Mengapa Imunisasi Difteri Perlu Dilakukan?

Oleh dr. Resthie Rachmanta Putri. M.Epid pada 25 Apr 2019, 09:00 WIB
Anak sangat dianjurkan untuk mendapatkan imunisasi difteri. Ini dia alasan medis yang mendasari pentingnya hal tersebut.
Mengapa Imunisasi Difteri Perlu Dilakukan? (Goodluz/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Banyak negara di dunia, seperti sebagian besar negara di Eropa serta Amerika, telah bebas dari penyakit mematikan bernama difteri. Di Indonesia, difteri juga berhasil dimusnahkan sejak tahun 1990, karena sebagian besar anak mendapatkan imunisasi difteri secara lengkap.

Sayangnya, wabah difteri tiba-tiba muncul kembali di berbagai provinsi di Indonesia sejak tahun 2017. Lebih dari 900 anak terjangkit penyakit berbahaya ini, dan sebagian di antaranya tak dapat diselamatkan. Salah satu penyebab utama dari kembalinya penyakit difteri ke Indonesia adalah karena banyak anak yang tidak menerima imunisasi difteri secara lengkap.

Hal tersebut memang ironis. Pasalnya, imunisasi difteri disediakan secara gratis oleh pemerintah. Orang tua tak perlu mengeluarkan uang sama sekali untuk membawa anak ke dokter guna mendapatkan imunisasi tersebut. Selain itu, imunisasi difteri juga tersedia di mana-mana. Tak hanya di rumah sakit, melainkan juga di klinik, di setiap puskesmas, bahkan posyandu.

Mengenal bahaya difteri

Penyakit difteri merupakan jenis infeksi menular yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphteriae. Diawali dengan demam yang tidak terlalu tinggi dan nyeri saat menelan, bakteri penyebab difteri membentuk lapisan yang menutupi jalan napas sehingga menyebabkan penderitanya kesulitan bernapas.

Lebih lanjut, bakteri penyebab difteri juga mengeluarkan racun (toksin) yang dapat menyerang berbagai organ tubuh. Sebagai akibatnya, terjadilah peradangan pada otot jantung (miokarditis), kelumpuhan saraf, gangguan otak, radang sendi, infeksi di tulang, gagal ginjal, dan kegagalan sirkulasi peredaran darah.

Difteri adalah penyakit yang sangat mematikan. Kematian akibat dapat difteri bisa terjadi akibat sumbatan pada saluran napas yang menyebabkan oksigen tidak bisa masuk ke dalam tubuh. Selain itu, peradangan otot jantung akibat racun difteri juga bisa menyebabkan kematian mendadak.

Tak hanya bagi penderita, orang lain yang ada disekitarnya juga bisa terkena dampak buruk difteri. Hal ini lantaran difteri adalah penyakit yang sangat mudah dan cepat menular. Anak-anak dan kaum lanjut usia merupakan kelompok yang paling rentan tertular difteri dan komplikasinya yang mematikan.

Pentingnya imunisasi difteri

Karena bisa memberikan gejala dan dampak yang sangat berbahaya, imunisasi difteri perlu diberikan kepada semua anak. Adapun alasan medis mengapa orang tua harus membawa anaknya untuk mendapatkan imunisasi difteri, yaitu:

  • Imunisasi difteri melindungi seseorang dari penyakit difteri

Imunisasi difteri yang diberikan bersama dengan imunisasi tetanus dan pertusis (imunisasi DPT) memiliki tingkat proteksi yang tinggi untuk melindungi seseorang dari penyakit difteri. Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menyebutkan bahwa tingkat proteksi vaksin difteri mencapai 97%.

  • Efek samping imunisasi difteri tidak berbahaya

Sebagian orang tua takut untuk memberikan imunisasi DPT pada anak lantaran khawatir akan efek sampingnya. Ya, vaksin DPT memang sering menyebabkan efek samping berupa demam. Namun kondisi tersebut hanya berlangsung selama 1 atau 2 hari, dan akan membaik dengan obat penurun panas. Bukankah terjangkit difteri jauh lebih berbahaya dibanding mengalami efek samping imunisasi?

  • Imunisasi difteri halal, tidak mengandung enzim babi

Dilansir dari website Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), pada dasarnya hasil akhir produk vaksin tidak mengandung bahan dari babi. Pada beberapa jenis vaksin, enzim tripsin babi diperlukan dalam proses kimiawi dalam membuat vaksin. Namun selanjutnya, dilakukan proses pemurnian dan penyaringan dengan pengenceran milyaran kali hingga terbentuk produk imunisasi. Disebutkan oleh IDAI bahwa vaksin sudah dicuci dengan bahan kimiawi sehingga hukumnya menjadi halal.

Jadi, agar terlindung dari bahayanya difteri, pastikan bahwa anak Anda menerima imunisasi difteri secara lengkap. Jenis vaksin tersebut diberikan pada usia 2, 3, dan 4 bulan, lalu diulang kembali pada usia 18 bulan, 5 tahun, 10 tahun, dan 18 tahun. Yuk, lebih peduli dengan masa depan si Kecil dengan memberikannya imunisasi secara lengkap!

(NB/ RVS)