Mitos tentang Asma yang Tak Perlu Dipercaya

Oleh dr. Nadia Octavia pada 02 May 2019, 11:00 WIB
Banyak mitos keliru seputar asma yang beredar di masyarakat. Jangan salah tanggap, cari tahu fakta yang sebenarnya!
Mitos tentang Asma yang Tak Perlu Dipercaya (Pixel Shot/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Asma merupakan penyakit saluran pernapasan yang membuat penderitanya sulit menjalani kehidupan. Karena tidak dapat disembuhkan sepenuhnya, penyakit ini menuntut penderitanya untuk mematuhi beberapa pantangan agar keluhan tak terjadi berulang.

Karena asma membuat penderitanya terbelenggu, banyak anggapan keliru yang beredar seputar penyakit ini. Supaya Anda tidak salah pengertian, ini dia mitos seputar asma beserta fakta medis yang ada di baliknya:

  • Mitos 1: Penderita asma tidak boleh olahraga

Jika Anda pernah mendengar bahwa penderita asma tidak boleh berolahraga, sebaiknya jangan lagi percaya dengan informasi tersebut. Pasalnya, melakukan olahraga secara rutin dan teratur justru bisa membawa banyak manfaat bagi penderita asma.

Fakta menyebut, berolahraga teratur akan membuat kapasitas paru penderita asma menjadi lebih baik. Jurnal Clinical & Experimental Allergy yang dipublikasikan pada tahun 2013, berolahraga secara rutin juga disebut dapat membantu penderita asma terhindar dari obesitas atau kelebihan berat badan. Perlu Anda tahu, penderita asma yang obesitas atau mengalami kelebihan berat badan cenderung mengalami gejala yang lebih buruk dan pengobatan yang tidak efektif.

Namun, bagi penderita asma yang ingin berolahraga, Anda wajib memastikan bahwa kondisi tubuh memungkinkan dan penyakit benar-benar terkontrol oleh konsumsi obat. Selain itu, pilihlah juga olahraga yang sesuai dengan kemampuan. Salah satu jenis olahraga yang dianjurkan adalah berenang. Saat berenang, Anda bernapas di udara yang memiliki kelembapan tinggi dan hangat. Selain itu, berada pada posisi horizontal dapat "melonggarkan" lendir yang mengumpul di dasar paru-paru Anda.

  • Mitos 2: Asma akan sembuh dengan sendirinya

Gejala asma dapat berubah seiring dengan waktu, bisa menjadi lebih sering atau bahkan malah menghilang. Hal ini bergantung pada konsumsi obat-obatan yang diberikan dokter dan perubahan gaya hidup yang dilakukan. Karena pada dasarnya, asma merupakan penyakit yang tidak dapat disembuhkan sepenuhnya. Penyakit ini hanya dapat dikontrol dengan penanganan yang tepat.

Asma sangat terkait dengan alergi, dan alergi dapat memperparah asma. Selain dengan obat-obatan, sangat penting untuk mengetahui penyebab kekambuhan asma. Misalnya, paparan debu, bulu binatang, polusi, asap rokok, udara dingin, stress, aktivitas fisik, dan lainnya.

  • Mitos 3: Seseorang tidak akan meninggal karena asma

Setiap serangan asma memiliki potensi mengancam nyawa. Ini karena asma dapat menyebabkan kesulitan bernapas, bahkan henti napas. Keadaan demikian umumnya terjadi pada penderita asma yang tidak mengendalikan penyakitnya dengan saksama.

Dilansir dari American Lung Association, hanya sepertiga kematian akibat asma yang terjadi di rumah sakit. Ini berarti, banyak penderita asma yang meninggal dunia tidak sempat mendapatkan penanganan medis di rumah sakit. Kematian akibat asma biasanya terjadi pada serangan yang bertambah parah dalam waktu beberapa hari hingga minggu.

  • Mitos 4: Efektivitas obat asma akan menurun seiring waktu

Pengobatan asma secara cepat atau jangka pendek adalah dengan obat pelega saluran pernapasan, seperti inhaler (dihirup) dan nebulizer (penguapan). Tujuan dari obat-obatan ini adalah menghentikan serangan asma. Sedangkan pengobatan asma jangka panjang adalah dengan steroid, yang berfungsi untuk tetap membuat saluran pernapasan terbuka dan mengurangi pembengkakan sehingga risiko terjadinya serangan asma bisa diminimalkan.

Resistansi mungkin saja terjadi. Namun, selama penderita asma mematuhi segala anjuran dan saran yang diberikan dokter terkait obat-obatan, hal tersebut dapat dihindari. Intinya, untuk menghindari penurunan efektivitas obat asma, hindari sembarang mengganti jenis obat dan dosis tanpa adanya saran dari dokter.

Sejatinya, informasi keliru yang beredar di tengah masyarakat tak hanya terbatas seputar penyakit asma saja. Oleh sebab itu, bersikaplah lebih bijak dalam menghadapi segala informasi yang Anda dapat. Jangan langsung percaya sampai Anda menanyakan langsung pada ahlinya. Anda tak ingin terjebak gara-gara berita hoaks, bukan?

(NB/ RVS)