KlikDokter berikut ini:

  • Sebelum mengenalkan anak pada daging, Anda bisa memberikan serealia bayi yang mengandung zat besi tinggi. Setelah itu, barulah Anda bisa memberikan sayur, buah, dan daging. Tapi ingat, jangan mengenalkan secara sekaligus. Tunggu 2 atau 3 hari untuk mengenalkannya pada makanan baru.
  • Ketika diberikan makanan baru, perhatikan apakah anak mengalami tanda-tanda alergi ataupun intoleransi.
  • Pastikan makanan yang diberikan benar-benar lembek supaya anak tidak tersedak saat menelan.
  • Jangan memberikan susu sapi cair (UHT) atau madu kepada anak hingga usianya setahun.
  • Dudukkan anak pada kursi makannya. Apabila dia masih sulit untuk duduk, Anda bisa memangkunya dan berada tetap di meja makan untuk mengenalkan cara makan yang benar.

Jadi kesimpulannya, waktu yang tepat bagi anak mulai makan daging adalah ketika usianya sudah menginjak 6 bulan. Di usia itu, bukan cuma ASI yang diperlukan untuk memasok nutrisinya, tetapi juga MPASI. Daging bertekstur lembut bisa Anda jadikan menu MPASI. Dan pastikan daging yang diberikan benar-benar lembut untuk mencegah tersedak dan gangguan pencernaan, serta masak hingga benar-benar matang agar tidak ada bakteri yang berpotensi mengakibatkan infeksi pada anak.

[RS/ RVS]

Lanjutkan Membaca ↓