Awas, Kebiasaan Phubbing Bisa Merusak Hubungan Sosial Anda!

Oleh Hotnida Novita Sary pada 03 May 2019, 17:30 WIB
Efek buruk phubbing tak hanya berdampak bagi pelaku, tapi juga orang-orang di sekitar Anda sehingga merusak hubungan sosial Anda.
Awas, Kebiasaan Phubbing Bisa Merusak Hubungan Sosial Anda! (ronnarong-thanuthattaphong/123rf)

Klikdokter.com, Jakarta Saat ini, bukan hal aneh saat Anda membawa telepon pintar ke mana pun pergi, termasuk saat mengobrol dengan teman dan keluarga di meja makan. Tak jarang Anda melihat pemandangan saat semua orang justru asyik dengan telepon genggam masing-masing ketimbang mengobrol bersama atau menjalin hubungan sosial. Kondisi demikian sering disebut dengan phone snubbing atau disingkat phubbing.

Fenomena ini mungkin tampak biasa dan relatif tidak berbahaya, tetapi tetap saja menjengkelkan. Namun, sebuah penelitian menemukan bahwa phubbing sangat mungkin merusak hubungan sosial Anda.

"Yang ironis adalah, phubbing memang menghubungkan Anda dengan orang lain di dunia maya, tapi sangat mengganggu hubungan Anda dengan orang-orang nyata di hadapan Anda, " kata Emma Seppälä, psikolog di Universitas Stanford dan Universitas Yale.

Phubbing merusak relasi sosial

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa phubbing membuat interaksi tatap muka menjadi berkurang maknanya. Sebuah makalah yang baru saja diterbitkan dalam Journal of Applied Social Psychology menjelaskan, orang-orang yang membayangkan sedang diacuhkan ketika melihat simulasi percakapan merasa lebih negatif tentang interaksi tersebut.

Penelitian lain yang diterbitkan dalam Computers in Human Behavior pada 2016, menemukan bahwa membaca pesan teks selama percakapan berlangsung membuat orang lain merasa kurang puas, dibandingkan berinteraksi langsung. Dan, studi tahun 2012 juga menemukan bahwa keberadaan ponsel selama percakapan – digunakan atau tidak – cukup membuat orang merasa kurang terhubung satu sama lain.

Hal senada juga dijelaskan dr. Sara Elise Wijono dari KlikDokter. Menurutnya, efek buruk phubbing tak hanya berdampak bagi pelaku, tapi juga orang-orang di sekitarnya.

“Kebanyakan korban dari phubbing malah akan bereaksi dengan menggunakan handphone miliknya sendiri. Rasa ‘terluka’ akibat diacuhkan akan mendorong korban phubbing untuk menggunakan handphone miliknya, untuk mengakses sosial media agar mereka merasa lebih ikut serta dalam interaksi walaupun di dunia maya,” dr. Sara menjelaskan.

Menurut dr. Sara, efek tersebut sangat mengkhawatirkan, terutama apabila pelaku phubbing adalah anak-anak dan remaja. “Alasannya, otak dan kemampuan sosial anak dan remaja masih dalam tahap perkembangan.”

1 of 2

Efek phubbing pada kesehatan mental

Efek dari phubbing mungkin lebih buruk pada orang-orang yang mendapati dirinya jadi “korban” phubbing. Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Applied Social Psychology menemukan bahwa orang yang melihat simulasi snubbing merasa lebih negatif, ketika diminta untuk membayangkan menjadi orang yang diacuhkan.

Mengapa perasaan negatif itu muncul? Dikutip dari Healthline, phubbing ternyata adalah ancaman bagi empat kebutuhan mendasar manusia. Kebutuhan dasar itu adalah kepemilikan, harga diri, keberadaan yang bermakna, dan kontrol.

Ketika seseorang mengacuhkan, Anda sangat mungkin dapat merasa ditolak, dikucilkan, dan tidak penting. Perasaan-perasaan ini – apalagi bila terjadi berulang-ulang – tentu dapat berdampak signifikan pada kesehatan mental Anda.

Selanjutnya, menenggelamkan diri ke dalam media sosial sebenarnya bisa membuat masalah menjadi lebih buruk. Menurut penelitian yang dipublikasikan di Computers and Human Behavior, media sosial mungkin memiliki dampak negatif pada kesehatan mental Anda.

Studi ini menemukan bahwa media sosial dapat membuat perasaan depresi semakin buruk. Semakin Anda menggunakan media sosial, semakin besar kemungkinan Anda merasakan depresi atau kecemasan.

Hentikan phubbing!

Untuk mencegah merenggangnya hubungan sosial dan terjadinya gangguan mental akibat perilaku phubbing, berhentilah terlalu sering mengecek email atau media sosial. Beberapa cara di bawah ini dapat membantu Anda.

1. Jadikan waktu makan sebagai zona bebas telepon

Saat waktunya makan – di mana pun Anda berada – jangan pernah sentuh telepon. Jika bunyi-bunyian notifikasi sangat mengganggu Anda, alihkan ponsel ke mode "jangan ganggu".

Selanjutnya, terlibatlah dengan orang-orang di depan Anda dan mengobrollah seperti biasa. Awalnya mungkin terasa dipaksakan, tetapi segera Anda akan merasa lebih nyaman dengan melakukan percakapan tatap muka.

2. Tinggalkan telepon Anda

Anda mungkin merasa seperti kehilangan anggota tubuh saat tidak bersama telepon pintar Anda. Tetapi jangan takut untuk meninggalkan ponsel Anda di mobil, laci meja, atau tas. Apa pun peringatan atau pembaruan yang terjadi, mereka akan menunggu Anda nanti.

3. Tantang diri Anda

Mengabaikan telepon bisa menjadi sebuah tantangan bagi Anda. Beri target pada diri sendiri untuk hidup tanpa telepon. Ketika Anda telah menyelesaikan target, manjakan diri Anda bersama ponsel. Selanjutnya, tantang diri Anda lagi.

Berhenti phubbing saat bersama orang lain adalah hal baik untuk membangun hubungan sosial Anda dengan orang-orang di sekitar Anda. Tak hanya itu, berhenti phubbing juga akan membantu menjaga kesehatan mental lawan bicara Anda karena tidak akan merasa diabaikan. Jadi hentikan kebiasaan phubbing, dan ciptakanlah obrolan yang hangat dan cair dengan orang-orang di sekitar Anda.

[RVS]

Lanjutkan Membaca ↓