Fakta di Balik Tren Diet dengan Makanan Kalori Negatif

Oleh dr. Melyarna Putri pada 04 May 2019, 12:00 WIB
Menurunkan berat badan bagi sebagian orang tidaklah mudah. Berbagai tren diet pun dicoba, termasuk diet dengan makanan kalori negatif.
Fakta di Balik Tren Diet dengan Makanan Kalori Negatif (Fischer Fotostudio/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Sulitnya menurunkan berat badan kerap kali membuat frustasi orang yang menjalankan program diet. Bagi Anda yang sangat ingin turun berat badan, biasanya rela mencoba berbagai jenis tren diet yang tengah “naik daun”. Salah satu jenis diet yang sedang ramai dibicarakan adalah diet dengan makanan kalori negatif.

Kalori dan penurunan berat badan

Kunci menurunkan berat badan sebenarnya terletak pada keseimbangan kalori, yakni seberapa kalori yang disimpan dan seberapa banyak kalori yang berhasil dikeluarkan. Kalori yang disimpan tergantung pada makanan yang dikonsumsi, sedangkan kalori yang dikeluarkan berdasarkan aktivitas fisik yang dilakukan.

Kalori merupakan satuan energi yang terkandung di dalam makanan dan kemudian disimpan di dalam tubuh. Asupan kalori berlebih umumnya akan disimpan menjadi lemak di dalam tubuh. Analoginya, semakin banyak asupan kalori yang dikonsumsi, berarti semakin banyak lemak yang disimpan bila tak diimbangi dengan aktivitas fisik.

Bila ingin menurunkan berat badan, maka kalori yang disimpan harus lebih sedikit dibandingkan yang dikeluarkan. Artinya, makanlah lebih sedikit dan perbanyak aktivitas fisik seperti olahraga. Sayangnya, menahan asupan makanan dan berolahraga bukan hal mudah bagi banyak orang.

Seolah ingin menjawab fenomena ini, diet dengan makanan kalori negatif hadir di tengah masyarakat sebagai solusi bagi Anda yang ingin menurunkan berat badan namun tidak memiliki waktu yang cukup untuk rutin berolahraga.

Mengenal diet dengan makanan kalori negatif

Beberapa makanan dikenal dapat menurunkan berat badan karena dianggap memiliki kalori negatif. Tidak seperti makanan lain yang akan menambah kalori, makanan kalori negatif justru akan mengurangi jumlah kalori dalam tubuh bila dikonsumsi.

Jenis makanan yang dikatakan memiliki efek kalori negatif ini adalah sayur dan buah seperti jeruk,seledri, wortel, timun, berry, apel, tomat, brokoli, selada, melon dan semangka. Makanan kalori negatif didapatkan dari buah dan sayur yang mengandung banyak air.

Meski dianggap dapat menurunkan berat badan, apakah tren diet ini aman untuk dilakukan dari sisi medis? Mari ungkap satu per satu faktanya.

  • Fakta 1 : Makanan kalori negatif artinya mengandung kalori negatif

Salah. Tidak ada satupun makanan yang memiliki kalori negatif. Kalori paling rendah dari zat yang dikonsumsi diperkirakan berasal dari air putih yang mengandung 0 kalori.

  • Fakta 2 : Makanan kalori negatif akan menurunkan berat badan

Betul bila pengaturan diet Anda benar. Konsumsi sayur dan buah dalam jumlah tepat akan membantu suksesnya program Anda dalam menurunkan berat badan. Sayur dan buah mengandung serat yang tinggi, terutama serat tidak larut.

Konsumsi serat tinggi dapat membantu mempertahankan rasa kenyang yang lama, sehingga mencegah konsumsi karbohidrat, gula dan lemak. Sebab, ketiganya dapat menyebabkan Anda semakin gemuk.

Selain itu, buah dan sayur yang dianggap sebagai makanan kalori negatif juga mengandung banyak air. Konsumsi air dalam jumlah cukup amat penting untuk penurunan berat badan serta membantu memaksimalkan metabolisme di dalam tubuh. Bila kekurangan cairan, metabolisme tubuh akan berjalan lebih lambat, begitu pula dengan penurunan berat badan.

  • Fakta 3 : Konsumsi makanan kalori negatif artinya tidak perlu lagi berolahraga

Salah. Walaupun namanya kalori negatif dan seolah-olah memiliki efek membakar kalori seperti olahraga, bukan berarti Anda boleh mengabaikan olahraga. Dalam program menurunkan berat badan, olahraga wajib dilakukan, terutama jenis kardio seperti lari, bersepeda dan berenang.

Tren diet dengan makanan kalori negatif boleh saja dicoba sebagai salah satu menu diet Anda. Namun, agar upaya menurunkan berat badan bisa sukses, kurangi konsumsi gula dan lemak, sertaperbanyak konsumsi sayur dan buah. Terakhir, cukupi kebutuhan cairan, dan jangan lupa olahraga minimal 4 kali seminggu dengan durasi setidaknya 45 menit setiap berolahraga. Selamat mencoba!

[NP/ RVS]