Mengenal Lebih Lanjut Cara Mencegah Alergi Makanan pada Anak

Oleh dr. Nitish Basant Adnani BMedSc MSc pada 03 May 2019, 12:00 WIB
Sebuah penelitian mengulas mengenai cara mencegah terjadinya alergi makanan pada anak. Yuk, simak lebih lanjut penjelasannya.
Mengenal Lebih Lanjut Cara Mencegah Alergi Makanan pada Anak (Image Point Fr/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Memberikan makanan baru untuk dicoba oleh anak dapat menjadi suatu aktivitas yang menyenangkan bagi orang tua. Namun, juga dibutuhkan perhatian khusus untuk memastikan makanan tersebut aman dikonsumsi. Bisa jadi anak mengalami alergi makanan setelah mengonsumsinya.

Gejala alergi pada anak beserta bahayanya

Reaksi alergi terhadap makanan pada anak dapat ditandai dengan berbagai keluhan, di antaranya ruam kemerahan pada kulit, muntah, diare, dan sebagainya.

Salah satu tanda dan gejala yang berat pada alergi adalah reaksi anafilaksis, yakni reaksi alergi yang menyebabkan kesulitan bernapas hingga dapat mengancam jiwa.

Akan tetapi, Dr. David Stukus, pakar di bidang alergi anak dan profesor di bidang ilmu kesehatan anak dari Division of Allergy and Immunology, Nationwide Children’s Hospital, menyampaikan bahwa reaksi anafilaksis pada anak yang lebih kecil bisa berbeda.

Umumnya, keluhan yang muncul adalah muntah dan ruam kemerahan pada kulit, tanpa kesulitan bernapas dan penyempitan jalan napas yang dapat tampak pada anak yang lebih besar.

Kaitan menunda pengenalan makanan dengan alergi pada anak

Beberapa waktu yang lalu, American Academy of Pediatrics mempublikasikan panduan barunya mengenai jenis makanan yang aman diperkenalkan kepada anak, serta kapan dan bagaimana melakukannya.

Pada panduan tersebut, dikatakan bahwa pengenalan kacang-kacangan pada usia dini dapat membantu mencegah terjadinya alergi kacang pada anak yang berisiko tinggi, misalnya anak dengan riwayat alergi pada keluarganya.

Disampaikan oleh Dr. Scott Sicherer, salah satu penulis dari panduan tersebut, hingga kini memang belum terdapat bukti yang cukup bahwa penundaan pemberian makanan berpotensi untuk menjadi alergen kepada bayi, terutama untuk makanan yang terbuat dari kacang, telur, atau ikan.

Namun, beliau memaparkan bahwa jenis makanan tersebut sebaiknya ditambahkan ke pola makan si Kecil sedari dini, sama dengan makanan yang pada umumnya bukan merupakan alergen, seperti nasi, buah, dan sayur.

Menurutnya, cara ini tetap diyakininya sebagai kiat untuk mengurangi risiko alergi pada anak. Itu sebabnya, Sicherer dan rekan-rekannya merekomendasikan dilakukannya pengenalan dini untuk bahan-bahan makanan yang berpotensi mencetuskan reaksi alergi pada setiap anak, terlepas dari risikonya untuk mengalami kondisi alergi makanan.

Pengenalan dini tersebut dapat dimulai sejak masa ASI ekskusif berakhir, yakni usia 6 bulan, dengan memperkenalkan berbagai jenis makanan secara bertahap.

Sebab, pemberian air susu ibu (ASI) eksklusif memberikan efek protektif terhadap terjadinya eksim, keluhan mengi atau bersin-bersin dalam dua tahun pertama kehidupan, serta terjadinya asma dalam lima tahun pertama kehidupan. Kondisi ini kerap muncul pada anak yang memiliki alergi.

Sebagai catatan, pengenalan tersebut juga harus disertai dengan pemantauan dari orang tua terhadap respons anak setelah mengonsumsi bahan makanan tertentu.

Bila anak tidak menunjukkan reaksi alergi terhadap makanan yang diberikan, para pakar juga merekomendasikan untuk tetap memberikan jenis makanan tersebut selama beberapa kali sambil bergantian memperkenalkan jenis makanan lain.

Hal ini juga dilakukan dengan tetap memperhatikan apabila timbul suatu keluhan, seperti ruam kulit, muntah, dan sebagainya. Bila terdapat tanda atau gejala anak mengalami alergi makanan, segeralah berkonsultasi dengan dokter untuk menentukan penyebab dan penanganan yang paling tepat bagi buah hati Anda.

[NP/ RVS]