Vitamin D Bisa Bantu Melawan Kanker Usus Besar?

Oleh Krisna Octavianus Dwiputra pada 23 Apr 2019, 17:15 WIB
Penelitian terbaru menyebutkan bahwa vitamin D bisa membantu melawan kanker usus besar. Bagaimana penjelasannya soal itu?
Vitamin D Bisa Bantu Melawan Kanker Usus Besar? (crystal-light/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Salah satu jenis kanker yang cukup sering terjadi adalah kanker usus besar atau kolorektal. Kini, satu studi baru menyebut bahwa kanker ini bisa dilawan dengan konsumsi vitamin D dosis tinggi. Terutama bila dibantu dengan kombinasi kemoterapi.

Untuk kanker usus besar sendiri, sampai saat ini belum diketahui penyebab pastinya. Menurut dr. Atika dari KlikDokter, kanker usus merupakan suatu kondisi yang terjadi akibat perpaduan banyak faktor. Faktor genetik diketahui berperan besar pada terjadinya kanker usus.

"Selain itu, pemilik mutasi gen tertentu akan memiliki penyakit polip usus yang bersifat turunan. Penderita polip usus turunan ini memiliki risiko hampir 100 persen mengalami kanker usus besar pada usia 40 tahun," ujar dr. Atika.

Namun, pola makan juga menjadi salah satu faktor risiko terbesar. Sering menyantap daging merah dan lemak hewani, kurang makan serat, serta kurang mengonsumsi sayuran dan buah-buahan adalah pola makan yang bisa meningkatkan risiko Anda terkena kanker usus besar.

Bisakah vitamin D menghambat kanker usus?

Dilansir Medical News Today, sebuah uji klinis yang disebut SUNSHINE telah menemukan bahwa dosis besar vitamin D dapat memperlambat perkembangan kanker usus besar metastatik (kanker usus besar stadium lanjut dan menyebar) secara signifikan.

"Hasil uji coba ini menjanjikan dan dapat mengarah pada kemungkinan pengobatan baru di masa depan," ujar Dr. Kimmie Ng, direktur penelitian klinis di Pusat Perawatan Kanker Gastrointestinal Dana-Farber di Boston, Amerika Serikat.

Dalam percobaan yang telah diterbitkan dalam jurnal JAMA tersebut, para peneliti merekrut 139 orang dengan kanker usus besar metastatik yang sebelumnya tidak diobati. Mereka membaginya menjadi dua kelompok: pasien dengan konsumsi vitamin D dosis tinggi dan vitamin D dosis rendah.

Kelompok dosis tinggi mengonsumsi sekitar 8.000 IU vitamin D setiap hari selama 14 hari, sebelum diturunkan menjadi 4.000 IU sehari. Sementara, kelompok dosis rendah mengonsumsi 400 IU setiap hari untuk seluruh durasi penelitian. Kedua kelompok juga menerima kemoterapi standar selama percobaan.

Para peneliti mengamati bahwa perkembangan penyakit pada peserta dalam kelompok dosis tinggi berhenti selama rata-rata sekitar 13 bulan. Sedangkan, mereka yang tergabung dalam kelompok dosis rendah mengalami keterlambatan perkembangan hampir 11 bulan.

Selain itu, mereka menemukan bahwa peserta dalam kelompok dosis tinggi akan lebih kecil kemungkinannya untuk mengalami pengembangan penyakit atau kematian selama masa tindak lanjut yang berjalan sekitar 22 bulan.

"Kami berharap dapat meluncurkan uji coba yang lebih besar untuk mengonfirmasi temuan yang menarik dan provokatif ini," kata Dr. Charles Fuchs, penulis senior studi tersebut sekaligus direktur Pusat Kanker di Yale Cancer Center, New Haven, AS.

1 of 2

Vitamin D bisa menjadi sumber penghambat yang baik

Sebelum percobaan yang dilakukan oleh SUNSHINE, hanya 9 persen dari peserta yang memiliki kadar vitamin D yang cukup. Tim peneliti mencatat bahwa hanya mereka yang berada dalam kelompok dosis besar yang mengembangkan dan mempertahankan tingkat yang memadai selama penelitian.

Sebenarnya, tubuh memproduksi vitamin D sebagai hasil dari sinar matahari pada kulit. Anda juga dapat memperolehnya dari beberapa sumber makanan.

Dr. Ng berkata bahwa hasil penelitian ini sangat penting karena vitamin D tersedia secara luas, aman, dan murah. Akan tetapi, para penulis studi juga mencatat bahwa orang tidak boleh mengonsumsinya dalam dosis tinggi di luar konteks penelitian klinis.

"Sejauh yang kami ketahui, studi ini adalah uji klinis acak lengkap pertama yang meneliti suplemen vitamin D untuk pengobatan kanker usus besar stadium lanjut atau metastatik," kata Dr. Ng.

Namun, para peneliti belum bisa memastikan apakah vitamin D memang benar-benar bisa menghambat kanker usus besar atau tidak. Karena penelitian ini hanya melibatkan 139 orang, para ilmuwan tertarik untuk memperluas penyelidikan mereka. Para penulis studi mengatakan bahwa temuan mereka memerlukan evaluasi lebih lanjut dalam uji klinis acak dengan peserta yang lebih besar.

[RS/ RVS]

Lanjutkan Membaca ↓