Otak Menguatkan Pendengaran Usai Anda Kehilangan Penglihatan

Oleh Ayu Maharani pada 02 May 2019, 17:00 WIB
Pada mereka yang kehilangan penglihatan, otak akan menguatkan fungsi pendengaran. Bagaimana prosesnya?
Otak Menguatkan Pendengaran Usai Anda Kehilangan Penglihatan (Andrey_Popov/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Mungkin Anda pernah membaca atau melihat tayangan tertentu, bahwa ketika seseorang kehilangan penglihatannya – atau pada seorang tuna netra – otak akan menguatkan fungsi indra lainnya seperti pendengaran. Penasaran dengan prosesnya? Simak ulasannya di sini.

Biasanya, seseorang yang kehilangan penglihatannya lebih peka pada beberapa pancaindra lainnya. Misalnya tukang pijat tuna netra cenderung lebih “laku” karena pijatannya dianggap lebih “tepat sasaran” atau mereka yang kehilangan penglihatan indra pendengarannya menjadi lebih sensitif. Nah, ternyata, organ tubuh yang berjasa dalam penguatan fungsi indra lainnya itu adalah otak.

Otak berkontribusi

Dilansir dari Medical News Today, studi ilmiah dan bukti anekdotal telah melaporkan bahwa orang yang mengalami kehilangan penglihatan biasanya akan mengembangkan kemampuan pendengaran yang lebih baik, yang mana otak membantu proses ini.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan ada 1,3 miliar orang di seluruh dunia memiliki gangguan penglihatan. Mulai dari yang ringan hingga yang sudah mengalami kebutaan. Bahkan, di Amerika Serikat (AS) sendiri, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) mencatat ada lebih dari 3,4 juta orang berusia 40 tahun ke atas yang hidup dengan kebutaan atau gangguan penglihatan.

Sementara itu, informasi anekdotal menunjukkan bahwa orang yang kehilangan penglihatannya memiliki indra peraba dan indra pendengaran yang lebih kuat daripada orang-orang dengan penglihatan normal.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh tim Universitas Washington, AS, dan Universitas Oxford, Inggris, ditemukan adanya perubahan pada otak orang-orang yang kehilangan penglihatan, sehingga menjadikan mereka lebih peka dalam memproses suara.

Ketika orang memiliki gangguan penglihatan, korteks oksipital yang bertugas untuk menguraikan input visual dari mata beradaptasi untuk memproses informasi dari bagian lain di dalam tubuh. Menurut penulis studi, Kelly Chang dan rekan, ternyata bukan cuma korteks oksipital saja yang beradaptasi, tetapi juga korteks pendengaran. Korteks pendengaran beradaptasi untuk memproses suara secara berbeda dan berkolaborasi terhadap kondisi hilangnya penglihatan. Kelly dan timnya mempelajari perubahan ini pada orang dengan kebutaan dini, termasuk anoftalmus (keadaan tidak bermata sejak lahir, sebelah atau keduanya), dan membandingkannya dengan kelompok individu yang masih punya daya penglihatan normal.

Kemudian, mereka melakukan pemindaian MRI fungsional terhadap otak partisipan saat mereka tengah memproses nada-nada murni (nada yang terdengar sama pada frekuensi yang berbeda), untuk melihat apa yang terjadi di korteks pendengaran. Perlu diketahui dulu bahwa ukuran korteks pendengaran antara orang yang buta dan orang yang penglihatannya normal itu sama.

Hasilnya, korteks pendengaran di otak orang yang memiliki gangguan penglihatan lebih mampu menangkap frekuensi tertentu yang disetel lebih pelan atau halus. Temuan ini akhirnya menambah pemahaman tentang bagaimana orang-orang dengan kebutaan dini beradaptasi dengan kondisi tersebut dan memiliki indra penglihatan yang lebih baik ketimbang orang lain yang fungsi penglihatannya masih normal. Untuk ke depannya, Kelly dan tim akan mempelajari bagian otak pada orang-orang telah mampu memulihkan penglihatan mereka. Menarik, ya?

1 of 2

Tips menjaga kesehatan mata

Karena fungsi mata sangat penting bagi berlangsungnya hidup, Anda yang tidak kehilangan penglihatan disarankan untuk senantiasa menjaga kesehatan mata. Dipaparkan oleh dr. Nadia Octavia dari KlikDokter, lakukan resep mata sehat di bawah ini.

1. Jaga pola makan

“Pastikan piring makan Anda terisi dengan makanan yang mengandung omega-3, lutein, vitamin C, dan vitamin E agar Anda terhindar dari berbagai penyakit mata seperti degenerasi makular (gangguan pada retina mata karena usia) dan katarak,” sebut dr. Nadia. Zat-zat tersebut bisa didapat dari sayuran hijau ikan salmon dan tuna), telur, kacang–kacangan, serta buah–buahan seperti lemon, jeruk atau stroberi.

2. Tidak merokok

Merokok dapat meningkatkan risiko Anda terkena berbagai penyakit mata seperti katarak, kerusakan saraf mata, dan degenerasi makular.

3. Hindari paparan sinar matahari berlebih

Dokter Nadia mengatakan, paparan sinar UV berlebihan dan sinar matahari dalam jangka waktu yang lama dapat menyebabkan kerusakan pada mata, meningkatkan risiko katarak dan degenerasi makular. Karenanya, jika beraktivitas di cuaca yang panas dan terik, lindungi mata dengan kacamata hitam yang punya proteksi terhadap sinar UV.

4. Tidak terlalu lama menatap layar perangkat elektronik

Melihat komputer atau layar ponsel Anda terus-menerus dapat menyebabkan mata lelah, pandangan kabur, penglihatan sulit fokus, mata kering, nyeri kepala dan nyeri tengkuk serta bahu.

Anjuran dari dr. Nadia, “Seperti yang dianjurkan oleh American Academy of Dermatology, lakukan aturan 20/20/20, yakni setiap 20 menit alihkan pandangan Anda sejauh 20 feet (sekitar sejauh 6 meter) selama paling tidak 20 detik.”

5. Rutin periksa mata

Agar kesehatan mata tetap terjaga, lakukan pemeriksaan mata rutin tiap 6 bulan sekali. Tidak semua penyakit mata memiliki keluhan, seperti misalnya glaukoma yang sering kali tidak menimbulkan gejala. Dengan pemeriksaan mata rutin, penyakit mata dapat terdeteksi sejak dini.

Kesimpulannya, otak akan menguatkan indra pendengaran ketika seseorang kehilangan fungsi penglihatannya. Karena begitu krusialnya fungsi penglihatan bagi kehidupan seseorang, jaga kesehatan organ penglihatan Anda. Dengan melakukan tips di atas, diharapkan kesehatan mata terjaga, sehingga Anda dapat terhindar dari berbagai penyakit yang dapat menurunkan kemampuan daya lihat.

(RN/ RVS)

Lanjutkan Membaca ↓