Awas, 8 Pekerjaan Ini Rentan Tingkatkan Risiko Kanker!

Oleh Krisna Octavianus Dwiputra pada 03 May 2019, 16:20 WIB
Setiap pekerjaan menghadirkan risiko sendiri. Bahkan, ada beberapa pekerjaan yang bisa picu risiko kanker.
Awas, 8 Pekerjaan Ini Rentan Tingkatkan Risiko Kanker! (parilovv/123rf)

Klikdokter.com, Jakarta Kanker bisa menyerang siapa saja, tanpa pandang bulu. Hal ini termasuk menyerang beberapa profesi atau pekerjaan tertentu. Sebab, beberapa pekerjaan bisa membuat para pekerjanya rentan terhadap ancaman risiko kanker jika tidak diimbangi dengan pola makan dan hidup sehat.

Sebagai contoh, menurut dr. Sara Elise Wijono MRes dari KlikDokter, orang yang bekerja di penyulingan minyak, pembuatan karet, dan obat lebih berisiko terkena kanker otak. Itulah mengapa Anda perlu mengetahui profesi apa saja yang rentan menyebabkan kanker.

Deretan pekerjaan yang berisiko menyebabkan kanker

Hati-hati, keasyikan bekerja juga bisa membuat Anda sakit, termasuk memunculkan risiko kanker. Dilansir Reader’s Digest, beberapa pekerjaan di bawah ini adalah jenis-jenis pekerjaan yang  berisiko membuat Anda terkena kanker.

1. Pramugari dan pilot

Menurut sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Environmental Health, awak kabin terpapar lebih banyak radiasi pengion pada ketinggian, sehingga meningkatkan kemungkinan berkembangnya kanker payudara, serviks, uterus, tiroid, kerongkongan, usus besar, lambung, hati, dan pankreas.

Statistik menyebutkan bahwa tingkat kanker payudara pada pramugari wanita adalah 50 persen lebih tinggi, sementara tingkat kanker kulit non-melanoma 4 kali lebih tinggi, dibandingkan dengan wanita yang bekerja di bidang lainnya.

Sama seperti pramugari, pilot juga rentan kanker. Ternyata, kokpit menjadi tempat yang berbahaya. JAMA Dermatology melaporkan bahwa pilot memiliki 2 kali lipat kemungkinan terkena melanoma dibanding orang biasa.

Menghabiskan 1 jam di kokpit membuat pilot terkena radiasi UVA seperti menghabiskan 20 menit di bawah sinar matahari atau saat menggunakan kursi khusus untuk tanning kulit. Belum lagi, bahaya radiasi UV dapat meningkat ketika terbang di atas awan lebat atau salju. Demi menghadapi kondisi tersebut, para peneliti merekomendasikan penggunaan tabir surya serta pemeriksaan kanker kulit secara rutin.

2. Pekerja shift malam

Radiasi dan bahan kimia beracun bukan satu-satunya hal yang dapat menyebabkan kanker. Percaya atau tidak, mengganggu ritme sirkadian alami Anda dengan bekerja di bawah cahaya terang sepanjang malam juga dapat meningkatkan risiko kanker.

Sebuah penelitian dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) melaporkan bahwa sel membutuhkan isyarat cahaya, seperti tombol reset untuk jam. Ketika kehilangan isyarat tersebut, artinya Anda kehilangan ritme normal di setiap sel dalam tubuh. Akibatnya, protein pemicu kanker yang disebut c-Myc terakumulasi dalam sel, memacu pertumbuhan dan perkembangan tumor.

1 of 3

Selanjutnya

3. Pemadam kebakaran

“Pantang pulang sebelum padam” adalah jargon khas dari pemadam kebakaran. Faktanya, kanker adalah penyebab utama kematian di kalangan petugas pemadam kebakaran.

Sebab, plastik, bahan bangunan tertentu, dan bahan sehari-hari lainnya yang terbakar akan melepaskan racun. Petugas pemadam kebakaran yang menghirup atau menyerap racun saat memadamkan api berisiko tinggi mengalami kanker.

