Red Wine Bisa Bantu Turunkan Berat Badan?

Oleh Ruri Nurulia pada 04 May 2019, 10:45 WIB
Menurut sebuah penelitian, red wine bisa membantu turunkan berat badan, lho! Bagaimana cara kerjanya?
Red Wine Bisa Bantu Turunkan Berat Badan? (Rostislav_Sedlacek/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Red wine memang diketahui memiliki beberapa manfaat terhadap kesehatan tubuh jika dikonsumsi sesuai anjuran. Nah, menurut penelitian, salah satunya bisa untuk turunkan berat badan.

Menurut sebuah penelitian pada 20.000 wanita yang diterbitkan di jurnal “Arch Intern Med.” tahun 2010, wanita sehat yang minum satu gelas red wine secara rutin 70 persen lebih kecil kemungkinannya untuk mengalami kenaikan berat badan selama lebih dari 13 tahun, dibandingkan dengan wanita yang tidak mengonsumsi red wine sama sekali.

Dalam “keluarga” wine, red wine diketahui memiliki dampak paling baik untuk kesehatan. Ini karena red wine kaya akan flavonoid dan resveratrol.

Menurut sebuah penelitian dari Universitas Basque Country, Spanyol, resveratrol merupakan antioksidan yang dapat memobilisasi lemak dan mengurangi akumulasi trigliserida pada tikus maupun manusia. Berbagai studi pada hewan menemukan bahwa resveratrol dapat membantu mengubah lemak putih menjadi lemak beige (kuning keabuan), yang mana lemak beige diketahui paling mudah untuk dibakar. Tak cuma itu, resveratrol juga dapat menekan nafsu makan.

Meski hasil penelitian antara red wine dan penurunan berat badan terdengar menjanjikan, tetapi sebagian besar penelitian objeknya adalah hewan. Selain itu, menurut sebuah studi di Jerman dalam jurnal medis “Advances In Nutrition” tahun 2016, tak mungkin untuk menyerap dosis terapi antioksidan hanya dengan minum red wine.

Red wine membantu turunkan berat badan?

Dikatakan oleh Chris Lockwood, Ph.D., C.S.C.S, konsultan nutrisi asal Amerika kepada Shape, minum jumlah moderat alkohol dapat meningkatkan aliran darah, yang berarti tak hanya lebih banyak nutrisi yang dibawa ke sel, tetapi juga lebih banyak oksigen—komponen yang diperlukan dalam pembakaran lemak.

Katanya lagi, segelas red wine dapat meningkatkan kadar hormon adiponektin dan testosteron, yang keduanya dapat membantu tubuh membakar kalori dan membentuk otot ketika estrogen meningkat. Meningkatnya estrogen ini dapat membuat wanita mempertahankan lemak. Kadar serum globulin juga meningkat, yaitu hormon yang mencegah sel T “berulah” pada reseptor. Bersama-sama, semua formula tersebut menciptakan lingkungan anabolik, melepaskan simpanan lemak dan meningkatkan metabolisme.

Dari KlikDokter, dr. Devia Irine Putri juga turut menambahkan mengenai hubungan antara red wine dan penurunan berat badan.

“Sumber energi wine berasal dari karbohidrat, yaitu gula. Sehingga, Anda tidak perlu takut karena wine tidak mengandung lemak, sehingga Anda tak perlu khawatir mengalami kenaikan berat badan bila mengonsumsi minuman yang satu ini dalam porsi secukupnya,” jelasnya.

Bahkan, dr. Devia melanjutkan, beberapa penelitian menyebutkan bahwa orang yang mengonsumsi wine dalam jumlah cukup memiliki berat badan yang lebih rendah dan stabil dibandingkan dengan orang yang mengonsumsi alkohol jenis lain.

1 of 2

Manfaat red wine lainnya

Ditambahkan oleh dr. Devia, selain berdampak pada berat badan, manfaat red wine lainnya jika dikonsumsi secara wajar adalah:

  • Turunkan risiko penyakit jantung

Baik red wine maupun white wine mengandung flavonoid, yaitu antioksidan yang punya efek melindungi jantung dari dampak buruk radikal bebas.

“Flavonoid juga terbukti menghambat penggumpalan sel-sel darah dan merangsang produksi oksidasi nitrit, sehingga pembuluh darah menjadi lebar. Kandungan alkohol juga dipercaya dapat meningkatkan kadar kolesterol baik (HDL) dan menurunkan kolesterol jahat (LDL), sehingga dipercaya dapat mencegah penyumbatan pada pembuluh darah,” jelas dr. Devia.

  • Cegah kanker

Flavonoid juga bermanfaat untuk mencegah pertumbuhan sel kanker di dalam tubuh. “Tak hanya itu, resveratrol sudah terbukti lebih dulu dapat berperan sebagai agen antikanker yang dapat mencegah kanker prostat, kanker paru, dan kanker payudara,” tambah dr. Devia.

  • Menguatkan daya ingat

Resveratrol juga dipercaya dapat meningkatkan tingkat heme oksigen di dalam darah dan melindungi sel saraf di otak dari kerusakan. Di samping itu, kandungan tersebut juga dapat mengurangi amyloid-beta peptides yang menyebabkan Alzheimer (pikun).

Jurnal medis “Journal of Agricultural and Food Chemistry” menyebut, konsumsi  dalam jumlah cukup dapat meningkatkan aliran darah ke otak sebesar 30 persen. Hal ini membuat sel saraf di otak tetap terjaga kesehatannya.

  • Awet muda

Flavonoid dan resveratrol juga dapat memperpanjang kehidupan sel, serta mengurangi risiko kerusakan akibat paparan ultraviolet maupun radikal bebas lainnya. Selain itu, kedua zat tersebut juga terbukti mampu menjaga kesehatan pembuluh darah.

Tak boleh berlebihan!

Diungkapkan dr. Melyarna Putri, MPH, M.Gizi, dari KlikDokter, walaupun menurut beberapa penelitian minum red wine  baik untuk kesehatan, tetapi jumlah konsumsinya harus diperhatikan.

“Jumlah konsumsi yang dianjurkan yaitu sekitar 148 ml/hari,” ungkap dr. Melyarna.

American Heart Association dan National Heart, Lung, and Blood Institute juga menyatakan, konsumsi alkohol dalam bentuk red wine yang melebihi anjuran dapat meningkatkan risiko terjadinya penyakit lain.

“Seperti penyakit hati dan pankreas, gagal jantung, tekanan darah tinggi, kanker, stroke, obesitas, dan kecanduan alkohol,” kata dr. Melyarna.

Banyak penyakit kronis disebabkan oleh konsumsi alkohol yang berlebihan. Menurut studi yang dipublikasikan oleh American Association for Cancer Research tahun 2016, disebut bahwa alkohol dapat meningkatkan risiko melanoma.

Secara statistik di dunia, sekitar 3,6 persen penderita kanker berhubungan dengan konsumsi alkohol. Bahkan pada tahun 2016, pemerintah Inggris mengeluarkan pernyataan bahwa tidak ada batasan “aman” untuk konsumsi alkohol.

Berdasarkan hasil penelitian, red wine memang membawa dampak baik untuk tubuh, termasuk bisa membantu turunkan berat badan. Namun, tetap saja konsumsinya harus diperhatikan. Jika melebihi anjuran, bukan manfaat yang Anda dapat, tetapi malah petaka.

[RVS]

Lanjutkan Membaca ↓