Anak Terlambat Imunisasi Difteri, Apa yang Harus Dilakukan?

Oleh dr. Resthie Rachmanta Putri. M.Epid pada 09 May 2019, 14:40 WIB
Karena satu dan lain hal, anak terlambat imunisasi difteri. Apa saja yang harus orang tua lakukan?
Anak Terlambat Imunisasi Difteri, Apa yang Harus Dilakukan? (Fahnur-Jingga/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Vaksin difteri merupakan salah satu jenis imunisasi yang sangat penting diberikan untuk bayi dan anak di Indonesia. Ini karena penyakit infeksi menular tersebut belum sepenuhnya musnah. Sehingga, peran vaksin begitu krusial untuk melindungi bayi dan anak dari penularan penyakit mematikan tersebut. Nah, jika karena satu dan lain hal anak terlambat imunisasi difteri, apa yang harus orang tua lakukan?

Pertama-tama, ketahuilah bahwa vaksin difteri dibutuhkan agar anak memiliki kekebalan tubuh (antibodi) yang cukup terhadap penyakit tersebut. Imunisasi tak hanya cukup diberikan satu kali, tetapi harus berulang.

Jadwal imunisasi difteri untuk anak

Berdasarkan jadwal imunisasi dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) pada tahun 2017, imunisasi difteri dalam bentuk vaksin DPT (difteri, pertusis, dan tetanus) diberikan pada saat anak berusia 2 bulan, 4 bulan, kemudian 18 bulan dan 5 tahun.

Selanjutnya, imunisasi dilanjutkan dalam bentuk vaksin Td (tetanus dan difteri) pada usia 10 dan 18 tahun.

Ya, jadwal imunisasi difteri memang cukup intensif. Belum lagi imunisasi penting lainnya seperti hepatitis B, polio, Haemophilus influenzae tipe B (Hib), BCG, dan sebagainya.

Banyaknya imunisasi serta kondisi kesehatan anak yang tak selalu dalam keadaan prima menyebabkan imunisasi sering kali tak bisa dilakukan sesuai jadwalnya.

Bagaimana jika anak terlambat imunisasi difteri?

Penanganan untuk anak yang terlambat menerima imunisasi berbeda-beda, tergantung jenis imunisasi apa yang terlambat. Untuk difteri, jika terlambat diberikan, imunisasi tak perlu diulang dari awal. Yang perlu dilakukan adalah tetap melanjutkan imunisasi tersebut sesuai jadwal.

Sebagai contoh, anak menerima vaksin DPT pertama pada usia 2 bulan. Jadwal vaksin DPT kedua adalah pada usia 3 bulan, tetap saat hari imunisasi ia sedang sakit sehingga tak memungkinkan untuk menerika vaksin. Jika usia anak sekarang 4 bulan, maka orang tua harus segera membawanya ke fasilitas kesehatan terdekat untuk menerima vaksin DPT yang memang juga harus diberikan saat ia berusia 4 bulan.

Vaksin kombinasi untuk mengurangi masalah keterlambatan imunisasi

Lalu bagaimana jika anak belum pernah imunisasi difteri saat usianya kurang dari 12 bulan?

Jika anak sudah berusia di atas 1 tahun dan belum pernah menerima imunisasi difteri, maka segera lakukan vaksin DPT sesuai dengan jumlah dan interval seperti yang seharusnya ia terima saat bayi. Yakni, tiga kali imunisasi DPT dengan jeda masing-masing satu bulan.

Selanjutnya, pemberian vaksin DPT keempat harus sebisa mungkin diberikan sebelum anak berulang tahun ke-4, sedangkan vaksin DPT kelima paling cepat diberikan enam bulan sesudah imunisasi keempat.

Dalam rentang usia 0-12 bulan, si Kecil harus mendapatkan paling tidak delapan imunisasi: DPT, BCG, hepatitis B, polio, Hib, PCV, dan campak dalam 16 kali suntikan. Banyaknya vaksin bisa menyebabkan imunisasi terlambat diberikan.

Untuk membantu mengatasi masalah tersebut, tersedia vaksin kombinasi. Salah satunya adalah vaksin kombinasi antara DPT, hepatitis B, dan Hib, yang diberikan dalam satu kali suntikan. Baik vaksin tunggal maupun kombinasi memiliki potensi, keamanan, dan efektivitas yang sama secara ilmiah.

Jangan langsung panik ketika anak terlambat imunisasi difteri. Tetap bawa anak ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mengejar imunisasinya yang terlambat, dengan mempertimbangkan hal-hal di atas. Dengan melengkapi semua jenis imunisasi wajib, diharapkan kekebalan tubuh anak menjadi optimal, sehingga dapat melindunginya dari berbagai penyakit menular yang bisa mematikan.

(RN/ RVS)