Menurut sebuah penelitian yang dilakukan oleh National Institute for Occupational Safety and Health, petugas pemadam kebakaran memiliki risiko lebih besar terkena kanker daripada rata-rata orang lain. Akan tetapi, risiko mereka untuk kanker tertentu bisa naik 2 kali lipat, yakni kanker testis dan mesothelioma, yang disebabkan oleh paparan asbes.

4. Tukang las

Tukang las biasanya harus melakukan pemanasan logam hingga suhu yang sangat tinggi. Padahal, menurut International Agency for Research on Cancer, paparan asap pengelasan, serta paparan radiasi dan asbes adalah penyebab kanker.

Racun ini berpotensi menyebabkan kanker paru-paru, kanker ginjal, dan melanoma mata, serta masalah kesehatan lainnya.

5. Pekerja tambang

Penambangan adalah bisnis yang berbahaya. Dengan berbagai risiko yang mengintai di bawah tanah, ternyata pekerja tambang juga berisiko terkena kanker. Hal ini karena debu penambangan batu bara dapat meningkatkan risiko pekerja terhadap kanker paru-paru dan lambung.

Sementara itu, penambang lain yang bersentuhan dengan asbes, uranium, dan radon juga berisiko terkena kanker. Masalah besar lainnya adalah pembuangan diesel dari peralatan pengeboran yang dapat menumpuk di poros.

2 of 3

Selanjutnya

6. Pekerja di pabrik karet, plastik dan alumunium

Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), bekerja di pabrik yang memproduksi ban, sarung tangan karet, dan karet gelang tampaknya berisiko tinggi terkena kanker kandung kemih, perut, darah, limfatik, dan jenis kanker lainnya. Hal ini dikarenakan paparan dari zat karsinogen seperti benzene, asbes dan formaldehida.

Sementara, pekerja di pabrik plastik juga berisiko lebih tinggi untuk berbagai jenis kanker, termasuk kanker hati, ginjal, darah, paru-paru, dan laring. Kondisi ini bisa terjadi akibat paparan kadmium, vinil klorida, trikloretilen, arsenik, dan banyak karsinogen lainnya.

Selain itu, wanita yang bekerja di pabrik plastik mungkin 5 kali lebih berisiko mengalami kanker payudara karena paparan karsinogen yang dapat mengganggu hormon. Kanker juga rentan menyerang orang yang bekerja di pabrik aluminium dan secara rutin terpapar hidrokarbon aromatik polisiklik, senyawa kromium, senyawa nikel, logam berat, medan magnet statis tinggi, serta asbes.

7. Pekerja laboratorium

Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Cancer Research menemukan bahwa wanita dengan riwayat kanker payudara pada keluarganya dua kali lipat berisiko terkena kanker ketika bekerja di laboratorium.

Sementara itu, risiko kanker bisa melonjak sampai 40 persen jika para wanita bekerja dengan pelarut organik seperti benzene, sebelum melahirkan bayi pertama mereka.

8. Penata rambut

Kandungan amina aromatik pada beberapa pewarna rambut dapat meningkatkan risiko kanker kandung kemih pada orang yang bekerja sebagai penata rambut. Bahan kimia yang seharusnya dihilangkan dari pewarna rambut setelah tahun 1970-an ini baru-baru ini ditemukan oleh sebuah penelitian, terdapat dalam aliran darah para penata rambut.

Untuk meminimalkan risiko kanker, penata rambut harus mengenakan sarung tangan setiap kali menggunakan produk kimia dan bekerja di area yang berventilasi baik.

Benar kata orang tua zaman dahulu, "tidak ada pekerjaan yang tidak berisiko". Beberapa pekerjaan di atas ternyata meningkatkan risiko kanker. Jika Anda menekuni salah satu profesi di atas, tidak ada salahnya memeriksakan kesehatan rutin untuk melakukan deteksi dini akan penyakit kanker.

[NP/ RVS]

Lanjutkan Membaca ↓